Naskah Tersimpan Rapi di Surau, Saksi Bisu Masa Lalu

Rasakan kedamaian dan kebijaksanaan dari surau tua di Minangkabau. Di dalamnya tersimpan naskah kuno yang mengajarkan pentingnya menjaga ilmu dan ....

Oleh A’dilla Ahmad

Dari luar, surau tampak sederhana dengan dinding putih yang mulai kusam, berpadu dengan cat kuning dan hijau pada pintu serta tiang penyangga. Begitu melangkah ke dalam, suasana teduh langsung terasa meski bangunannya sudah cukup tua. Sajadah panjang terbentang di lantai, warnanya kusam dimakan waktu. Di sudut ruangan, tiga orang duduk dengan tenang: seorang ibu tua, seorang bapak sepantarannya, dan seorang anak laki-laki berusia sekitar 15 tahun. Kehadiran mereka seakan menjadi penjaga tradisi di balik kesederhanaan bangunan. Surau ini bukan sekadar rumah ibadah, tetapi ruang yang menyimpan cerita dan naskah kuno, saksi bisu perjalanan waktu.

Naskah Tersimpan Rapi di Surau, Saksi Bisu Masa Lalu

Sejak dahulu, surau di Minangkabau memiliki fungsi yang lebih luas daripada tempat salat berjamaah. Ia menjadi pusat belajar agama, tempat anak-anak mengaji, ruang berkumpul orang tua, bahkan persinggahan bagi siapa pun yang melewati kampung. Meski tampak sederhana, surau selalu menyimpan jejak kehidupan dan menghadirkan kehangatan. Di balik dindingnya yang mulai menua, sering kali tersimpan warisan berupa naskah lama yang dijaga dengan penuh rasa hormat oleh masyarakat setempat.

Salah satu jejak itu ditemukan dalam sebuah kunjungan mahasiswa ke Surau Baru. Dari luar, bangunan tampak tenang dengan cat putih yang memudar, namun di dalamnya tersimpan naskah berusia puluhan tahun. Penjaga surau memperlihatkannya dengan penuh kehati-hatian. Meski kertas sudah rapuh dan menguning, tulisan Arab Melayu di dalamnya masih tampak jelas. “Bentuk naskah kuno yang kami lihat di Surau Baru ini sangat unik. Tulisannya masih jelas meskipun kertasnya rapuh. Rasanya seperti kembali ke masa lalu,” ujar Dila, salah seorang mahasiswa yang ikut dalam kunjungan itu.

Naskah tersebut bukan sekadar lembaran usang, melainkan kumpulan ilmu yang berharga. Huruf-hurufnya tersusun rapi, tinta hitam yang dipakai sebagian masih kuat, sementara beberapa bagian ditandai tinta merah sebagai penekanan. Dari keterangan narasumber, isi naskah tersebut adalah ilmu fikih, pengetahuan yang pernah menjadi pegangan utama masyarakat dalam menjalani kehidupan beragama. Meskipun tidak ada mahasiswa yang benar-benar mampu membaca keseluruhan teks, rasa penasaran mendorong mereka untuk memotret, mencatat, dan mendiskusikannya.

Momen ketika naskah ditutup kembali menjadi pengalaman yang menyentuh. Dengan hati-hati, penjaga surau membungkusnya dalam kain putih, mengikatnya, lalu menaruhnya di atas tumpukan buku di dalam lemari kayu. Cara penyimpanan yang sederhana itu justru menyiratkan rasa hormat mendalam. Mahasiswa yang hadir menyadari, betapa besar usaha masyarakat menjaga warisan meski dengan sarana terbatas. Dari situ, mereka belajar bahwa merawat pengetahuan tidak selalu membutuhkan fasilitas modern, cukup dengan kesungguhan hati agar sejarah tetap hidup.

Namun, keberadaan naskah seperti ini juga menghadapi tantangan. Kertas yang rapuh, tinta yang mulai pudar, dan minimnya perhatian dari banyak pihak membuatnya rentan hilang ditelan waktu. Di sinilah peran generasi muda dan akademisi sangat penting, baik melalui penelitian, dokumentasi, maupun upaya pelestarian. Naskah di surau adalah jejak peradaban yang menyatukan agama, adat, dan pengetahuan. Tanpa kepedulian, khazanah berharga ini akan lenyap, padahal di dalamnya tersimpan ingatan kolektif bangsa.

Kunjungan ke Surau Baru menghadirkan kesadaran bahwa warisan budaya tidak selalu tersimpan di museum besar, tetapi juga hidup di ruang-ruang kecil yang sederhana. Naskah kuno yang tersimpan rapi di surau adalah saksi bisu perjalanan ilmu, iman, dan tradisi masyarakat. Walaupun sebagian besar dari kita belum mampu membacanya, usaha menjaga dan merawatnya sudah merupakan langkah berharga. Merawat naskah berarti merawat ingatan, dan dari sanalah kita belajar untuk lebih bijak melangkah ke masa depan. Semoga generasi muda terus peduli, agar suara masa lalu tetap bisa didengar oleh generasi yang akan datang.

Daftar Referensi:

  • Wawancara dengan penjaga Surau Baru, Sumatera Barat, mengenai naskah kuno berisi ilmu fikih, September 2025.
  • Pernyataan mahasiswa peserta kunjungan, saat kunjungan ke Surau Baru, September 2025.
  • Observasi langsung mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia pada kunjungan ke Surau Baru, Sumatera Barat, September 2025.

Biodata Penulis:

A’dilla Ahmad, lahir pada tanggal 16 Juli 2006 di Palembang, saat ini aktif sebagai mahasiswi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, di Universitas Andalas.

© Sepenuhnya. All rights reserved.