Oleh Iftita Aslucha
Pernah nggak sih merasa harus terus berprestasi biar nggak dianggap gagal? Nilai harus bagus, aktif di organisasi, tapi juga tetap punya hidup yang “aesthetic” buat media sosial. Di luar kelihatannya kayak hidup produktif, tapi di dalam kepala rasanya penuh tekanan. Nah, itulah yang banyak dialami remaja perempuan sekarang, yaitu terjebak di antara keinginan buat jadi sempurna dan rasa takut kalau gagal sedikit saja.
| source: Pinterest |
Menurut penelitian Jiandong Sun (2012), stres akademik muncul karena beban belajar yang berat, tekanan dari guru dan orang tua, dan rasa takut mengecewakan. Semua itu membuat kepala penuh, tidur nggak nyenyak, dan motivasi belajar malah turun. Hal yang sama juga kelihatan di penelitian Sorrenti et al. (2024) mereka bilang perfeksionisme itu bisa jadi pedang bermata dua. Kalau dipakai buat memotivasi diri, bagus. Tapi kalau fokusnya cuma ke “aku nggak boleh gagal”, hasilnya malah stres, burnout, dan merasa diri nggak cukup.
Yang membuat makin berat, dunia sekarang tuh serba berlomba-lomba untuk menjadi sempurna. Lihat teman upload nilai sempurna, atau study vlog dengan meja rapi dan jam belajar panjang, tiba-tiba muncul pikiran, “kenapa aku nggak kayak dia ya?” Nah, inilah yang disebut social comparison atau teori perbandingan sosial (Festinger, 1954) — kebiasaan mengukur diri pakai standar orang lain. Ditambah lagi, menurut teori konformitas (Asch, 1956), manusia cenderung menurut sama norma kelompok biar diterima. Jadi, pas semua orang di sekitar keliatan “produktif dan berprestasi”, kita juga ikut-ikutan meskipun capek sendiri. Dari sisi lain, teori identitas sosial (Tajfel & Turner, 1979) berpendapat kalau kita merasa berharga kalau bisa mempertahankan citra diri di kelompok, misalnya sebagai “anak pintar” atau “siswi berprestasi”. Tapi kalau gagal, langsung merasa diri sendiri kurang berguna.
Semua teori itu menunjukkan satu hal yaitu stres akademik dan perfeksionisme itu bukan cuma soal kepribadian, namun juga hasil tekanan sosial. Riset Oktavia dan Mustikasari (2025) menemukan kalau lebih dari separuh remaja mengalami stres akademik tingkat sedang, tapi mereka yang bisa ngatur emosi lebih baik bisa bertahan dan tetap berkembang. Artinya, bukan harus berhenti berusaha, tapi belajar buat balance antara pengen jadi terbaik dan pengen tetap waras.
Di dunia yang makin kompetitif ini, kita perlu ingat bahwa kita nggak harus sempurna buat bisa berharga. Belajar boleh capek, tapi jangan sampai kehilangan diri sendiri. Kadang, versi “cukup baik” dari kita sudah lebih dari cukup.
Biodata Penulis:
Iftita Aslucha lahir pada tanggal 25 April. Saat ini aktif menempuh pendidikan di Universitas Sebelas Maret, program studi Psikologi. Ia memiliki hobi menulis dan berjalan-jalan menyusuri Kota Solo di waktu senggang serta gemar mengabadikan momen melalui foto atau video. Menulis juga menjadi salah satu kegemaran selepas penat mengerjakan tugas-tugas. Baginya, menulis bisa membantu menguraikan isi kepala yang berantakan.