Puisi: Berat (Karya Nasjah Djamin)

Puisi “Berat” karya Nasjah Djamin merupakan potret tentang keteguhan manusia menghadapi penderitaan tanpa menyerah dan tanpa berharap belas kasihan.

Berat

Walaupun retak berderak
sudah tulang putus pinggang
gemetar lutut, perih berat:
tahankan! Tahan erat-erat: dicampak
jangan beban yang kaupikulkan
ke pundakmu. Jangan melihat

lihat tangan yang akan terulur
memberi bantuan: itu keliru.

Perempuan penjaga arang
yang bertatah terbungkuk bagai
kuda beban di terik panas
pun tak melenas erang
melangkah terus (mungkin sampai
jatuh) tak seorang pun

ingin memikul beban berat
dari punggungnya, dan ia pun
tak harap. Ringan berat:
kekuatan lahir batin
berada di dalam dirinya sendiri!

Sumber: Seniman (Th. II, No.2, Mei 1947)

Analisis Puisi:

Tema utama puisi ini adalah keteguhan dan kekuatan diri menghadapi penderitaan hidup. Nasjah Djamin mengangkat perjuangan manusia — khususnya kaum pekerja atau perempuan kecil — dalam menanggung beban kehidupan tanpa mengeluh, tanpa menunggu belas kasihan, dan tetap tegar berdiri di tengah kerasnya dunia.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang menanggung penderitaan dan beban hidup dengan kekuatan pribadi. Bagian awal menggambarkan kondisi fisik yang sudah hampir hancur — “retak berderak”, “tulang putus pinggang”, “gemetar lutut” — namun tokoh dalam puisi tetap menahan beban itu dengan tekad luar biasa.

Penyair lalu menghadirkan sosok perempuan penjaga arang, simbol pekerja keras yang tetap berjuang di tengah panas dan derita. Ia tidak mengeluh, bahkan tidak mengharapkan pertolongan siapa pun. Dari sana, penyair menegaskan bahwa kekuatan sejati tidak datang dari luar, tetapi dari dalam diri.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah pesan tentang kemandirian, keteguhan hati, dan keberanian menghadapi penderitaan tanpa bergantung pada orang lain. Nasjah Djamin seolah ingin menyampaikan bahwa hidup memang keras dan penuh beban, tetapi manusia memiliki kekuatan batin untuk menanggungnya.

Sosok perempuan penjaga arang adalah lambang dari kerja keras kaum kecil yang tak pernah mendapat sorotan, namun justru memiliki kekuatan moral dan fisik luar biasa. Puisi ini juga mengandung kritik sosial halus: bahwa penderitaan kaum pekerja sering diabaikan, sementara mereka tetap menjalani hidup tanpa menuntut belas kasihan.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini terasa tegang, getir, dan heroik.
  • Getir karena menggambarkan penderitaan dan kelelahan yang berat.
  • Tegang karena ada dorongan untuk “tahan erat-erat” di tengah ancaman kehancuran.
  • Heroik karena menunjukkan semangat juang manusia yang luar biasa, terutama dari sosok perempuan yang tidak menyerah walau tubuhnya nyaris roboh.
Suasana ini menggerakkan empati pembaca dan membangkitkan rasa hormat terhadap mereka yang bertahan di tengah kesulitan hidup.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Puisi ini menyampaikan beberapa amanat penting:
  • Kekuatan sejati datang dari dalam diri, bukan dari belas kasihan orang lain.
  • Jangan mudah menyerah meski tubuh dan jiwa terasa rapuh.
  • Setiap penderitaan adalah ujian yang menyingkap ketangguhan batin manusia.
  • Hargailah orang-orang kecil yang bekerja keras dalam diam, karena mereka sering menjadi lambang keteguhan sejati.
Melalui sosok perempuan penjaga arang, penyair mengajarkan bahwa ketegaran adalah bentuk tertinggi dari keberanian dan martabat.

Imaji

Puisi ini sangat kaya dengan imaji visual dan kinestetik:
  • “Retak berderak, tulang putus pinggang, gemetar lutut” → imaji fisik, menghadirkan tubuh yang lemah namun berjuang.
  • “Perempuan penjaga arang bertatah terbungkuk bagai kuda beban di terik panas” → imaji visual dan gerak, menggambarkan kerja keras dan penderitaan yang nyata.
  • “Melangkah terus (mungkin sampai jatuh)” → imaji kinestetik, menegaskan gerak tanpa henti meski di ambang kejatuhan.
Imaji-imaji ini memperkuat tema ketabahan dan menggugah rasa empati pembaca terhadap sosok yang digambarkan.

Majas

Beberapa majas yang menonjol dalam puisi ini antara lain:

Metafora:
  • “Beban yang kaupikulkan ke pundakmu” menjadi lambang penderitaan hidup.
  • “Perempuan penjaga arang bertatah terbungkuk bagai kuda beban” menyimbolkan manusia pekerja keras yang menanggung beratnya kehidupan.
Simile (perumpamaan):
  • “Bagai kuda beban di terik panas” memperjelas gambaran fisik dan penderitaan tokoh puisi.
Hiperbola:
  • “Tulang putus pinggang, gemetar lutut” memperkuat kesan betapa berat beban yang dipikul.
Personifikasi:
  • “Retak berderak” memberi kesan seolah tubuh manusia menjadi benda yang menanggung tekanan luar biasa.
Majas-majas ini membuat puisi terasa hidup, keras, namun juga indah dalam kesederhanaannya.

Puisi “Berat” karya Nasjah Djamin merupakan potret tentang keteguhan manusia menghadapi penderitaan tanpa menyerah dan tanpa berharap belas kasihan. Melalui gambaran seorang perempuan penjaga arang, penyair menegaskan bahwa kekuatan sejati tidak bergantung pada bantuan orang lain, melainkan tumbuh dari keberanian batin untuk terus melangkah.

Dengan imaji yang kuat dan bahasa yang tajam, puisi ini menjadi refleksi universal tentang martabat manusia yang tetap tegak di tengah kelelahan dan penderitaan hidup.

Nasjah Djamin
Puisi: Berat
Karya: Nasjah Djamin

Biodata Nasjah Djamin:
  • Nasjah Djamin lahir pada tanggal 24 September 1924 di Perbaungan, Sumatera Utara.
  • Nasjah Djamin meninggal dunia pada tanggal 4 September 1997 (pada usia 72) di Yogyakarta.
© Sepenuhnya. All rights reserved.