Puisi: Sahabatku (Karya Soekri St.)

Puisi “Sahabatku” karya Soekri St. mengangkat nilai kemanusiaan melalui tindakan seorang anak yang rela mengorbankan pesta kelulusannya demi ...

Sahabatku

Papa,
Sebelum pesta berlangsung
Izinkan aku menengok ke belakang
Di sana sahabatku yang miskin
Hidup dengan berjualan koran

Papa,
Dia teman sekelasku
Juga lulus dalam ujian
Nilainya yang tinggi
Sangat kusayangkan

Kini
Aku minta kesediaan papa
Menyerahkan biaya pestaku
Untuk meringankan ongkos
Masuk sahabatku di SMA

Sumber: Pelita (Th. VII, 9 Januari 1980)

Analisis Puisi:

Puisi “Sahabatku” karya Soekri St. menghadirkan kisah sederhana namun sarat makna tentang persahabatan, empati, dan kemanusiaan. Melalui suara seorang anak yang berbicara kepada ayahnya (Papa), penyair menyampaikan pesan moral yang dalam tentang pentingnya menempatkan kepedulian di atas kemewahan pribadi. Meskipun ditulis dengan gaya yang lugas, puisi ini berhasil menyentuh sisi emosional pembaca dan mengajarkan nilai sosial yang universal.

Tema

Tema utama dalam puisi ini adalah persahabatan dan kepedulian sosial. Penyair mengangkat nilai kemanusiaan melalui tindakan seorang anak yang rela mengorbankan pesta kelulusannya demi membantu sahabatnya yang kurang mampu. Tema ini menunjukkan bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu terletak pada perayaan pribadi, melainkan pada keikhlasan berbagi dan solidaritas terhadap sesama.

Tema ini juga mencerminkan konflik antara kepentingan pribadi dan kepedulian terhadap orang lain, sebuah dilema moral yang sering dihadapi dalam kehidupan sosial modern.

Puisi ini bercerita tentang seorang anak yang meminta kepada ayahnya agar biaya pesta kelulusannya dialihkan untuk membantu sahabatnya yang miskin. Sahabat tersebut adalah teman sekelasnya, sama-sama lulus ujian, namun tidak memiliki cukup uang untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA.

Dengan bahasa yang lembut dan penuh kasih, si anak menunjukkan ketulusan hati dan rasa empatinya yang tinggi. Ia tidak ingin merayakan kesuksesannya sendiri sementara temannya harus berhenti sekolah karena keterbatasan biaya. Permintaan yang disampaikan kepada sang ayah mencerminkan nilai kemanusiaan yang murni — bahwa kebahagiaan sejati adalah ketika seseorang bisa membuat orang lain juga berbahagia.

Makna Tersirat

Makna tersirat dari puisi ini adalah pentingnya nilai kemanusiaan dan solidaritas di atas kepentingan pribadi. Penyair ingin menunjukkan bahwa ukuran keberhasilan bukanlah kemewahan atau pesta, melainkan sejauh mana manusia peduli pada sesamanya.

Selain itu, puisi ini juga mengandung kritik sosial halus terhadap kesenjangan ekonomi dan pendidikan. Sahabat yang miskin harus berjuang untuk melanjutkan sekolah, sementara yang lain memiliki kesempatan lebih baik. Namun di tengah ketimpangan itu, muncul sosok anak yang berjiwa mulia, menjadi simbol harapan bahwa kemanusiaan belum hilang.

Makna lainnya juga dapat dibaca sebagai pesan moral bagi para orang tua agar menanamkan nilai kasih, empati, dan kebersamaan kepada anak-anak sejak dini — karena karakter baik bukan terbentuk dari kekayaan, melainkan dari hati yang peduli.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini menyentuh, hangat, dan penuh empati. Nada yang digunakan penyair bersifat lembut dan reflektif, seolah benar-benar berasal dari hati seorang anak yang tulus. Pada awalnya terasa tenang dengan permintaan “menengok ke belakang”, namun suasana berubah menjadi haru ketika pembaca menyadari bahwa yang dimaksud adalah sahabat miskin yang berjuang hidup dengan berjualan koran.

Suasana ini menggugah rasa simpati dan keharuan, membuat pembaca merenungkan kembali arti kebahagiaan dan makna solidaritas dalam kehidupan sosial.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat puisi ini sangat jelas dan bermakna: kebahagiaan sejati adalah ketika kita bisa berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Penyair mengajarkan bahwa empati, kepedulian, dan persahabatan sejati lebih berharga daripada pesta dan kemewahan sementara.

Selain itu, puisi ini juga mengandung pesan moral yang kuat bagi masyarakat:
  1. Jangan menutup mata terhadap penderitaan orang lain, terutama mereka yang berjuang untuk pendidikan dan kehidupan.
  2. Orang tua hendaknya menanamkan nilai-nilai kemanusiaan kepada anak-anaknya agar mereka tumbuh menjadi generasi yang peduli dan berjiwa sosial.
  3. Persahabatan sejati tidak diukur oleh status sosial, melainkan oleh kesetiaan dan keikhlasan hati.
Dengan demikian, puisi ini tidak hanya menyentuh sisi emosional, tetapi juga menyampaikan pesan sosial yang relevan dan universal.

Imaji

Imaji dalam puisi “Sahabatku” tergolong sederhana, namun efektif dalam menggambarkan suasana dan karakter tokohnya.
  • Imaji visual: “Sahabatku yang miskin hidup dengan berjualan koran” — menghadirkan gambaran nyata seorang anak kecil yang berjuang di jalan demi kelangsungan hidup dan pendidikan. Imaji ini sangat kuat dan menggugah simpati pembaca.
  • Imaji auditif (pendengaran): “Papa, sebelum pesta berlangsung...” — kalimat ini seolah terdengar seperti suara seorang anak yang berbicara penuh harap, menambah kesan emosional dan personal.
  • Imaji emosional: Rasa haru dan empati muncul saat si anak meminta agar biaya pestanya digunakan untuk sahabatnya, menciptakan imaji batin yang lembut dan menyentuh.
Imaji-imaji tersebut membantu pembaca untuk ikut merasakan konflik batin dan ketulusan sang anak dalam puisi ini.

Majas

Soekri St. menggunakan beberapa majas sederhana namun bermakna, di antaranya:
  • Apostrof (sapaan langsung): “Papa, sebelum pesta berlangsung...” Penyair menggunakan sapaan langsung untuk memperkuat kedekatan emosional antara anak dan ayah, serta membuat puisi terasa hidup dan dialogis.
  • Repetisi: Pengulangan kata “Papa” di awal bait mempertegas kejujuran dan kesungguhan perasaan si anak. Majas ini menekankan ketulusan serta urgensi pesan yang ingin disampaikan.
  • Majas ironi (tersirat): Kontras antara “pesta” dan “sahabat miskin” menciptakan ironi sosial — menggambarkan ketimpangan antara kemewahan dan penderitaan yang hidup berdampingan.
  • Majas simbolik: “Pesta” melambangkan kebahagiaan pribadi dan kemewahan, sedangkan “berjualan koran” melambangkan perjuangan hidup dan keterbatasan. Melalui simbol ini, penyair mengajak pembaca untuk memilih nilai kemanusiaan di atas kesenangan sesaat.
Puisi “Sahabatku” karya Soekri St. adalah karya yang menyentuh hati, menggambarkan ketulusan seorang anak yang lebih memilih membantu sahabatnya daripada berpesta merayakan keberhasilan sendiri.

Dengan tema persahabatan, empati, dan kemanusiaan, puisi ini mengajarkan bahwa kepedulian terhadap sesama adalah bentuk cinta paling tinggi. Melalui bahasa yang sederhana dan imaji yang nyata, Soekri St. berhasil menghadirkan potret moral yang dalam — mengingatkan kita bahwa dalam dunia yang sering dikuasai oleh egoisme, masih ada ruang untuk ketulusan dan kasih.

Puisi ini menjadi refleksi bahwa kemanusiaan tidak diukur dari banyaknya harta, tetapi dari seberapa besar hati kita mampu berbagi dengan orang lain.

Puisi Sepenuhnya
Puisi: Sahabatku
Karya: Soekri St.
© Sepenuhnya. All rights reserved.