Langkah kaki kami melambat ketika memasuki bangunan tua yang sederhana itu. Bau khas kayu tua dan debu halus langsung menyeruak, menyambut kami seperti aroma masa lalu yang tak ingin dilupakan. Di tengah ruangan persis di depan imam saat salat, rak-rak kayu dipenuhi lembaran-lembaran naskah dengan tinta yang mulai pudar. “Tulisannya seperti berbisik, mengajak kita memahami kisah yang mereka simpan,” ujar salah seorang mahasiswa yang berdiri termangu di depan naskah bertinta hitam kecoklatan itu.
Surau, bagi masyarakat Minangkabau, lebih dari sekadar tempat ibadah. Sejak dahulu telah menjadi pusat pembelajaran, tempat generasi muda ditempa dengan nilai agama, adat, dan ilmu pengetahuan. Di sanalah para alim ulama mendidik anak-anak nagari membaca Al-Qur’an, belajar silek, dan memahami falsafah hidup “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah”. Surau adalah ruang sosial dan spiritual yang menjadi fondasi masyarakat Minang.
Di berbagai surau tradisional, salah satunya Surau Baru Pauh yang kami kunjungi, tersimpan naskah-naskah tua yang memuat kekayaan pengetahuan lokal. Naskah-naskah ini tak hanya mencatat ayat-ayat suci atau hadis, tetapi juga berisi petuah adat, doa sehari-hari, silsilah keluarga, hingga syair dan cerita hikmah. Sayangnya, sebagian besar naskah ini terlupakan, dibiarkan dalam kondisi yang semakin rapuh, tinta yang memudar, dan kertas yang lapuk oleh waktu.
Sebagai bagian dari perkuliahan Pengantar Filologi, kami mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia Universitas Andalas mendapat kesempatan untuk mengunjungi langsung Surau Baru Pauh, Padang. Kunjungan ini menjadi pengalaman nyata menghubungkan teori filologi dengan praktik pelestarian budaya. Kami disambut oleh pengurus surau yang dengan ramah membuka lemari penyimpanan naskah, yang sebagian besar ditulis dalam huruf Arab-Melayu. Kegiatan dimulai dengan pengamatan langsung terhadap fisik naskah. Kami mencatat banyak detail kecil: tinta yang menghitam, sebagian telah berubah warna menjadi kecoklatan atau nyaris tak terbaca; kertas yang menguning, bahkan robek di beberapa bagian; hingga teknik penulisan yang beragam dari satu naskah ke naskah lain.
Dalam kunjungan ini, kami juga belajar tentang pentingnya kritik teks dalam dunia filologi. Secara sederhana, kritik teks adalah upaya ilmiah untuk meneliti dan merekonstruksi naskah agar bisa dipahami dan dibaca ulang oleh generasi kini, meskipun naskah tersebut telah rusak atau memiliki versi yang berbeda. Dengan metode ini, mahasiswa dilatih tidak hanya membaca tulisan lama, tetapi juga memahami konteks penulisan, membandingkan versi naskah, serta menilai keautentikan isi.
Salah satu naskah yang kami amati berisi petuah moral, nasihat atau penguatan rohani tentang amal baik, keimanan dan akhirat. Meskipun sebagian teksnya telah memudar, kami masih bisa mengambil beberapa gambar foto naskah yang jelas dari naskah tersebut untuk ditransletkan, kami tidak tahu pasti apakah benar dari transletan isi naskah tersebut atau tidak tapi sebagian besar mengarah bahwa naskah-naskah tersebut mengandung nilai-nilai luhur yang masih sangat relevan. Naskah ini bukan sekadar bacaan agama umum, tetapi kemungkinan besar termasuk dalam genre kitab At-Targhib wat-Tarhib (nasihat tentang pahala dan ancaman). Isinya mengandung motivasi untuk memperbanyak amal saleh, memperingatkan tentang fananya dunia, serta mengajak umat untuk mengingat Allah dalam setiap keadaan. Gaya bahasanya cenderung sastra religius, khas kitab-kitab pesantren atau surau kuno di Nusantara.
Namun, kondisi fisik naskah-naskah ini sangat mengkhawatirkan. Terlihat semua naskah disimpan dengan ditutupi kain putih, tanpa pelindung dari kelembapan atau suhu ekstrem. Tinta di banyak halaman telah hilang sebagian, dan tak sedikit naskah yang robek pinggirannya akibat serangga atau jamur. Situasi ini memperlihatkan bahwa tanpa perhatian dan perawatan, naskah-naskah ini perlahan akan hilang dari sejarah. Ini menjadi tantangan besar bagi dunia akademik, khususnya filologi, untuk menyelamatkan mereka sebelum terlambat.
Nilai penting naskah di surau bukan hanya pada isi tekstualnya, tetapi juga pada simbol budaya yang dikandungnya. Ia menjadi jejak pengetahuan lokal yang lahir dari masyarakat sendiri, bukan hasil terjemahan atau pengaruh luar. Doa-doa yang disusun dalam bahasa Melayu Klasik, syair tentang perilaku baik, atau nasihat dalam bentuk pantun, adalah bentuk kearifan lokal yang lahir dari kebudayaan Minangkabau itu sendiri.
Kunjungan ini membuka mata kami tentang pentingnya pelestarian naskah, bukan sekadar menyelamatkan teks, tetapi juga menyelamatkan identitas dan sejarah bangsa. Mahasiswa tidak lagi hanya menjadi pembaca buku di kelas, tetapi langsung yang bersentuhan dengan sumber primer kebudayaan. Kami belajar bahwa tinta yang memudar di rak surau bukan hanya sekadar bekas tulisan, tetapi juga simbol pengetahuan yang perlu disuarakan kembali.
Melalui kegiatan semacam ini, kami berharap semakin banyak pihak yang peduli terhadap naskah dan surau sebagai warisan budaya. Akademisi, pemerintah daerah, hingga masyarakat nagari perlu bahu-membahu menjaga peninggalan berharga ini. Sebab, seperti yang kami rasakan di Surau Baru Pauh, di balik lembar-lembar tua itu tersimpan rahasia panjang perjalanan intelektual bangsa. Dan kita semua punya peran untuk merawatnya.
Biodata Penulis:
Tara Agustina, lahir pada tanggal 14 Agustus 2005 di Solok, saat ini aktif sebagai mahasiswa, prodi Sastra Indonesia, di Universitas Andalas.