Oleh Fitri Salma Nur Azizah
Jam menunjukkan pukul delapan malam. Bulan tampak bulat sempurna di langit Surakarta. Aku duduk di pojok sebuah kafe, menatap layar laptop yang menampilkan deretan angka. Aroma kopi hazelnut menyeruak, menenangkan sekaligus menggoda. “Kayaknya aku akan fokus mengerjakan di sini,” ucapku, meyakinkan diri di tengah riuh musik galau yang mengalun pelan.
Menjadi mahasiswa memang seperti berjalan di atas tali rapuh. Tugas datang silih berganti, dari esai hingga makalah yang harus dikirim sebelum tengah malam. Belum lagi perhitungan rumit di mata kuliah Matematika Ekonomi yang seolah menertawakan kemampuan logikaku. Kadang aku berpikir, apakah produktivitas memang hanya soal kerja keras, atau juga soal menemukan tempat yang membuat otak tenang.
Di kafe kecil itu, aku mulai membuka lembar kerja. “Hem, perpaduan pas antara nugas Matematika Ekonomi dan minum secangkir hazelnut coffee,” gumamku sambil menatap angka yang menari di layar. Setiap teguk kopi seakan memberi dorongan kecil untuk terus mengetik. Entah kenapa, suasana malam seperti bersekongkol dengan aroma kafein untuk membuatku bertahan.
Namun rasa lelah tetap datang. Kepala mulai berat, angka-angka berputar seperti planet tak berorbit. “Kenapa sih matematika itu harus seribet ini, mana diterapkan di ekonomi lagi,” batinku sambil memegangi kepala. Di titik itu, aku tersadar bahwa produktivitas bukan hanya tentang menyelesaikan tugas, tapi juga tentang berdamai dengan proses. Rasa lelah, ternyata, bagian dari perjalanan menuju kepuasan.
Sebuah penelitian dari Universitas Indonesia (2024) menyebut, 73% mahasiswa mengaku lebih fokus belajar di luar rumah, terutama di kafe. Alasannya sederhana suasana yang hangat dan aroma kopi yang menenangkan membuat stres akademik berkurang. Tak heran jika banyak mahasiswa menjadikan kafe sebagai “ruang produktivitas alternatif”. Di sana, mereka tidak hanya menuntaskan tugas, tetapi juga menemukan suatu ketenangan.
Aku menatap jam, sudah hampir tengah malam. Deadline tinggal tiga puluh menit lagi. Rasanya campur aduk antara cemas, lelah, dan puas. “Huft, akhirnya selesai juga,” ucap syukurku lirih. Segelas kopi yang tadi panas kini tinggal ampas, tapi semangatnya masih terasa.
Malam itu, aku belajar sesuatu yang sederhana. Produktivitas bukan soal siapa yang paling cepat, tapi siapa yang paling mampu menikmati prosesnya. Bukan pula tentang seberapa banyak kafein yang diminum, tapi seberapa dalam seseorang menemukan ketenangan di tengah tekanan.
Kadang, rahasia produktivitas itu cuma butuh satu hal: keberanian untuk tetap duduk, menatap layar, dan menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Kopi memang tidak membuat semua masalah selesai. Namun secangkir kopi bisa membuatmu percaya, bahwa setiap deadline selalu punya cerita.
Biodata Penulis:
Fitri Salma Nur Azizah saat ini aktif sebagai mahasiswa Pendidikan Ekonomi.