Fenomena Nasional Bernama Ibu Marah karena Piring Belum Dicuci

Ikuti kisah lucu dan hangat tentang “konser piring sore hari” di rumah—drama kecil antara ibu dan anak yang begitu Indonesia. Yuk baca dan rasakan ...

Oleh Aprilia Dwi Az Zahro

Setiap rumah punya jam rawannya sendiri. Biasanya sekitar jam empat sore—saat matahari mulai malas, angin sore masuk lewat jendela dapur, dan suasana mulai berubah tanpa komando. Belum terdengar azan Magrib, tapi sudah ada denting logam dari arah wastafel. Biasanya itu tanda ada yang mulai naik pitam, dan hampir selalu… ibu.

Fenomena Nasional Bernama Ibu Marah karena Piring Belum Dicuci

Di rumah saya, awalnya semuanya damai. Televisi nyala, adik tenggelam dalam gawainya, ayah rebahan setelah kerja, dan saya sedang menikmati weekend yang cuma dua hari. Kedamaian itu biasanya tak bertahan lama. Dari dapur, suara piring mulai berisik seperti orkestra tanpa konduktor.

Drama Wastafel Sore Hari

Semua orang tampak sibuk: sibuk nonton, sibuk main HP, sibuk rebahan. Sementara ibu mondar-mandir memandang wastafel dengan ekspresi semakin rumit. Sampai akhirnya ledakan kecil terjadi: “Lucu, ya. Semua bisa makan, tapi nggak semua mau mencuci.” Dan memang, piring itu belum dicuci sejak pagi. Sarapan dan makan siang menumpuk seperti monumen keacuhan kolektif. Kami seolah menunggu peri rumah tangga datang diam-diam membereskan semuanya. Padahal yang muncul jelas ibu—dengan celemek, sabun, dan ekspresi jengkel khas ibu-ibu Indonesia.

Ternyata Ini Fenomena Nasional

Anehnya, drama ini bukan eksklusif milik keluarga saya. Di TikTok, X, sampai grup WhatsApp keluarga, topik “konser piring sore hari” selalu muncul. Teman saya pernah bilang: “Ternyata konser piring nasional ini udah jadi budaya, ya.” Saya ketawa, tapi di dalam hati mengiyakan. Nada kemarahan setiap rumah pun mirip—hanya beda tempo dan volume.

Kenapa Selalu Ibu?

Kadang saya bertanya, kenapa suara piring kotor selalu identik dengan ibu? Seolah dapur adalah panggung abadi perempuan, tempat segala beban rumah tangga bersuara paling keras. Padahal yang makan satu rumah, tapi yang memikul rasa bersalah selalu satu orang.

Bagi ibu, piring kotor bukan cuma alat makan. Itu simbol: rumah belum beres, tanggung jawab belum tuntas, anak belum beradab. Kalimat favoritnya: “Punya anak perempuan tapi nggak mau bantu cuci piring, kebangetan banget.” Dan entah mengapa, denting logam saat sendok dibanting itu lebih nyesek daripada bentakan.

Marahnya Ibu Bukan Soal Piring Saja

Saya tahu, marahnya bukan semata soal piring. Itu tentang lelah yang menumpuk, tentang ingin dimengerti tanpa harus meminta. Tapi di sisi lain, saya juga lelah. Kuliah lima hari penuh, weekend pengin rebahan, eh malah diserang piring kotor. Pernah saya curhat ke teman: “Mau menikmati libur aja ada dramanya.” Teman saya jawab santai, “Ya bantu aja dua menit, kelar.”

Iya sih. Tapi dua menit itu bisa terasa dua jam kalau niatnya belum muncul dari hati. Biasanya hati baru muncul setelah mendengar denting piring keempat. Ibu juga sering bilang: “Ibu nggak bisa tenang kalau dapur masih kotor.” Dan itu benar. Ibu bisa menunda makan, tapi tidak bisa menunda beres-beres. Sementara saya bisa makan di tengah kekacauan piring, tapi langsung gelisah kalau dengar ibu mulai ngomel. Kami sama-sama capek, tapi untuk alasan berbeda.

Ritual Sore yang Terulang Setiap Hari

Sore itu selalu ditutup dengan pemandangan klasik: ibu mencuci sambil mengomel kecil, saya berdiri di belakang dengan ekspresi menyesal setengah hati. Denting piring jadi melodi sore yang tak pernah absen tiap akhir pekan. Ada rasa bersalah, tapi juga ada tawa dalam hati—karena kemungkinan besar besok sore akan terulang lagi.

Pelajaran Kecil di Balik Piring Kotor

Dari semua drama dapur itu, saya belajar sesuatu. Kadang piring kotor cuma alasan untuk bicara—untuk saling diperhatikan. Ibu ingin didengar, anak ingin dimengerti. Dan piring di antara mereka jadi korban abadi. Lucu, hangat, dan sangat Indonesia. Mungkin sebelum kita bisa beresin hidup, kita memang harus beresin piring dulu.

© Sepenuhnya. All rights reserved.