Kami Bukan Pelit, Kami Cuma Punya Skala Prioritas: Curhat Anak Ekonomi

Penasaran kenapa mahasiswa ekonomi dicap pelit? Ikuti cerita seru dan relate tentang kebiasaan hemat, logika rasional, dan hidup penuh perhitungan.

Oleh Aprilia Dwi Az Zahro

Mahasiswa ekonomi itu unik. Di kampus, kami sering terlihat sibuk menghitung—di kelas, di kafe, bahkan di Excel. Tapi entah kenapa, status kami di mata orang lain bukan sekadar mahasiswa. Kami dianggap kalkulator berjalan yang siap menolak traktiran dan menawar harga parkir. Kadang saya mikir, kok jurusan ekonomi kesannya seperti pelatihan nasional hidup hemat? Padahal, kami cuma belajar sesuai jurusan.

Curhat Anak Ekonomi

Anak Ekonomi dan Kebiasaan Menghitung Segala Hal

Kami memang nggak bisa lepas dari hitung-hitungan. Semua diukur, bahkan pengeluaran buat kopi sachet sekalipun. Di tongkrongan, kami dikenal sebagai “yang paling sadar harga.” Teman pesan kopi 25 ribu, kami cuma nyeruput air putih sambil santai bilang: “Nggak apa-apa, yang penting nongkrong.” Kami memang sering mengaitkan apa pun dengan uang. Harga bensin naik, biaya hidup naik, tapi cinta stagnan—kami selalu punya punchline ekonomi. Tapi itu bukan berarti kami diperbudak angka. Kami cuma realistis.

Stereotip yang Terbentuk dari Pengetahuan Dasar

Masalahnya, orang sering kebablasan menilai. Anak ekonomi dianggap pelit. Katanya, “Seratus rupiah aja dihitung.” Atau, “Udah, biar anak ekonomi aja yang ngitung. Kan jagonya irit.” Seolah-olah kemampuan kami cuma berkisar pada penghematan, bukan pengelolaan. Padahal kami cuma menerapkan ilmu kelas: “Ekonomi itu mengalokasikan sumber daya terbatas untuk kebutuhan tak terbatas.” Sumber daya kami? Uang saku yang kadang seret di minggu ketiga. Jadi wajar kalau kami mikir dua kali sebelum beli hal yang tidak penting.

Kami Bukan Perhitungan—Kami Efisien

Lucunya, sikap hemat kami sering dianggap “keterlaluan.” Padahal justru itu poin menariknya. Kami tahu breakeven point tiap pengeluaran. Kami tahu kapan harus beli, kapan harus nahan. Teman beli sepatu diskon 10 persen. Kami nunggu diskon 50 persen. Bukan pelit, tapi efisien. Karena kalau bisa irit, kenapa harus buru-buru bangkrut? Tapi jelas, tidak semua anak ekonomi begitu. Banyak juga yang royal kalau tujuannya jelas. Kami bisa hemat untuk diri sendiri, tapi dermawan untuk hal-hal penting. Hemat buat kami bukan menahan diri, tapi menata prioritas.

Kesadaran Finansial yang Salah Kaprah

Teman saya pernah bilang: “Kita ini bukan pelit, cuma sadar nilai uang.” Dan saya setuju.

Kadang yang dianggap “perhitungan” itu cuma bentuk kewaspadaan finansial. Kalau di kelas kami belajar marginal utility, di dunia nyata kami belajar menahan diri dari checkout Shopee tengah malam. Tapi citra hemat itu sudah kadung melekat. Kalau lagi makan bareng dan ada tagihan datang, semua mata otomatis mengarah ke kami: “Udah, kamu aja yang bagi rata.” Kami tersenyum sambil mikir, “Iya sih, tapi kami bukan kasir abadi, kan?”

Diskon: Naluri Akademik Anak Ekonomi

Soal diskon, kami juga sering disalahpahami. Katanya terlalu semangat berburu promo. Padahal itu cuma naluri akademik. Diskon bukan sekadar potongan harga—itu efisiensi pasar versi mahasiswa ekonomi. Cashback 20 persen?

Masa iya dilewatkan. Itu bukan pelit. Itu rational choice.

Hemat: Dibenci Saat Miskin, Dipuji Saat Kaya

Kadang kami heran kenapa hemat dianggap negatif. Orang kaya hemat dibilang bijak. Mahasiswa ekonomi hemat dibilang pelit. Padahal konsepnya sama: sesuaikan pengeluaran dengan kemampuan. Dengan uang saku terbatas dan kebutuhan segunung, hemat itu bukan pilihan—itu strategi bertahan hidup. Teman saya pernah bercanda: “Anak ekonomi itu bukan pelit, cuma realistis dalam penderitaan.” Saya ngakak, tapi kok ya benar.

Hidup Mahasiswa dan Manajemen Risiko

Kami juga pengin foya-foya, nongkrong tanpa mikir saldo, atau jajan tanpa membuka aplikasi mobile banking dulu. Tapi kami tahu konsekuensinya. Dan itu yang bikin anak ekonomi kelihatan kaku: bukan karena pelit, tapi karena sadar risiko, bahkan dalam urusan jajan. Pada akhirnya, hemat bukan penolakan kebahagiaan. Hemat itu penundaan kejatuhan finansial. Kami bukan pelit—kami cuma tahu skala prioritas. Karena orang yang bisa mengatur uang receh hari ini, biasanya siap menghadapi nol tambahan di masa depan.

Lagipula, lebih baik dicap pelit daripada kehabisan uang di tanggal 15. Karena di akhir bulan, yang tertawa bukan yang boros—tapi yang masih punya saldo buat beli Indomie.

© Sepenuhnya. All rights reserved.