Oleh Elza Lidya
Pulang kuliah, perut sudah ribut kayak grup kelas yang isinya pengumuman dadakan. Gerobak siomay langganan berdiri setia seperti warisan budaya kampus yang tak pernah pindah tempat. Aku menghampirinya dengan keyakinan khas anak zaman sekarang selama HP masih bisa nyala. Hidup akan baik-baik saja. Uang tunai terasa seperti barang museum, sering disebut tapi jarang disentuh.
Pesanan langsung di buatkan dengan cepat dan aromanya langsung bikin iman goyah. Aku merogoh tas sambil sok santai, seolah-olah tak mungkin semesta mengecewakan niat jajan manusia baik ini. Tapi dompet tidak muncul juga, seperti pesan chat yang cuma centang satu. Di situlah aku ingat aku hidup di zaman QRIS. Jurus anak nontunai pun keluar dengan suara berwibawa, “Pak, bisa QRIS?” Bapaknya mengangguk tanpa curiga, seakan berkata bahwa dunia sudah siap menyambut generasi tanpa receh. Aku pun membuka HP dengan percaya diri berlebihan.
Masalahnya datang bukan dari saldo, tapi dari semesta yang kejam. Aplikasi e-wallet tidak bisa di gunakan karena satu dosa kecil kuota habis. HP-ku hidup, tapi jiwanya tidak tersambung ke dunia. Aku merasa seperti warga negara tanpa KTP di tengah kantor kelurahan. Dengan suara setengah pasrah, aku jujur pada bapak itu bahwa kuota aku tidak punya kuota. Ia lalu menjawab santai seperti tokoh sinetron paling baik sedunia, “Di bawa dulu aja mba besok aja bayarnya.” Kalimat itu baik, tapi justru bikin aku merasa seperti tokoh figuran gagal.
Aku menolak bukan karena sok kaya, tapi karena takut jadi legenda negatif gerobak siomay. Lima ribu memang kecil, tapi rasa tak enaknya besar. Maka, aku mengeluarkan kartu terakhir yang seharusnya tidak pernah dibuka, “Pak, boleh minta hotspot?” juju raku nahan malu pas ngomong. Bapaknya mengangguk begitu saja, tanpa drama, tanpa curiga. Masalahnya, beliau tidak tahu cara mengaktifkannya. Di titik itulah aku naik kasta dari pembeli ke teknisi, dari konsumen ke pengatur jaringan tak resmi.
Kami berdiri berdampingan menghadap satu layar kecil yang kategorinya lebih sakral dari kitab suci. Jarinya ragu, jariku kepo, dan sinyal seperti bermain petak umpet. Saat hotspot akhirnya menyala, rasanya seperti menang undian hidup. Aplikasi e-wallet terbuka, scan berhasil, dan lima ribu rupiah berpindah tangan tanpa sentuhan. Aku mengucapkan terima kasih dengan nada terlalu sopan untuk ukuran beli siomay. Lapar memang hilang, tapi rasa malu masih tersisa di jaket
Dalam perjalanan pulang, aku mikir keras sambil menghitung dosa digital. Kita hidup di masa segala sesuatu bisa QR, scan, dan klik, tapi sebuah siomay bisa gagal ditransaksikan karena sinyal ngambek. Ironinya, penjual kecil sekarang bukan cuma menjual makanan, tapi juga jadi provider darurat. QRIS katanya memudahkan, tapi sering mempermalukan. Aku belajar satu hal hari itu selain saldo, kuota juga wajib dicek. Karena lapar bisa ditahan sebentar, tapi rasa malu karena ngutang sinyal, kelihatannya sulit dilupakan.
Sejak kejadian itu, aku jadi lebih hormat pada sinyal daripada pada banyak hal dalam hidup. Sebelum jajan, yang dicek bukan cuma harga, tapi juga batang sinyal di pojok layar. Satu garis terasa seperti pertanda kiamat kecil. Aku juga mulai sadar, teknologi tidak selalu membuat kita kuat, kadang justru membuat kita terlihat rapuh di depan tukang siomay. Dan mungkin di situlah letak lucunya menjadi manusia modern kita bisa bicara tentang digitalisasi dengan penuh gaya, tapi tetap gemetar saat kuota habis di waktu yang tidak pernah tepat.
Biodata Penulis:
Elza Lidya, saat ini aktif sebagai mahasiswa di Universitas Sebelas Maret.