Mandi di Umbul Kapilaler, Rasanya Kayak Nyemplung ke Galon AQUA

Healing nggak harus mahal! Yuk, rasain sejuknya Umbul Kapilaler di Klaten — sumber air sebening kaca yang ademnya nyentuh sampai pikiran. Tenang, ...

Oleh Elza Lidya

Aku cuma pengen healing murah. Nggak perlu ke Bali, ngga perlu nongkrong di coffee shop industrial yang isinya mahasiswa insecure nugas di depan laptop. Cukup pergi ke Umbul Kapilaler, sumber mata air alami di Klaten yang katanya dipakai buat pabrik AQUA. Airnya sebening kaca, ademnya kayak pelukan mantan yang sudah move on.

Di pinggir kolam ada pohon beringin yang besar banget. Jadi pas renang nggak kepanasan. Di kolamnya ada ikan-ikan kecil berenang santai kayaknya lebih kuat iman ehh, dingin daripada aku. Airnya itu sedingin nilai UTS pas dosen bilang, "Yang penting kalian sudah usaha".

Mandi di Umbul Kapilaler

Aku ke sana sendirian. Nggak ada niat riset, cuma pengen rehat sejenak dari kehidupan kuliah dan healing tipis-tipis aja. Untungnya, pas aku datang ke sana tempatnya nggak terlalu ramai. Masih asri banget dan ademnya nggak dibuat-buat. Emang nggak banyak bedanya sih dari dulu sampai sekarang. Tiketnya cuma ceban, alias sepuluh ribu saja, tapi karena aku akamsi, alias anak kampung sini. Jadi ya ..... gratis. Senyum dikit ke penjaga sudah cukup buat nyebur ke umbulnya. Itu termasuk privillage jadi warga asli, jadi wajib dimanfaatkan sebaik mungkin.

Begitu kaki kena air, semua niat healing langsung berantakan. Dingin banget, sumpah. Dingin yang nggak bisa dijelaskan pake teori suhu. Dingin yang bisa bikin pikiran langsung beku sampai ke ubun-ubun. Aku refleks narik kaki. Padahal sudah terlanjur ngomong ke diri sendiri, "Santai, kayak baru pertama kali saja."

Beberapa detik kemudian, aku sadar ini bukan air biasa. Ini air kasta tertinggi. Rasanya kayak nyemplung langsung ke galon AQUA yang masih disegel.

Orang-orang di sekitar santai aja. Ada bapak-bapak berenang gaya dada tanpa ekspresi, ibu-ibu di pinggir kolam sambil gibah yang kalau ketawa kenceng banget, dan ada bocah kecil yang nyelam bolak-balik kayak ikan cibaduyut. Sementara aku, mahasiswa yang katanya tahan begadang tiga malam, malah menggigil kayak modem kehilangan sinyal. Hadeh, malu deh sama yang katanya akamsi.

Tapi dinginnya air itu aneh. Nggak cuma di kulit, tapi di kepala juga langsung nyessss gitu. Dinginnya itu kayak bilang gini "Tenang, dunia ngga seberisik notifikasi grup WhatsApp kelasmu."

Aku duduk di pinggir kolam, masih setengah beku, liatin air yang sebening kaca. Bisa ngaca, tapi yang keliatan malah muka orang yang kurang tidur. Di pojok kolam, ada pohon beringin besar, akarnya itu besar banget bergelantungan begitu sampai ke dasar air. Aku tanyalah ke ibu-ibu di situ.

"Buk, di belakang sana ada apa, ya?" sambil nunjuk ke akar pohon.

"Ngga ada apa-apa kok," Ibuknya jawab dengan santai.

Jawabannya sederhana, tapi pikiranku malah makin penasaran. Soalnya yang bikin aku salah fokus di Umbil Kapilater tuh memang pohon beringin yang besar di pinggir kolamnya. Akar-akarnya menjuntai sampai ke air, kayak rambut yang lupa dipotong, jadinya panjang. Katanya, pohon itu sudah ada dari zaman Belanda, jadi sebelum umbulnya dikelola sudah ada tuh pohon beringinnya.

Ada ikan-ikan yang berenang di antara akar yang panjang, kadang nyenggol kaki kalau kelamaan bengong. Katanya, ikan-ikan itu nggak boleh ditangkap. Ikan-ikan bagian dari "penjaga" umbul. Aku nggak tahu maksudnya penjaga apa, tapi kesannya agak mistis yaa. Aku sih nggak puas sama jawabannya ibu tadi. Soalnya tiap kali aku nyelam dekat situ, airnya kayak lebih dingin dan warnanya lebih gelap. Beda dari bagian kolam yang lain. Ada sensasi kayak disedot, entah arus, entah karena bayangan pohon, atau memang ada rahasia yang cuma ikan-ikan tahan dingin itu yang tahu.

Pas jalan pulang, aku mikir. Mungkin memang begitu, ya. Hal-hal yang bikin penasaran dalam hidup kadang nggak perlu dicari tahu. Cukup dinikmati aja dari jauh, kayak akar beringin di Umbul Kapilaler. Tenang, tersembunyi, tapi tetap bikin airnya jernih.

Dan mungkin itu juga yang bikin aku betah di sini, tempat sederhana yang nyisain ketenangan yang nggak bisa dikemas kayak air kemasan. Kalau AQUA punya slogan "Ada yang lebih dari sekadar air," maka Umbul Kapilaler punya versinya sendiri:

"Ada yang lebih dari sekadar nyemplung."

Biodata Penulis:

Elza Lidya saat ini aktif sebagai mahasiswa Pendidikan Ekonomi.

© Sepenuhnya. All rights reserved.