Oleh Adeka Gusnanda
Ketika melangkahkan kaki menuju surau, suasana yang terasa seolah membawa kita kembali ke masa silam. Tempat ibadah yang tampak usang, naskah-naskah yang mulai rapuh dan terpisah dari lembarannya, serta lantai kayu yang berderit setiap kali diinjak, menghadirkan nuansa klasik yang penuh kenangan. Setiap langkah seakan menimbulkan kekhawatiran bahwa bangunan itu akan roboh. Di antara rak-rak kayu tua tersimpan berbagai naskah kuno berisi ajaran agama, pengobatan tradisional, dan pengetahuan lainnya.
Sebanyak sembilan orang mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia mendapatkan tugas dari dosen mereka untuk meneliti dan mengamati naskah-naskah kuno yang masih tersimpan di surau-surau sekitar Kota Padang. Mereka kemudian sepakat mengunjungi Surau Baru yang terletak di Jalan Surau Baru, Binuang Kampung Dalam, Kecamatan Pauh, Kota Padang. Setibanya di lokasi, mereka disambut dengan ramah oleh pengurus surau, Bapak Zahar. Dengan penuh keyakinan, beliau menjelaskan bahwa naskah yang tersimpan di surau tersebut telah berusia setidaknya 150 tahun. Dari deretan naskah di rak kayu tua itu, beliau memperlihatkan sebuah kain lusuh yang di dalamnya tersimpan satu naskah yang masih utuh dan terawat dengan baik.
Para mahasiswa kemudian berdiskusi dengan Bapak Zahar mengenai naskah-naskah yang tersimpan di surau tersebut. Menurut penuturan beliau, naskah-naskah itu dibawa oleh ayahnya, almarhum Muhammad Syeh Said, ketika menimba ilmu di Arab. Sepulangnya ke kampung halaman, beliau membawa sejumlah naskah dan mendirikan Surau Baru pada tahun 1905. Naskah-naskah tersebut kemudian disimpan di surau sebagai bahan pembelajaran dan penambah wawasan bagi masyarakat sekitar. Namun, setelah beliau wafat, naskah-naskah itu tidak lagi terawat hingga sebagian hilang dan rusak. Bapak Zahar hanya berhasil menyelamatkan satu naskah yang masih utuh dan menyimpannya dalam sehelai kain, sedangkan lembaran-lembaran yang telah robek beliau susun dan letakkan di dalam rak kayu.
“Saya kira suraunya baru dibangun karena namanya Surau Baru, ternyata sudah berusia lebih dari satu abad,” ujar Putri, salah satu mahasiswa, dengan nada kagum.
Ketika mahasiswa menanyakan makna dan isi dari naskah tersebut, Bapak Zahar menjelaskan bahwa naskah itu berisi tentang pengobatan tradisional. Namun, karena faktor usia, beliau sudah lupa rincian lengkapnya. Meski begitu, naskah tersebut diyakini tidak hanya memuat pengetahuan tentang obat, tetapi juga hal-hal lain yang mungkin belum diketahui secara pasti.
Naskah di surau bukan sekadar lembaran tua yang usang, melainkan warisan pengetahuan yang mencerminkan kebijaksanaan masa lalu. Di dalamnya tersimpan doa, petuah, serta nilai-nilai lokal yang tetap relevan bagi kehidupan masa kini. Sayangnya, kondisi fisik naskah sering kali rapuh—kertas menguning, tinta memudar, dan penyimpanan yang seadanya membuatnya rentan rusak. Tanpa upaya pelestarian yang tepat, peninggalan berharga ini bisa hilang selamanya.
Kunjungan ke Surau Baru memberikan pengalaman berharga bagi para mahasiswa. Mereka tidak hanya belajar tentang sejarah, tetapi juga menyentuh langsung jejak warisan budaya yang sarat makna. Melalui kegiatan seperti ini, diharapkan generasi muda semakin peduli terhadap pelestarian naskah-naskah kuno. Sebab, melalui naskah-naskah di surau, kita tidak sekadar membaca masa lalu, melainkan turut menjaga dan merawat jati diri bangsa.
Biodata Penulis:
Adeka Gusnanda saat ini aktif sebagai mahasiswa, Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, di Universitas Andalas.