Oleh Kheiva Aurelia Adnani
Perkembangan zaman membuat kehidupan manusia semakin modern dan tidak lepas dari teknologi canggih. Salah satu hasil kemajuan terbesar adalah hadirnya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Teknologi ini mampu meniru cara berpikir, berbicara, dan bertindak seperti manusia. Namun, cara setiap generasi memandang teknologi ini berbeda-beda. Generasi Baby Boomer dan Generasi X memiliki pandangan unik terhadap keberadaan AI, terutama dalam hal kepercayaan bahwa robot bisa dianggap “hidup” atau memiliki perasaan seperti manusia.
Generasi Baby Boomer lahir antara tahun 1946 hingga 1964, yaitu masa setelah Perang Dunia II ketika semangat membangun dan rasa kagum terhadap kemajuan sangat tinggi. Saat televisi dan komputer pertama kali muncul, mereka menganggapnya sebagai hal yang luar biasa. Karena terbiasa hidup di masa di mana setiap teknologi baru terasa seperti keajaiban, banyak dari mereka memandang AI sebagai sesuatu yang benar-benar hidup. Misalnya, ketika melihat robot atau hewan virtual yang bisa merespons gerakan, mereka merasa seolah benda tersebut memiliki kehidupan.
Sementara itu, Generasi X yang lahir antara tahun 1965 sampai 1980 tumbuh di masa peralihan antara dunia analog dan digital. Mereka mulai mengenal komputer, video game, dan internet. Hal ini membuat cara pandang mereka terhadap teknologi lebih terbuka dan realistis. Mereka memahami bahwa AI hanyalah sistem buatan manusia, tetapi tetap kagum pada kemampuan mesin yang bisa berpikir dan bereaksi seperti manusia. Dengan kata lain, generasi ini lebih kritis, namun masih memiliki rasa percaya dan kekaguman terhadap kecerdasan buatan.
Selain faktor waktu dan sejarah, pengaruh budaya juga berperan dalam membentuk pandangan dua generasi ini. Dalam budaya Asia, termasuk Indonesia, masih melekat kepercayaan bahwa benda dapat memiliki roh atau kekuatan tertentu. Nilai seperti ini membuat sebagian orang dari kedua generasi tersebut lebih mudah menganggap teknologi yang bisa “hidup” sebagai sesuatu yang memiliki jiwa. Misalnya, boneka atau benda tertentu dianggap memiliki kekuatan khusus, sehingga ketika melihat robot yang bisa berbicara, mereka mengaitkannya dengan hal serupa.
Cerita fiksi dan film juga memberi pengaruh besar terhadap cara berpikir mereka. Generasi Baby Boomer tumbuh dengan kisah fiksi ilmiah yang menggambarkan robot sebagai makhluk yang memiliki perasaan, seperti dalam karya Isaac Asimov atau film Star Wars. Sementara itu, Generasi X lebih sering menyaksikan film yang memperlihatkan dua sisi AI, seperti The Terminator atau STA, yang menggambarkan kecerdasan buatan bisa menolong sekaligus mengancam manusia. Karena pengaruh film-film tersebut, muncul pandangan campuran antara kekaguman dan rasa takut terhadap teknologi ini.
Selain itu, faktor emosional juga turut memengaruhi. Generasi Baby Boomer yang kini berusia lanjut tumbuh di masa hubungan sosial terasa hangat dan langsung. Ketika mereka berinteraksi dengan AI yang bisa berbicara dan memberi respons ramah, muncul rasa nyaman seolah berbicara dengan makhluk hidup. Generasi X pun memiliki kecenderungan serupa meski lebih sadar bahwa AI hanyalah alat. Di tengah kesibukan hidup modern, mereka menganggap AI bisa menjadi teman digital yang membantu aktivitas sehari-hari.
Jika dilihat dari sisi sosial, kepercayaan dua generasi ini menunjukkan bahwa manusia pada dasarnya selalu mencari kedekatan emosional, bahkan dengan benda ciptaannya sendiri. Baby Boomer memandang AI sebagai bentuk kemajuan yang hidup, sedangkan Generasi X melihatnya sebagai alat yang berguna dalam kehidupan. Walau berbeda cara pandang, keduanya sama-sama menganggap AI bukan sekadar mesin, melainkan sesuatu yang bisa diajak “berinteraksi”.
Bagi saya, kepercayaan kedua generasi ini menunjukkan bahwa pengalaman hidup dan latar budaya sangat berpengaruh terhadap cara seseorang memahami teknologi. Baby Boomer dan Gen X melihat AI bukan hanya sebagai hasil teknologi, tetapi juga sebagai bentuk hubungan antara manusia dan ciptaannya. Hal ini membuktikan bahwa di balik kemajuan teknologi yang luar biasa, manusia tetap mencari makna emosional di dalamnya.
Biodata Penulis
Kheiva Aurelia Adnani, lahir pada tanggal 26 Desember Di Bukittinggi, saat ini aktif sebagai mahasiswi, Sastra Indonesia, di Universitas Andalas. Penulis bisa disapa di Instagram @kheivaadnani