Puisi: Buku (Karya Khansa' Khoirunnisa)

Puisi “Buku” karya Khansa' Khoirunnisa bercerita tentang seseorang yang sedang menikmati malam yang tenang, sambil tenggelam dalam kenangan ...

Buku

Purnama tampak redup di cakrawala
Indurasmi melukis nan ayu kaki Bimantara
Ancala gagah menghadang bersama ratusan remang lampu
Harmonis dersik malam lembut menyapa
Jalannam lengang tenang menikmati malam

Menikmati dengan sejuta rasa
Mendalami sebuah kerinduan membara
Sebuah buku era putih biru
Yang tercipta bagai buih-buih samudra 
Buku yang telah menutup akhir dengan janarda anindhita

Analisis Puisi:

Puisi “Buku” karya Khansa' Khoirunnisa merupakan sebuah karya yang menggunakan diksi puitis dan kosakata bernuansa Sanskerta untuk menciptakan kesan magis, elegan, dan penuh imaji. Meski judulnya sederhana—Buku—puisi ini tidak berbicara tentang buku sebagai benda semata, melainkan sebagai simbol perjalanan batin, kenangan, dan penutup sebuah fase kehidupan.

Penggunaan bahasa yang indah dan berlapis membuat puisi ini kaya makna, sekaligus menghadirkan suasana malam yang berbaur dengan kerinduan mendalam terhadap sesuatu yang pernah ada—entah itu masa, seseorang, atau perasaan yang telah berlalu.

Tema

Puisi ini memiliki tema tentang kerinduan, kenangan, dan penutup sebuah fase kehidupan. Buku yang dimaksud dalam puisi bukan hanya buku fisik, tetapi metafora dari kisah masa lalu yang pernah dijalani, khususnya masa remaja atau masa "putih biru" (SMP).

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang sedang menikmati malam yang tenang, sambil tenggelam dalam kenangan terhadap sebuah masa penting dalam hidupnya, yang disimbolkan dengan “buku era putih biru”. Buku tersebut seolah menjadi wadah bagi pengalaman, rasa, dan cerita yang dulu membara, dan kini telah berakhir dengan cara yang indah namun menyisakan kerinduan.

Makna Tersirat

Beberapa makna tersirat dari puisi ini adalah:
  1. Masa lalu selalu meninggalkan jejak, meski telah berakhir, kenangan tetap membara dalam hati.
  2. Perjalanan hidup adalah buku-buku yang kita tulis, dan setiap masa memiliki warna serta akhirnya sendiri.
  3. Kerinduan tidak selalu ditujukan pada seseorang, tetapi bisa berupa kerinduan pada suasana, masa remaja, atau diri kita yang dulu.

Suasana dalam Puisi

Suasana yang dominan dalam puisi ini adalah tenang, syahdu, dan penuh kerinduan. Diksi seperti purnama tampak redup, dersik malam, remang lampu, dan lengang tenang menciptakan atmosfer malam yang sunyi namun hangat, seakan menjadi ruang batin untuk merenung.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang dapat diambil dari puisi ini antara lain:
  1. Kenangan adalah bagian penting dari perjalanan hidup, dan kita perlu menghargainya meski masa itu sudah berlalu.
  2. Setiap fase kehidupan harus dijalani dan kemudian dilepas, sebagaimana buku yang ditutup saat ceritanya selesai.
  3. Hidup terus berjalan, sehingga kita perlu menerima akhir dari sebuah kisah dengan lapang dada.

Imaji

Puisi ini kaya akan imaji, terutama imaji visual dan suasana malam:
  1. “Purnama tampak redup di cakrawala” → menciptakan gambaran langit malam bersinar lembut.
  2. “Ratusan remang lampu” → menghidupkan suasana kota atau kawasan yang diterangi cahaya samar.
  3. “Ancala gagah menghadang” → imaji visual tentang pegunungan atau kaki langit.
  4. “Buih-buih samudra” → imaji lembut dan romantik, memberikan kesan cerita yang rapuh namun indah.
Imaji tersebut memperkuat sisi estetis dan perenungan dalam puisi.

Majas

Beberapa majas yang muncul dalam puisi ini antara lain:

Personifikasi
  • “Indurasmi melukis nan ayu kaki Bimantara” → cahaya bulan digambarkan melukis, seolah-olah memiliki kemampuan manusia.
  • “Harmonis dersik malam lembut menyapa” → malam dibuat seolah hidup dan bisa menyapa.
Metafora
  • “Sebuah buku era putih biru” → buku dijadikan metafora masa remaja.
  • “Buku yang telah menutup akhir” → menggambarkan berakhirnya sebuah periode kehidupan.
Hiperbola
  • “Sejuta rasa” atau kerinduan yang “membara”, menunjukkan intensitas perasaan yang besar.
Sinekdoke
  • “Putih biru” melambangkan masa SMP.
Puisi “Buku” karya Khansa' Khoirunnisa merupakan karya yang padat imaji dan sarat makna. Dengan simbol-simbol dari alam dan diksi khas bernuansa klasik, penyair berhasil mengajak pembaca menyelami kerinduan, keindahan kenangan, serta penerimaan terhadap akhir sebuah bab kehidupan. Puisi ini mengingatkan bahwa masa lalu, seindah atau sepahit apa pun, selalu menjadi bagian penting dari perjalanan diri.

Puisi Sepenuhnya
Puisi: Buku
Karya: Khansa' Khoirunnisa

Biodata Khansa' Khoirunnisa:
  • Khansa' khoirunnisa saat ini bersekolah di SMAIT Darul Quran Mulia, Gunung Sindur.
© Sepenuhnya. All rights reserved.