Siang Bolong Malah Ketemu Malaikat Yeppeo di KRL Solo–Jogja

Pernahkah kamu mengalami pertemuan tak terduga saat naik KRL Solo–Jogja? Kisah hangat tentang perjalanan murah, obrolan ringan, dan hadirnya ...

Oleh Olivia Eka Anugerah

KRL Solo–Jogja itu seperti penyelamat sejati bagi anak kos. Terutama buat yang ingin pulang kampung tapi isi dompet tinggal selembar. Ceilah, “pulang kampung” padahal cuma dari Solo ke Klaten. Tapi tetap saja, saya merasa haru setiap pulang. Cukup bayar delapan ribu, kita sudah bisa mlipir dengan tenang sampai Jogja. Setiap perjalanan selalu punya cerita dan kali ini kisahnya agak berbeda, saya bertemu malaikat.

KRL

Yap, malaikat dalam wujud perempuan cantik yang duduk di sampingku. Bukan mantan, bukan gebetan. Tapi sosok yang entah kenapa terasa begitu hangat dan menenangkan. Di tengah gerbong yang penuh dan sesak, kehadirannya seperti oase kecil yang membuat perjalanan ini berkesan.

Stasiun Palur dan Pertemuan Tak Terduga

Bagi para komuter, Stasiun Palur memang tempat strategis untuk memulai perjalanan. Alasan klasiknya sederhana, biar dapat kursi. Saya juga berpikir begitu siang itu. Menunggu kereta sambil bermain ponsel bukan hal buruk. Sesekali terdengar tawa anak-anak dan obrolan ibu-ibu yang seperti musik latar menunggu perjalanan dimulai.

Langit mulai menghitam, tanda hujan siap turun. Untung saya sudah sampai lebih dulu. Lalu tiba-tiba, dari tengah keramaian ada suara lembut menyapa. Seorang perempuan dengan wajah yeppeo, itu istilah Korea berarti “cantik” menyapaku ramah. Di tangannya terlihat ada beberapa berkas kesehatan, mungkin hasil pemeriksaan atau surat rujukan. Kami sempat berbincang ringan sebelum kereta datang memotong obrolan.

Kami berjalan beriringan menuju gerbong. Situasinya ramai seperti biasa. Untung saya naik dari Palur, bukan Jebres. Kalau dari Jebres, bisa-bisa pinggang ini encok karena tak kebagian kursi. Saya langsung menawarinya duduk di kursi kosong di sampingku. Entah kenapa, perasaan saya berkata: “Duduklah di sini, malaikat.”

Kebaikan yang Lembut di Tengah Suara Rel

Kereta belum berangkat dan saya masih sibuk menata tas berisi gombalan cucian. Tercium bau deterjen samar-samar. Saya tetap santai tak punya malu, tapi perempuan itu tersenyum saja. Saat perjalanan mulai melaju, kami kembali berbincang. Ia bercerita akan turun di Stasiun Maguwo untuk berobat di Jogja. Menggunakan nada lembut, ia berkata, “Sehat itu mahal, jadi harus dijaga ya.”

Perkataannya sederhana, tapi menohok. Ia menjelaskan bagaimana pikiran, pola makan, dan istirahat itu kunci hidup tenang. Katanya, mahasiswa sering lupa menjaga diri karena sibuk mengejar tugas. Saya cuma bisa mengangguk, merasa sedang diceramahi tapi dengan cara yang menenangkan.

Ketika saya bilang masih mahasiswa baru, ia tampak terkejut. Katanya, jarang ada “anak sekecil ini” berani pulang sendiri. Kami sontak tertawa tanpa sadar jika di gerbong ini tak hanya ada dua manusia ini saja. Ternyata dia alumni Universitas Sebelas Maret, baru saja lulus dan sudah bekerja di perusahaan di Solo. Ia menyelesaikan studi S1 Manajemen hanya 3,5 tahun. Saya sempat kagum olehnya, bukan hanya karena cantik tapi juga tangguh.

Namun, di balik senyum itu ada kisah sedih. Saat hari wisudanya, sang ibu sudah tiada. “Tapi saya percaya, beliau tetap melihat dari sana,” katanya sambil menatap ke luar jendela. Di momen itu saya yakin ternyata malaikat memang nyata. Hanya saja ia naik KRL dan masih sempat memberi motivasi ke orang lain.

Pelajaran Hidup dari Malaikat Yeppeo

Perjalanan semakin ramai, penumpang berdiri menyesaki gerbong kereta. Tapi kami tetap asyik mengobrol. Ia memberiku banyak nasihat. Tentang pentingnya waspada di dunia kampus, tentang teman yang bisa jadi saudara atau bisa juga jadi ular. Saya mendengarkan seperti murid TK yang baru menemukan guru favorit. Di akhir percakapan, kami bertukar nomor WhatsApp. Katanya, “Kalau nanti kesulitan kuliah, hubungi aja ya. Siapa tahu bisa kubantu.”

Saya tak menyangka perjalanan sesederhana ini bisa sehangat itu. Terdengar suara roda kereta beradu dengan rel, tapi yang saya dengar cuma suaranya yang lembut. Saat sampai di Stasiun Delanggu, saya mulai sadar perjalanan hampir usai. Rasanya belum siap turun dan berpisah dengannya.

Stasiun Ceper, Akhir dari Pertemuan yang Hangat

“Kawula aturaken agunging panuwun sampun ngagem jasa layanan KAI Commuter, sugeng tindak mugi rahayu.” Suara petugas perempuan mengalun lewat pengeras. Stasiun Ceper menjadi tempat saya turun semakin dekat. Saya merasa waktu terlalu cepat. Perempuan di sampingku mengingatkan agar tidak meninggalkan tas dan ponsel. “Hati-hati turunnya, jangan terburu-buru,” katanya sambil tersenyum.

Ketika pintu terbuka, saya berpamitan. Ia melambaikan tangan, dan saya berjalan keluar gerbong. Tapi cerita tidak berhenti di situ. Tak lama ketika saya sedang menuju ke rumah, notifikasi WhatsApp muncul. Pesannya singkat, tapi membuat saya senyum sendiri “Hati-hati di jalan, ya. Senang bisa kenal kamu, si cantik.”

Saya terdiam sejenak, menatap layar, lalu tertawa salting. Dalam hati saya bertanya, “Kebaikan apa ya yang sudah saya lakukan sampai bisa dipertemukan dengan orang sebaik itu?” Mungkin memang benar, setiap kebaikan akan kembali dengan bentuk yang tak terduga. Hari itu, saya belajar bahwa perjalanan pulang tidak selalu tentang jarak. Kadang, ia tentang pertemuan yang membuat kita ingin menjadi manusia yang lebih baik.

Untukmu malaikat yeppeo yang naik KRL 725 YK, terima kasih sudah membuat perjalanan pulang terasa seperti mimpi. Semoga kita bisa bertemu lagi. Entah di stasiun, di Solo, atau mungkin di kehidupan yang lain?

© Sepenuhnya. All rights reserved.