Tentang Capek, Takdir, dan Hikmah yang Datang Diam-Diam

Merasa lelah menjalani hidup yang penuh aturan? Mungkin ini saatnya berhenti sejenak dan memahami makna di balik rasa “capek”.

Oleh Arina Fitriya Azhari

Sering kali, atau bahkan setiap hari dan setiap waktu, kita mendengar dan mengucapkan kata “capek”.

Sebenarnya apa sih definisi capek itu? Capek pada hakikatnya itu apa? 

Aku ingin sedikit bercerita ya, katanya jika ingin mengungkapkan sesuatu tanpa harus menyakiti orang lain itu dengan menulis ya. Baiklah, aku lanjutkan.

Sebenarnya aku capek, capek banget, sangat capek. Aku pengen bebas. Aku pengen hidup tanpa harus diatur ini-itu, tapi aku tahu kalau dunia ini tidak akan lepas dari aturan dimanapun aku berada.

Capek

Tapi gimana ya, aku capek hidup kek dikekang gitu, apa-apa harus bilang, nggak boleh ini-itu. Haah… seorang dengan strict parents seperti aku pasti pernah merasakannya ketika di rumah. Kamu nggak bilang ke siapa pun kalau mau keluar rumah dan nggak ada yang nyariin selama satu jam, rasanya bahagia banget, kan?

Tidak terlalu diatur dalam pertemananmu, asalkan kamu bahagia dan tidak memuatmu terjerumus, itu bahagia banget, kan?

Tidak terlalu diatur dalam kehidupanmu saat kamu remaja, ketika kamu sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk—itu pun sudah cukup membahagiakan, kan?

Haaah, andai semua itu terjadi padaku.

Lalu selanjutnya, aku merantau ketika kuliah, hanya ingin terbebas dari yang namanya dikekang. Hufft, berhasil. Tapi hanya setahun.

Setelah itu, aku melanjutkan tinggal di pondok yang ketat. Haah lucu, dunia ini sangat lucu, capek aku. 

Ya, begitulah aku, anak beasiswa yang wajib mondok setelah satu tahun asrama di kampus.

Mendapatkan pondok yang ketat, rasanya muak sekali diriku. Hasilnya, aku sering melanggar berbagai divisi haha, termasuk divisi keamanan. Aku sering keluar tanpa izin.

Selanjutnya, seolah takdir tidak berpihak kepadaku, aku diangkat menjadi pengurus dan kabar buruknya aku ditempatkan di kamar pengurus, yang berisikan wakil ketua pondok, co keamanan, co ta'lim dan aku sebagai anggota ketahfidhan.

Haha, lucu. Sangat lucu, bahkan sangat lucu. Huaaa, cukup! Tidak bisakah kalian buat aku terbebas sebentar?

Rasanya aku kapok. Di kamar kemarin aku melanggar semua peraturan. Namun sekarang, telat saja rasanya sudah sangat berdosa. Aku tidak bisa seenaknya keluar pondok tanpa izin, atau apapun itu. Sampai temanku, kalau sudah membahas soal keluar dan perizinan, rasanya aku malas sekali, capek, nggak mood dan sebagainya.

Huaa, mungkin terdengar simpel ya, tinggal izin saja kok repot. Haah, bukannya aku sudah bilang, aku pengen banget merasakan tidak dikekang, tidak dicari siapapun, tidak ada yang tahu aku di mana, tidak usah bilang siapapun aku ke mana. Itu saja, sederhana itu bukan.

Kamu tahu tidak, bagaimana aku berusaha berdamai dengan diriku sendiri? Keinginan diriku yang belum bisa terealisasikan sampai sekarang? Jiwaku meronta, tapi aku berusaha menenangkan diriku sendiri. “Capek” adalah satu-satunya yang bisa aku ucapkan.

Aku tahu semua ini ada hikmahnya. Aku tahu Allah sedang menyiapkan sesuatu yang terbaik untukku. Aku tahu semua itu, dan aku berharap demikian.

Aku capek, ya Allah. Aku berharap kejutan yang Engkau berikan lebih dari yang aku harapkan.

Tiba-tiba aku teringat, dulu aku pernah berdoa: “Aku gak pengen mondok lagi ya Allah, aku pengen bebas, aku pengen ngerasain dunia luar. Aku tahu dunia luar itu kejam, tapi salahkah kalau aku ingin merasakannya?”

Dan benar, Allah mengabulkan doaku, aku kuliah selama setahun tanpa mondok, tapi di asrama yang hampir sama seperti pondok. Tapi apa yang terjadi? Hafalanku hancur, entah ke mana. Mungkin masih kepegang, tapi tidak semuanya. Aku menyaksikan berbagai kekejaman dunia luar, ternyata tidak semudah itu.

Lalu aku berkata, “Kangen pondok, rasanya aku nggak sanggup melihat berbagai kekejaman ini.”

Allah mengabulkan lagi, aku masuk pondok, dan pondoknya ketat.

Mungkin, inilah salah satu hikmah yang Allah berikan kepadaku, hasil dari doaku dan rencana terbaik-Nya agar aku tidak melihat ataupun merasakan kekejaman dunia luar.

Semenjak itu, aku belajar sesuatu: Apapun yang Allah berikan, itulah yang terbaik untukmu, baik ataupun yang tampak buruk. Terlepas dari apapun yang sering kita keluhkan dan apapun yang kita inginkan, ternyata itu yang terbaik untuk kita.

Mungkin, saat ini kamu lelah dengan strict parents yang kamu keluhkan itu, bisa jadi justru mereka yang menuntunmu menjadi lebih baik.

Tentang kebebasan yang menurutmu belum terealisasikan, kamu tidak bisa seenaknya keluar seperti teman-temanmu atau siapapun orang yang kamu inginkan cara hidupnya, bisa jadi mereka justru ingin hidup sepertimu: dicari, diperhatikan, dan dipedulikan.

Setelah aku menulis ini, aku belajar sesuatu. Apapun itu tetaplah bersyukur. Boleh jadi hidup yang kamu benci ini adalah hidup yang diimpikan orang lain.

Arina Fitriya Azhari

Biodata Penulis:

Arina Fitriya Azhari saat ini aktif sebagai mahasiswa, Prodi Bahasa dan Sastra Arab, di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Penulis bisa disapa di Instagram @rien_riyaaz30

© Sepenuhnya. All rights reserved.