200 Tahun Bencana Berulang: Manuskrip sebagai Saksi Bisu Banjir di Nusantara

Mari telusuri kembali manuskrip Aceh dan Minangkabau yang mencatat banjir sejak abad ke-19.

Oleh Pradha Nesya

Dari kanal YouTube NGARIKSA TV dalam tayangannya yaitu Membaca Bencana: Banjir, Manuskrip, dan Memori Kolektif Nusantara Diskusi "Ngariksa 77" yang dibawakan oleh Kang Oman dari NGARIKSA TV mengangkat sebuah refleksi penting mengenai bencana banjir yang terus melanda Nusantara. Dalam pembahasannya, Kang Oman menjelaskan atas musibah banjir yang terjadi di berbagai wilayah, mulai dari Jakarta, Aceh, hingga Sumatera Barat. perbincangan ini mengajak kita untuk merenungkan: mengapa bencana alam ini terus terulang dan apa peranan manuskrip (naskah kuno) dalam bangsa kita. Di video ini menyoroti bahwa bencana seperti banjir bukanlah fenomena baru. Catatan sejarah, seperti penelitian Dr. Restu Gunawan tentang kegagalan sistem kanal di Betawi, membuktikan bahwa bencana serupa sudah terjadi setidaknya sejak abad ke-19, contohnya pada tahun 1892.

Manuskrip sebagai saksi Bisu Banjir di Nusantara

Hasil dari penelitian ini, merumuskan bahwa masalah banjir telah berulang selama hampir 200 tahun, menimbulkan pertanyaan besar tentang efektivitas mitigasi. Banjir bukanlah masalah yang baru di Nusantara. Kang Oman menekankan bahwa hujan di iklim tropis tidak akan pernah bisa dihentikan, namun seharusnya rasa sadar akan bumi yang kita miliki tentang kerawanan bencana dapat memicu kebijakan yang tepat untuk kesejahteraan peradaban di masa kini. Manuskrip berfungsi sebagai gudang memori kolektif yang berharga. Warisan tertulis ini mendokumentasikan pengalaman dan kearifan lokal generasi pendahulu dalam menghadapi bencana. Dua contoh manuskrip yang dijelaskan dalam video yaitu:

  1. Pertama, Manuskrip Aceh: Ditemukan selembar manuskrip yang menggambarkan bencana banjir yang berasal Dari hujan. Ditulis menggunakan aksara Jawi dan berbahasa Aceh, naskah ini mengingatkan bahwa hujan di gunung dapat mendatangkan banjir, yang merupakan bagian dari kearifan lokal masyarakat setempat. 
  2. Kedua, Syair Nagari Lalu Terendam Minangkabau: Naskah yang mendokumentasikan bencana banjir hebat yang terjadi pada tahun 1890. Syair ini secara rinci menggambarkan kampung yang terendam air hingga atap rumah, dan kerusakan yang terjadi, seperti jembatan di Lembah Anai yang runtuh. 

Naskah-naskah ini membuktikan bahwa leluhur kita telah memahami dan mencatat pola-pola bencana alam. Namun, kearifan lokal ini sering kali "tidak pernah menasional" karena terhalang oleh berbagai tantangan. Manuskrip-manuskrip ini rentan secara fisik; banyak yang hilang atau rusak akibat bencana (seperti saat tsunami Aceh 2004), dan penanganan yang salah seperti menjemur naskah yang basah justru mempercepat kerusakan. Selain itu, kendala bahasa dan aksara membuat masyarakat modern kesulitan mengakses dan memahami isinya. Oleh karena itu, upaya pelestarian harus mencakup konservasi fisik, sekaligus digitalisasi, transkripsi, dan penerjemahan agar nilai-nilai historisnya dapat "diselamatkan" dan dipelajari.

Secara spiritual, tradisi Islam (merujuk pada kitab seperti Kitabul Matar) memandang hujan secara umum membawa kemaslahatan, namun ketika berubah menjadi musibah, umat dianjurkan untuk berikhtiar (usaha lahiriah) dan berdoa. Nabi Muhammad SAW mengajarkan doa seperti Allahumma shoyyiban nafi'an (Ya Allah, jadikanlah hujan ini hujan yang bermanfaat). Pesan yang disampaikan "Ngariksa77" ini menegaskan bahwa kita tidak boleh melupakan ingatan dimasa silam. Manuskrip yang ada di Nusantara tidak hanya sarana komunikasi di masa lampau, tetapi juga adalah pengingat bahwa Nusantara adalah "rumah bagi sang hujan”. Dengan memadukan memori kolektif dari manuskrip, kearifan lokal, dan upaya mitigasi modern, membuat kita sadar akan masa depan agar tidak ada lagi bencana dan musibah yang menimbulkan korban lagi.

Biodata Penulis:

Pradha Nesya saat ini aktif sebagai mahasiswa, Prodi Sastra Indonesia, di Universitas Andalas.
© Sepenuhnya. All rights reserved.