Alasan Desa Soropaten di Klaten Lebih Spesial untuk Slow Living bukan untuk Gaya Hidup

Yuk jelajahi Soropaten, desa di Klaten yang mengajarkan slow living sejati: sejarah, budaya, dan tradisi berjalan pelan tanpa harus dipamerkan.

Oleh Febriana Rahmawati

Dalam beberapa hari kota Klaten sering kali dibilang kota yang paling pas untuk slow living. Kota yang katanya seribu umbul menambah kesan untuk menikmati air sejuk, pandangan hamparan sawah yang sering dilihat kanan maupun kiri. 

Namun sering kali orang tidak menganggap kota Klaten, yang mereka tahu kota penghubung jogja-solo. Tanpa orang-orang tahu terdapat desa yang memiliki banyak kebudayaan, hidup secara pelan bukan untuk konten melainkan hidup tanpa perlu menjelaskan kepada orang luar. 

Sampai saya bertanya dalam hati, di mana orang-orang menghabiskan masa tua tanpa tahu desa seindah ini untuk dinikmati. Di mana dunia ramai-ramai untuk diakui, tanah kelahiran saya memilih cukup. 

Alasan Desa Soropaten di Klaten Lebih Spesial untuk Slow Living bukan untuk Gaya Hidup

Tugu yang Bersejarah dan Candi yang Unik

Tugu di soropaten punya sejarah panjang. Tugu waseso konon menceritakan pertemuan Kiai Karso Rejo dan Ir Sukarno sebelum kemerdekaan. Dilihat dari situ saya merasa daerah itu tidak bisa dipandang sepele. 

Membawa sejarah memang kerap dianggap kalah dan norak. Namun kali ini saya merasa bahwa desa ini harus saya bawa karena tidak sedikit orang menganggap remeh desa Soropaten. 

Tugu di Soropaten bukan penanda kejayaan yang harus dirayakan setiap saat, tapi tugu dibiarkan hidup bersama dengan rutinitas orang berangkat ke sawah dan tempat bermain anak-anak. Tidak ada papan yang bombastis yang menunjukkan kejayaan atau masa lalu yang harus dibanggakan. 

Candi di desa Soropaten kecil namun banyak orang tidak tahu bahkan warganya. Candi dianggap sebagai batu yang telah lama diam, seolah tahu bahwa waktu bukan untuk dikejar, namun dijalani. 

Membuat tugu dan candi di Soropaten terasa relevan dengan slow living. Mereka tidak berubah agar diterima zaman. Mereka hanya bertahan, dan rupanya itu sudah lebih dari cukup.

Taman Bunga Tabebuya yang Mekarnya Tidak Pernah Terburu-buru

Taman bunga tabebuya di Soropaten bukan tempat untuk mengejar momen. Bunganya mekar tanpa jadwal unggahan, gugur tanpa perlu diumumkan. Kalau datang terlalu cepat atau terlalu lambat, ya sudah tidak ada yang merasa dirugikan, apalagi kecewa. Tidak ada dorongan untuk mempercantik berlebihan, karena bunganya sudah cukup dengan caranya sendiri.

Taman tabebuya ini bukan tempat berburu foto. Kalau dapat bunga mekar, anggap bonus. Kalau tidak, ya duduk saja. Tidak ada yang memaksa pulang membawa konten, karena taman ini memang tidak dibuat untuk memenuhi ekspektasi siapa pun.

Tabebuya di Soropaten mengajarkan satu hal sederhana: sesuatu bisa indah tanpa harus selalu tampil. Mekar sebentar, lalu gugur, dan hidup tetap berjalan seperti biasa.

Wayangan yang Tidak Pernah Mengejar Penonton

Wayangan di Soropaten tidak pernah repot memikirkan siapa yang datang. Tidak ada target jumlah penonton, tidak ada poster besar, apalagi gimmick supaya terlihat relevan. Wayang digelar karena memang sudah waktunya digelar, bukan karena ada kebutuhan untuk tampil. 

Wayangan setiap malam Jumat pun kebanyakan diikuti oleh warga sekitar. Tidak banyak orang, tenang, namun memukau. Di Soropaten, wayangan bukan nostalgia yang dipamerkan, melainkan kebiasaan yang masih hidup. Ia tidak disederhanakan agar mudah dicerna, tidak juga dipercepat supaya cocok dengan zaman. Wayang tetap menjadi dirinya sendiri, meski dunia di luar sana sedang suka yang serba singkat. Wayangan itu mengajarkan bahwa tidak semua hal harus segera selesai, dan tidak semua cerita perlu diringkas agar dianggap penting.

Jadi, Soropaten mungkin bukan kota yang sering disebutkan dalam pembicaraan orang jika menyangkut soal slow living. Tapi, justru di situlah letak nyaman dan istimewanya. Entah sampai kapan tapi ini yang diinginkan desa Soropaten, yang akan selalu menjadi desa yang tidak menjanjikan apa-apa selain kesempatan untuk mengirup udara sedikit lebih lega. Desa yang hidup bebas tanpa kekangan orang-orang yang berlomba-lomba tampil untuk kemewahan. 

Tradisi di Soropaten juga tidak dipoles supaya kelihatan modern. Ia berjalan apa adanya, tanpa kemasan, tanpa tagar. Karena bagi warga setempat, tradisi bukan aset wisata, melainkan cara hidup yang belum tentu perlu dijelaskan ke orang luar.

Biodata Penulis:

Febriana Rahmawati saat ini aktif sebagai mahasiswa di Universitas sebelas Maret, Prodi Pendidikan Ekonomi.

© Sepenuhnya. All rights reserved.