Anak Muda: Kenyang Harus, Nonton Wajib

Yuk jelajahi gaya hidup modern: makan sambil menonton! Rasakan bagaimana rutinitas kecil ini bisa jadi self-care dan momen istirahat mental praktis.

Oleh Tiara Safrina Yulesty

Ada satu ritual sakral dalam kehidupan anak muda hari ini yang jarang dibahas secara serius: makan sambil nonton. Bukan sekadar kebiasaan, ini sudah naik level jadi kebutuhan hidup. Nasi sudah hangat, lauk sudah siap, tapi tangan belum bergerak kalau belum buka YouTube, Netflix, atau TikTok. Seolah-olah perut dan mata harus mendapat jatah hiburan secara bersamaan.

Kalau dipikir-pikir, generasi orang tua kita mungkin heran. Dulu, makan itu fokus. Duduk, doa, habiskan. Sekarang? Duduk, buka HP, cari video dulu, baru mulai suap. Bahkan, ada yang bisa batal makan cuma gara-gara sinyal lemot. Bukan karena malas, tapi karena tontonan belum siap. Bagi anak muda, makan tanpa tontonan itu serasa sayur tanpa garam.

Nonton

Lucunya, pilihan tontonan saat makan juga bukan hal sembarangan. Harus yang “ringan di otak tapi berat di candu”. Vlog orang masak mi pedas, mukbang ayam krispi, podcast ngalor ngidul, atau drama Korea yang dialognya bisa diabaikan tapi tetap enak ditonton. Ini bukan soal kualitas konten, tapi soal menemani proses mengunyah agar terasa… hidup.

Dapur atau meja makan kini berubah fungsi. Bukan lagi tempat hening penuh kesyukuran, tapi jadi mini bioskop dadakan. Handphone disandarkan ke gelas, kotak tisu, atau bahkan botol saus. Kalau perangkat jatuh ke kuah? Ya nasib. Yang penting, cerita di layar tetap jalan.

Fenomena ini sebenarnya tidak sesederhana “anak muda kecanduan gadget”. Ada sesuatu yang lebih dalam: makanan hari ini bukan cuma tentang rasa, tapi juga distraksi. Banyak anak muda makan bukan cuma karena lapar, tapi karena ingin istirahat sejenak dari overthinking. Menonton sambil makan menjadi cara paling murah dan paling cepat untuk merasa “baik-baik saja”, walau cuma 15 menit.

Ironisnya, kadang kita tidak benar-benar ingat tadi makan apa. Tahu-tahu piring sudah kosong, tapi yang diingat cuma adegan klimaks dari videonya. Otak kita sibuk mengunyah dua hal sekaligus: makanan dan konten. Akibatnya, rasa kenyang datang belakangan, sementara timeline terus berjalan.

Yang lebih menarik, ritual ini bukan cuma terjadi saat makan besar. Camilan pun harus ditemani tontonan. Makan gorengan? Harus ada video. Minum kopi? Wajib scrolling. Bahkan mie instan jam dua pagi pun terasa lebih sah kalau ada suara orang lain dari layar HP. Seolah-olah kesendirian jadi lebih bisa ditoleransi kalau ada “teman virtual” yang ngomel, bercanda, atau curhat di layar.

Buat sebagian orang, ini terdengar sepele. Tapi bagi anak muda, ini adalah bentuk kecil dari self-care versi generasi sekarang. Nggak liburan ke Bali, nggak spa mahal, cukup makan sambil nonton satu episode. Itu sudah cukup untuk reset mental yang hampir hang.

Namun tentu saja, kebiasaan ini ada sisi absurdnya. Kita jadi susah menikmati makanan dengan utuh. Rasa pedas, manis, asin, kadang lewat begitu saja tanpa disadari. Momen kebersamaan juga sering terganggu. Ada keluarga yang makan di meja yang sama, tapi semua sibuk dengan layar masing-masing. Sunyi yang ramai.

Tapi kalau ditanya, “Bisa nggak sih makan tanpa nonton?” Jawabannya sering jujur tapi menyedihkan: bisa, tapi sepi. Bukan karena sendirian, tapi karena otak sudah terbiasa ditemani stimulus terus-menerus. Hening jadi sesuatu yang asing.

Pada akhirnya, kebiasaan “kenyang harus, nonton wajib” adalah potret kecil gaya hidup anak muda hari ini. Mereka hidup di dunia yang serba cepat, penuh tekanan, dan selalu online. Makan sambil nonton bukan cuma soal hiburan, tapi soal bertahan.

Dan mungkin, tidak ada yang salah. Selama kita masih bisa sesekali taruh HP, menatap makanan, dan ingat rasanya. Karena di tengah dunia yang bising, kemampuan menikmati satu suap tanpa gangguan justru jadi hal paling mewah.

Biodata Penulis:

Tiara Safrina Yulesty saat ini aktif sebagai mahasiswi di Universitas Sebelas Maret. Penulis bisa disapa di Instagram @tiarasfryl

© Sepenuhnya. All rights reserved.