Agama, Kekerasan, dan Ego Manusia: Analisis Nilai Keislaman dalam Puisi Allahu Akbar

Yuk baca analisis puisi Allahu Akbar karya A. Mustofa Bisri yang mengajak kita merefleksikan makna tauhid dan bahaya ego dalam praktik beragama.

Puisi berjudul “Allahu Akbar” merupakan karya yang tidak hanya berfungsi sebagai curahan isi hati dan pikiran penulis tetapi juga merupakan realita kehidupan beragama di masyarakat. Puisi ini hadir karena kegelisahan terhadap realitas keagamaan yang sering menampilkan wajah keras, marah dan penuh penghakiman sehingga nilai ini sangat menyimpang dengan nilai-nilai kasih sayang yang seharusnya diajarkan agama.

Analisis Nilai Keislaman dalam Puisi Allahu Akbar

Puisi ini ditulis oleh A. Mustofa Bisri dalam kumpulan puisi berjudul Aku Manusia. A. Mustofa Bisri atau lebih akrab disebut Gus Mus merupakan salah satu tokoh islam yang ada di Indonesia. Beliau lahir di Rembang, Jawa Tengah pada 10 Agustus, 1944. Gus Mus tidak hanya dikenal sebagai seorang kiai tetapi juga sebagai penyair dan pelukis. 

Dalam banyaknya konflik sosial, terutama bernuansa agama, kalimat lafadz keagamaan yang harusnya bersifat sakral, justru sering disebutkan sebagai kalimat pembelaan. Hal ini kerap terjadi dan seolah-olah tuhan “dibawa” dalam konflik manusia yang berasal dari ego manusia dan kepentingan pribadi manusia seorang individu. 

Kalimat “Allahu Akbar” dalam ajaran Islam bermakna Allah maha besar, sementara dalam puisi ini fungsikan untuk mengajak manusia untuk lebih kritis dan bijak dalam penggunaan kalimat tersebut. Jika kita tidak bijak dalam menggunakan kalimat tersebut maka, kalimat yang seharusnya spiritual dan menentramkan dapat berubah menjadi menakutkan. 

Puisi ini hadir sebagai pengingat bahwa tanpa kasih sayang, agama dapat kehilangan makna yang sebenarnya. Dalam puisi ini penyair juga menegaskan bahwa kekerasan bukanlah tanda orang yang Sholeh, dan manusia yang merasa berhak menghukum sesama atas nama tuhan adalah yang sebenarnya sedang mengagungkan egonya sendiri dengan membawa nama tuhan. 

Nilai keislaman yang paling mendasar dalam puisi ini adalah tauhid, yang berarti keyakinan bahwa Allah Maha Esa dan Maha Besar. Disini penyair menegaskan bahwa kebesaran Allah bersifat mutlak dan tidak tergantung pada pengakuan atau tindakan manusia, dengan pernyataan bahwa lima milyar manusia baik sesat maupun saleh, tidak akan mengurangi kebesaran-Nya dan pengingat bahwa manusia bukanlah penentu nilai tuhan.

Puisi ini juga menyoroti sifat Allah sebagai Ar-Rahman yang berarti tuhan yang maha pengasih. Penulis mempertanyakan tentang keimanan orang-orang yang mudah membenci sesama manusia dengan menggunakan nama agama. Jika seseorang benar-benar mengetahui tuhan yang maha pengasih, maka kasih sayang seharusnya menjadi landasan dalam bersikap dan bertindak. 

Selain itu, puisi ini mengandung kritik yang sangat dalam tentang konsep syirik, yang berarti seseorang yang merasa dirinya paling benar dan menganggap orang lain pasti salah. Pada saat iu kedudukan egonya di atas kehendak tuhan. Serta puisi ini mengajak untuk rendah hati dan sadar akan Batasan manusia dan menyerahkan semuanya kepada Allah tanpa merasa berhak menjadi hakim orang lain. 

Puisi ini menyampaikan nilai perjuangan, perjuangan yang dimaksud bukan menggunakan senjata maupun kekerasan fisik. Puisi ini menyampaikan nilai perjuangan dengan melawan keinginan untuk merasa paling benar adalah perjuangan yang lebih berat namun paling bermakna.

Sedangkan dalam konteks kewirausahaan, puisi ini dapat dijadikan Pelajaran yang bermakna tentang pentingnya etika dan tanggung jawab. Seorang wirausahawan tidak hanya dituntut kreatif dan berani mengambil resiko, tetapi juga harus memiliki moral. Sikap yang memaksakan kehendak, menindas yang lemah, atau menghalalkan segala cara demi tujuan tertentu dapat menggagalkan etika seorang wirausahawan. Serta puisi ini mengajarkan bahwa kekuasaan dalam bentuk sosial maupun ekonomi, bukanlah alat yang bisa digunakan untuk menghakimi, melainkan sebuah Amanah yang harus dijalankan dengan sikap bijaksana. 

Dari sisi Teknik penulisan, penyair menggunakan repetisi frasa “Allahu Akbar” dengan tujuan untuk memberikan penekanan agar pembaca benar-benar memperhatikan makna kalimat. Pengulangan ini tidak hanya mempertegas tema, tetapi juga menciptakan ironi yang mendalam. Kalimat yang seharusnya bermakna menenangkan justru keluar dari mulut yang penuh kebencian. 

Penyair juga memanfaatkan metafora dengan gambaran manusia sebagai “debu” yang menegaskan betapa kecilnya manusia di hadapan tuhan, dengan tujuan agar pembaca tidak sombong dan merasa paling benar. Sementara Gambaran urat leher membesar memberikan arti amarah dan emosi yang meledak-ledak. 

Manusia yang digambarkan demikian adalah mereka yang kerap berteriak dengan penuh kebencian dan seolah-olah memiliki kekuasaan dari yang lain. Serta penyair juga menggunakan pertanyaan secara retoris, yang tidak membutuhkan jawaban langsung. Pertanyaan ini bertujuan menggugah pikiran pembaca dan membuat mereka berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri tentang sikap dan keimanannya. 

Sedangkan bahasa yang digunakan cenderung lugas, tidak bertele-tele. Pemilihan diksi juga bertujuan untuk menyadarkan. Teknik ini membuat puisi seperti teguran moral yang jujur dan berani. 

Kesimpulan dari puisi tersebut berisi kritik sosial, refleksi keagamaan, dan pesan kemanusiaan karena puisi tidak hanya berbicara tentang iman, tepi juga mengkritik lewat kehidupan manusia dalam lingkup sosial.

Penyair menunjukan konflik yang mengatas nama agama yang bukan disebabkan oleh ajaran islam, tetapi cara manusia menjalankan dan menafsirkannya. Islam sebagai ajaran mengajarkan kedamaian tetapi ketika dipraktikkan tanpa kasih sayang dan kerendahan hati, agama bisa disalahgunakan untuk kepentingan pribadi bukan untuk membenarkan kekerasan dan kebencian.

Puisi ini juga menegaskan bahwa syirik tidak selalu berarti menyembah berhala atau tuhan yang lain. Syirik juga bisa terjadi ketika seseorang menganggap dirinya paling benar dan memaksakan kebenaran. Dalam kondisi ini, manusia sebenarnya menjadikan ego dan pikirannya sendiri sebagai tiang kebenaran, karena mengikuti keinginannya daripada kasih sayang dan kebijaksanaan yang diajarkan agama.

Penulis:

  1. Farizqa Fatma Maharani saat ini aktif sebagai mahasiswa di UIN Syekh Wasil Kediri.
  2. Revalina Nilta Manzila saat ini aktif sebagai mahasiswa di UIN Syekh Wasil Kediri.
  3. Badillah Rokhyatin saat ini aktif sebagai mahasiswa di UIN Syekh Wasil Kediri.

© Sepenuhnya. All rights reserved.