Oleh Devina Dita Prabawati
Kita hidup dalam ritme yang makin cepat. Target prestasi dan standar sosial terus meningkat. Generasi muda dibesarkan dalam budaya produktivitas yang tak pernah padam. “Harus sukses sebelum 30,” begitu bunyi tuntutan tak tertulis di media sosial. Banyak dari kita mengejar pencapaian demi mengamankan masa depan. Tetapi muncul pertanyaan penting, apakah kita masih punya waktu untuk bahagia?
Tekanan Hidup Cepat bukan Hanya Perasaan
Survei Global Happiness Index menunjukkan 62 persen pekerja muda merasa waktu pribadi mereka terus berkurang. Bahkan, 48 persen mengaku kualitas kebahagiaan menurun akibat tuntutan produktivitas. Data itu menggambarkan realitas generasi yang hidup dalam percepatan informasi dan pekerjaan. Semakin cepat ritme hidup, semakin tipis ruang untuk jeda dan refleksi.
Ada keyakinan bahwa target besar membawa hidup lebih baik. Mengejar karier stabil, rumah nyaman, serta tabungan masa depan. Semua target itu penting. Namun, kejar-kejaran dengan target sering berubah menjadi beban psikis. Banyak orang bekerja keras tanpa pernah berhenti sejenak untuk merasakan hidup. Bahagia menjadi sesuatu yang ditunda. “Nanti setelah mapan,” katanya. Padahal kemapanan itu sering tak memiliki titik akhir.
Target yang Terus Bertambah Membuat Standar Kepuasan Bergeser Jauh
Ketika gaji naik, kebutuhan juga naik. Ketika target tercapai, target baru muncul. Ini seperti berlari di treadmill: tubuh bergerak cepat tetapi tetap di tempat. Tidak ada garis finis yang jelas dan dipacu untuk terus bergerak karena takut tertinggal oleh orang lain.
Di sisi lain, kemampuan teknologi mempercepat aktivitas manusia. Jadwal padat bisa diselesaikan tanpa jeda. Banyak orang merasa bersalah ketika beristirahat. Seolah istirahat adalah kemalasan, bukan kebutuhan.
Para psikolog menyebut fenomena ini sebagai burnout. Kehabisan energi mental karena tekanan berkepanjangan. Burnout menggerogoti motivasi, daya juang, dan kesehatan mental. Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan burnout sebagai gangguan akibat stres kronis yang tidak tertangani. Angka kasus meningkat pada pekerja muda. Mereka berambisi tinggi tetapi tidak memiliki ruang pemulihan memadai. Kondisi ini membuat kebahagiaan terasa jauh dan sulit dijangkau.
Namun, bukan berarti target harus dihapus. Target dapat membantu individu berkembang. Ia memberi arah tindakan, ukuran capaian, dan makna usaha. Masalah muncul ketika target terlalu banyak dan tidak realistis. Ketika target dicapai bukan untuk kebutuhan, tetapi untuk validasi sosial. Banyak dari kita bekerja keras karena takut dinilai gagal. Kita ingin terlihat berhasil dan bahagia. Padahal kebahagiaan adalah pengalaman batin, bukan pencitraan luar.
Kebahagiaan Sering Hadir dalam Bentuk Sederhana
Menyapa keluarga, makan bersama teman, membaca buku singkat, atau sekadar tidur cukup. Aktivitas ini tidak terlihat produktif. Tetapi itu memulihkan diri. Kebahagiaan membutuhkan ruang sunyi yang tidak tergesa. Banyak budaya tradisional mengajarkan kesederhanaan dalam menjalani hidup. “Pelan-pelan asal selamat,” begitu pepatah Jawa. Dalam dunia modern pepatah itu terlupakan. Kecepatan dianggap sebagai bukti kompetensi.
Apakah Masih Mungkin Menjalani Hidup dengan Ritme Wajar?
Jawabannya mungkin ya. Tetapi kita harus berani menetapkan batas. Batas bagi ambisi agar tidak menghilangkan kewarasan. Menetapkan batas bukan tanda kelemahan. Itu bentuk penyadaran diri bahwa hidup bukan hanya soal mencapai target.
Pada akhirnya, hidup cepat dan target banyak bukan soal benar atau salah. Keduanya wajar dalam dunia modern. Yang penting adalah keseimbangan. Kita membutuhkan pencapaian untuk bertahan. Tetapi kita juga memerlukan ruang untuk menikmati hasilnya. Kebahagiaan bukan hadiah setelah target selesai. Kebahagiaan adalah pengalaman yang harus dicari di sela-sela perjalanan. Jika kita menundanya terus, mungkin ia tak pernah datang. Kita berhak produktif sekaligus berhak bahagia.
Biodata Penulis:
Devina Dita Prabawati saat ini aktif sebagai mahasiswa UNS.