Asal-Usul Ngawinan Hingga Bonyokkan: Kisah Nama Desa Nyleneh di Klaten

Ayo jelajahi sisi unik Klaten lewat nama-nama desanya yang lucu, nyleneh, dan penuh cerita!

Oleh Olivia Eka Anugerah

Klaten selalu punya kejutan kecil yang membuat orang kagum. Bukan hanya terkenal dengan UMR-nya yang kecil saja ya. Ada kejutan yang tidak selalu berbentuk wisata atau kuliner, tetapi justru muncul dari nama-nama desanya. Banyak nama desa di Klaten yang terdengar lucu, nyleneh, atau menimbulkan salah paham. Nama-nama itu tidak hanya memancing tawa, tetapi juga menyimpan cerita sosial dan sejarah lokal yang menarik untuk dibaca.

“Ngawinan” Bikin Orang Salah Paham

Dusun Ngawinan adalah salah satu contohnya. Dusun ini terletak di Desa Juangrejo, Kecamatan Karanganom, dan sering membuat orang berpikir aneh-aneh. Saya juga begitu saat pertama kali mendengarnya. Otak saya langsung mengaitkan nama itu dengan urusan kawin atau pernikahan.

Asal-Usul Ngawinan Hingga Bonyokkan

Namun sebenarnya cerita itu berbeda jauh dari dugaan saya. Menurut warga setempat, “Nama Ngawinan berasal dari sesepuh pendiri dusun ini yang bernama Mbah Ngawi.” Beliau dimakamkan dekat pohon randu alas yang menjadi penanda dusun. Dari situlah masyarakat memberi julukan Ngawinan sebagai bentuk penghormatan.

Mbah Ngawi bukan sosok biasa di masa lalu. Ia dikenal sebagai orang pintar sekaligus panutan masyarakat setempat. Cerita tentang beliau menjadi fondasi identitas desa yang masih bertahan hingga kini. Jujur saja, saya awalnya kira banyak masyarakat yang suka kawin hingga dinamai Ngawinan. Eh ternyata bukan.

Padahal tentu tidak ada hubungannya sama sekali. Dusun ini hanyalah korban salah paham dari orang luar seperti saya. Tapi benar juga, nama ini memang membuat orang berpikir macam-macam saat pertama kali mendengarnya. Di era sekarang, nama desa seperti ini justru menjadi daya tarik bagi wisatawan lokal.

Warga Desa Bonyokan Aman Kan?

Nama unik berikutnya adalah Desa Bonyokan. Desa ini terletak di Kecamatan Jatinom dan berada di jalur Klaten–Boyolali. Sekilas, nama ini terdengar nyleneh dan memancing rasa penasaran. Apalagi desa ini menjadi bagian penting dari lanskap sosial budaya Jawa Tengah.

Asal-usul nama Bonyokan memiliki sejarah yang cukup kelam. Menurut warga sekitar, “Desa ini dulunya menjadi lokasi penampungan korban perang.” Kisah ini memperkuat dugaan bahwa nama Bonyokan bukan sekadar julukan. Ada memori kolektif yang hidup di balik penamaannya.

Dalam bahasa Jawa, kata bonyok berarti luka parah atau memar. Nama ini menjadi refleksi masa sulit pada masa lampau. Luka itu kemudian hadir dalam bentuk nama desa yang kini terdengar lucu bagi sebagian orang. Ketika pertama mendengar nama itu, saya sempat berpikir, “Warganya ikut bonyok?”

Tentu saja tidak seperti itu. Namun komentar semacam itu sering muncul dari orang luar. Bagi saya, nama Bonyokan adalah pintu masuk untuk memahami sejarah lokal yang jarang dibicarakan. Nama ini sekaligus mengajarkan bahwa humor kadang lahir dari tragedi yang jauh lebih tua.

Desa Kurung Kecamatan Ceper Mirip Sangkar

Nama menarik lain datang dari Desa Kurung di Kecamatan Ceper. Nama Ceper sendiri sering mengundang komentar ringan dari orang yang baru mendengarnya. Namun ternyata nama ini memiliki latar geografis yang jelas. Kecamatan Ceper memiliki wilayah yang datar, landai, dan rendah sehingga masyarakat menamainya Ceper.

Desanya pun tak kalah unik. Desa Kurung membuat saya berpikir tentang kurungan atau tempat dikurung. Dugaan saya ternyata tidak sepenuhnya salah. Desa ini dikelilingi persawahan, permukiman, dan sungai sehingga secara fisik terasa seperti ruang tertutup.

Namun penjelasan budaya memberikan makna lebih dalam. Dalam filosofi Jawa, kurung melambangkan perlindungan, ketenteraman, dan kesatuan. Masyarakat memahami kurung sebagai ruang aman bagi kehidupan bersama. Jadi bukan karena warganya penghasil sangkar burung ya.

Desa Ponggok yang Menjadi Primadona

Setelah membahas desa-desa unik itu, Klaten masih punya nama lain yang lebih terkenal. Desa Ponggok di Kecamatan Polanharjo menjadi primadona wisata air. Desa ini berasal dari wilayah Mataram Kuno yang memiliki air melimpah. Sumber air itu kemudian berkembang menjadi Umbul Ponggok yang tersohor.

Wisata air ini dimanfaatkan untuk fotografi bawah air, penyelaman, dan budidaya ikan. Ponggok menjadi bukti bahwa nama desa dapat menjadi identitas ekonomi baru. Saya teringat jika Klaten mendapat julukan kota seribu umbul karena banyaknya mata air. Identitas itu memperkuat karakter Klaten sebagai wilayah subur yang kaya potensi.

Nama Ponggok juga memiliki makna filosofis. Kata ini menandai pusat kehidupan, jantung desa, dan simbol kelestarian air. Menurut masyarakat setempat, “Sumber air ini bermanfaat untuk meditasi dan sepuh tosan aji.” Airnya dipercaya mampu menyembuhkan hewan ternak seperti kerbau atau kuda yang sakit.

Cerita seperti itu menunjukkan bagaimana nama desa bukan sekadar label administratif. Nama-nama itu adalah rangkuman sejarah, identitas sosial, dan nilai budaya masyarakat. Klaten menyimpan begitu banyak nama desa yang lucu, unik, atau terdengar aneh. Namun setiap nama memiliki kisah yang menunggu untuk disampaikan.

© Sepenuhnya. All rights reserved.