Awalnya Cuma Healing, Kok Jadi Kecanduan?

Capek kuliah, stres, lalu lari ke game online? Yuk pahami kapan healing berubah jadi kecanduan, dan bagaimana cara balik pegang kendali diri.

Oleh Laila Fi Hidayati Nur Fadhilah

Awalnya, niatnya main game sebentar buat ngilangin capek. Selesai kelas, tugas numpuk, burn out, rasanya pengin healing sebentar. Cari pelarian paling gampang itu ya game online, tinggal buka HP/laptop, masuk dunia virtual, dan semua beban terasa pause. Tapi entah sejak kapan, kata “sebentar” itu berubah jadi berjam-jam. Healing yang harusnya bikin segar lagi, malah bikin makin capek.

Awalnya Cuma Healing, Kok Jadi Kecanduan

Fenomena ini bukan cuma dialami satu dua orang. Banyak mahasiswa, terutama Gen Z yang tanpa sadar menjadikan game online sebagai teman setia setiap kali stres datang. Capek kuliah? Main game. Bad mood? Main game. Bosan sama aktivitas? Main game lagi. Sampai akhirnya, game bukan lagi hiburan, tapi tempat kabur yang terasa paling aman.

Di usia mahasiswa, hidup memang terasa lagi ribet-ribetnya. Di satu sisi dituntut dewasa, mandiri, dan bertanggung jawab, tapi di sisi lain masih sering ngerasa bingung, ragu, dan pengin dimengerti. Di fase ini, relasi sosial dan rasa diterima jadi penting banget. Ketika hal-hal itu sulit ditemukan di dunia nyata, mungkin karena tekanan akademik, perasaan nggak cukup baik, atau capek menghadapi ekspektasi orang lain, buat dunia virtual jadi terasa lebih ramah. Di sana, kita bisa jadi siapa saja, diterima tanpa banyak syarat, dan merasa terhubung tanpa harus menjelaskan diri terlalu panjang.

Masalahnya, ketika game mulai jadi satu-satunya cara buat merasa “oke”, itu tandanya ada yang mulai nggak beres.

Game online memang dirancang buat bikin betah. Ada tantangan, reward, interaksi sosial, dan rasa diterima. Di dunia virtual, kita bisa jadi versi diri yang lebih percaya diri, lebih dihargai, dan lebih keren. Nggak heran kalau banyak mahasiswa merasa lebih nyaman di dunia virtual daripada di dunia nyata yang penuh tuntutan kayak IPK, deadline, ekspektasi keluarga, dan masa depan yang sering bikin cemas.

Lama-lama, efeknya mulai terasa. Waktu belajar mulai berkurang, tidur makin berantakan, fokus gampang buyar, dan emosi jadi lebih sensitif. Ada rasa bersalah karena tugas terbengkalai, tapi juga ada dorongan kuat buat tetap main game. Akhirnya mulai terasa capek, secara mental dan emosional.

Kecanduan game itu bukan selalu soal malas atau nggak punya tujuan hidup. Kadang justru gara-gara terlalu capek, terlalu tertekan, dan nggak tahu harus ngelola emosi dengan cara apa. Game jadi jalan pintas buat istirahat sejenak.

Terus bagaimana caranya biar nggak sampe kecanduan main game?

Solusinya bukan cuma berhenti total main game. Buat sebagian orang, itu malah nggak realistis. Yang lebih penting itu kontrol diri. Nah, langkah-langkah ini bisa dicoba:

  1. Pertama, jujur sama diri sendiri. Coba tanyain ke diri sendiri “Aku main game buat healing, atau buat kabur?” Jawaban ini penting buat jadi titik awal.
  2. Kedua, coba pasang batas waktu yang masuk akal. Bukan cuma niat tapi akhirnya ga dilakuin, bisa pakai alarm. Kalau sudah bunyi, berhenti. Sesimpel itu, tapi sering diabaikan.
  3. Ketiga, cari alternatif healing yang nggak cuma bikin lupa, tapi juga bikin pulih. Jalan sore, dengerin musik tanpa buka hp, ngobrol sama teman, nulis diary, atau tidur yang cukup.
  4. Keempat, kalau udah merasa mulai kehilangan kontrol diri, nggak ada salahnya buat cerita, bisa ke teman, keluarga, tetangga kost, atau orang yang bisa dipercaya. Minta bantuan bukan tanda lemah, tapi tanda kalau sadar ada yang harus diubah .

Di era digital, tantangan terbesar mahasiswa bukan cuma soal akademik, tapi juga soal mengelola diri di tengah distraksi tanpa henti. Game online bisa jadi teman, tapi jangan sampai berubah jadi penentu arah hidup. Healing seharusnya bikin kita kembali semangat, bukan makin terjebak. Jadi, kalau sekarang kamu masih bilang, “aku cuma main buat ngilangin capek,” mungkin ini saat yang tepat buat berhenti sebentar dan bertanya “aku lagi butuh hiburan, atau sebenarnya butuh dipahami?”.

Biodata Penulis:

Laila Fi Hidayati Nur Fadhilah saat ini aktif sebagai mahasiswa, Bimbingan dan Konseling, di Universitas Sebelas Maret.

© Sepenuhnya. All rights reserved.