Pernahkah Anda membaca tulisan “Mager, gak jadi ke TM, mau ke Perpus aja” dan langsung memahaminya? Atau melihat spanduk “Sempro di Ruang BEM H-3” dan tahu persis maksudnya? Jika iya, selamat Anda sudah fasih dalam “dialek” bahasa sehari-hari yang penuh pemendekan.
Fenomena ini dalam linguistik disebut abreviasi proses memendekkan bentuk kata atau frasa tanpa mengubah maknanya. Di tengah kehidupan yang serba cepat, abreviasi hadir sebagai solusi praktis seperti menghemat waktu, tenaga, bahkan karakter di media sosial. Tapi lebih dari itu, abreviasi adalah cermin dinamisnya bahasa dan budaya penggunanya, terutama di kalangan anak muda dan dunia akademik.
Abreviasi Bukanlah Sekadar Singkat-singkatan
Abreviasi muncul dalam berbagai bentuk, masing-masing dengan karakter dan konteks penggunaannya sendiri:
1. Singkatan adalah Bahasa Resmi yang Ringkas
Seperti KTP, SIM, atau UTBK, singkatan mengambil huruf awal setiap kata. Di kampus, kita akrab dengan KTM, SKS, atau BEM. Fungsinya jelas: efisiensi dalam komunikasi formal.
2. Penggalan adalah Bahasa Percakapan yang Akrab
“Coba tanya ke Bu Rina di TU” atau “Lagi di lab, ada praktek”. Kata seperti Bu (Ibu), TU (Tata Usaha), praktek (praktikum), atau perpus (perpustakaan) adalah hasil penggalan yang terasa lebih santap dan cepat diucapkan.
3. Akronim adalah Kata Baru yang Jadi Identitas
Ketika rangkaian huruf dibaca sebagai satu kata, itulah akronim. Contohnya BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa), SIM (Surat Izin Mengemudi), atau tilang (bukti pelanggaran). Akronim sering menjadi istilah resmi yang diterima secara luas.
4. Kontraksi adalah Jiwa Bahasa Gaul
Inilah wilayah kreativitas tak terbatas: mager (males gerak), gabut (gak ada kerjaan), dikit (sedikit), gitu (begitu), mantul (mantap betul). Kontraksi lahir dari percakapan informal dan sering menjadi penanda generasi atau komunitas tertentu.
5. Lambang Huruf adalah Bahasa Universal
Seperti “kg” untuk kilogram, “H-1” untuk hari sebelum event, atau “RP” untuk rupiah. Ini adalah bentuk abreviasi yang sudah terstandarisasi dan dipahami lintas konteks.
Mengapa Kita Suka Memendekkan Kata?
Alasannya sederhana namun kuat efisiensi. Di dunia yang serba cepat, waktu adalah sumber daya berharga. Mengatakan “BEM” lebih cepat daripada “Badan Eksekutif Mahasiswa”. Menulis “mager” di chat lebih ringkas daripada menjelaskan “lagi malas banget buat gerak”.
Tapi lebih dari itu, abreviasi juga berfungsi sosial ia menciptakan rasa kekelompokan. Ketika sesama mahasiswa menggunakan istilah seperti “KRS”, “KTM”, atau “mager” mereka sedang memperkuat identitas bersama sebagai bagian dari komunitas kampus. Bahasa menjadi alat pengikat yang tak terlihat.
Dampak dan Solusi Abreviasi
Di satu sisi, abreviasi menunjukkan kreativitas berbahasa. Ia membuktikan bahwa bahasa Indonesia itu hidup, lentur, dan mampu beradaptasi dengan kebutuhan zaman. Banyak kata yang awalnya singkatan atau akronim kini sudah diterima sebagai kata baku, seperti “tilang” atau “SIM”.
Namun, ada juga kekhawatiran penggunaan abreviasi berlebihan, terutama di kalangan pelajar, dikhawatirkan dapat mengikis kemampuan berbahasa formal. Tidak semua orang memahami “KTM” atau “BEM” apalagi “mager” dan “gabut”. Di sinilah pentingnya kesadaran sendiri kapan menggunakan bahasa formal, kapan boleh santai. Sebagai pengguna bahasa yang cerdas, kita bisa memanfaatkan abreviasi tanpa kehilangan kemampuan berbahasa yang baik dan benar. Ada beberapa prinsip yang bisa dipegang:
- Kenali konteks: Gunakan singkatan resmi di dokumen formal, dan bahasa gaul di percakapan santai.
- Jangan berlebihan: Terlalu banyak singkatan bisa membuat pesan sulit dipahami.
- Hargai lawan bicara: Pastikan orang yang diajak berkomunikasi paham dengan singkatan yang kita gunakan.
Abreviasi bukanlah ancaman, melainkan bukti bahwa bahasa Indonesia terus bernapas, tumbuh, dan menyesuaikan diri dengan zamannya. Dari kampus ke media sosial, dari ruang rapat ke grup chat, pemendekan kata telah menjadi bagian tak terpisahkan dari cara kita berkomunikasi.
Yang terpenting adalah kita menyikapinya dengan bijak: merayakan kreativitasnya, tetapi juga menjaga kejelasan dan kepatuhan pada kaidah ketika diperlukan. Sebab, pada akhirnya, bahasa terbaik adalah bahasa yang bisa dipahami atau bahasa tanpa singkatan.
Biodata Penulis:
Cynthia Syafarani, lahir pada tanggal 3 Juni 2006 di Padang, saat ini aktif sebagai mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, di Universitas Andalas, Padang. Ia menyukai dunia sastra sejak di bangku SMA. Penulis bisa disapa di Instagram @Vzhrtyaa_