Sukoharjo – dalam sebuah pencapaian yang pantas dibanggakan (atau tidak), Bundaran Proliman Sukoharjo resmi masuk dalam daftar simpang lima paling demokratis di Indonesia. Demokratis dalam artian semua orang punya hak yang sama untuk bikin chaos, tentunya.
Proliman, singkatan dari “Perempatan Lima” adalah persimpangan legendaris yang menyatukan lima jalan sekaligus. Lima jalan yang bertemu di sini menciptakan ekosistem lalu lintas yang unik, ada yang dari arah Grogol yang pengen cepat sampai rumah, ada yang dari Solo Baru dengan kendaraan barunya, ada yang dari Nguter yang santuy kayak lagi jalan-jalan sore, ada yang dari pusat kota Sukoharjo yang udah terkenal banget, dan juga ada yang dari arah Wonogiri.
Setelah berkali-kali melewati Proliman Sukoharjo dan ngamatin orang-orang sambil nunggu lampu merah, ternyata 7 dari 10 pengendara di Proliman percaya bahwa lampu sein itu cuma hiasan. Fungsi utamanya bukan untuk kasih tahu mau belok ke mana, tapi untuk memastikan aki motor masih bagus… mungkin.
“Kalau pakai sein ntar disalip duluan sama yang lain kan rugi, lagian kalau semua orang juga nggak pakai sein, kenapa saya harus pake?” ujar Pak Kris, 42, pengendara yang mengaku sudah bertahun-tahun melewati Proliman tanpa pernah menggunakan sein. Logika Pak Kris ini, meskipun aneh, ternyata dianut oleh mayoritas pengendara di Proliman.
Pukul 16.00-18.00 adalah prime time di Proliman. Ini adalah saat di mana teori survival of the fittest benar-benar diuji. Motor beradu strategi dengan mobil, mobil bernegosiasi dengan truk, dan truk… ya truk bebas mau ngapain aja. “Kalau nggak maju ya bakal diserobot, kalau diserobot ya nanti nggak bisa pulang-pulang,” jelas Pak Kris.
Di tengah Bundaran Proliman berdiri Tugu Adipura. Sebuah monumen yang mungkin awalnya dibangun dengan harapan membuat bundaran ini tertib dan indah. Tapi nyatanya, tugu ini menjadi saksi bisu betapa liarnya kehidupan di sekelilingnya. “Ketika saya pakai sein untuk pindah jalur, malah diklakson sama pengendara di belakang saya. Mungkin mereka ngira sein saya rusak kali ya”. Ucap Dinda, 19, dengan polos.
Tugu Adipura bahkan pernah jadi venue nobar Piala Asia U-23, di mana ribuan warga berkumpul untuk nonton bareng. Ironis memang, warga bisa kompak nonton bola bareng, tapi begitu naik kendaraan di bundaran yang sama, solidaritas langsung hilang.
Tips bertahan hidup di Proliman:
- Kontak mata adalah kunci. Tapi jangan terlalu lama, nanti dikira mau ngajak berantem.
- Sein itu opsional. Tapi klakson adalah nomor satu.
- Jaga jarak aman. Sekitar 0,5 cm dari kendaraan depan, lebih dari itu akan diserobot.
Bundaran Proliman Sukoharjo adalah bukti nyata bahwa manusia bisa beradaptasi dengan kondisi apapun, termasuk kondisi lalu lintas yang seharusnya tidak mungkin. Ini adalah tempat natural selection terjadi setiap hari, dan yang survive adalah mereka yang paling nekat, paling pede, dan paling nggak peduli sama aturan.
Tapi entah kenapa, kita semua tetap cinta sama bundaran ini. Mungkin karena adrenalin rush yang didapat di sini nggak bisa ditandingi wahana ekstrem manapun. Atau mungkin karena kita sudah terlalu males untuk cari jalan alternatif.
Biodata Penulis:
Restiana Bella Novianti saat ini aktif sebagai mahasiswa di Universitas Sebelas Maret.