Oleh Aisyah Labibah
Di wilayah pesisir Pemalang, terutama di Desa Asemdoyong dan Sugihwaras, masyarakat menjaga sebuah tradisi tahunan bernama Baritan, yaitu upacara sedekah laut yang dilakukan sebagai wujud syukur atas hasil tangkapan yang diberikan Tuhan sepanjang tahun. Tradisi ini berkembang dari kehidupan masyarakat nelayan yang sangat bergantung pada laut sebagai sumber penghidupan. Baritan menjadi ruang untuk menggambarkan rasa terima kasih, sekaligus permohonan keselamatan bagi para nelayan yang setiap hari menghadapi risiko di tengah ombak.
Pelaksanaan Baritan dilakukan setahun sekali pada bulan Suro (Muharam) dalam penanggalan Jawa. Warga biasanya berkumpul di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) sebalum prosesi utama dimulai. Sejak pagi, nelayan dan keluarga mereka mempersiapkan sesaji yang akan dilarung ke laut, termasuk miniatur kapal atau ancak/jolen sebagai wadah. Tradisi ini tidak hanya menjadi acara religious, tetapi juga menjadi waktu untuk mempertemukan seluruh warga pesisir dalam suasana yang penuh kebersamaan. Persiapan ini sering dilakukan secara gotong royong sehingga memperkuat hubungan sosial antarwarga.
Prosesi utama Baritan adalah melarung sesaji ke tengah laut. Sesaji tersebut dapat berupa kepala kerbau, ayam hidup, jajanan pasar, hasil bumi, hingga aneka makanan yang disusun dalam bentuk yang disebut Gemplo, Cantrang, atau Garok Saat prosesi berlangsung, para sesepuh memimpin doa yang dipanjatkan dengan harapan agar nelayan diberi keselamatan, rezeki yang lancer, dan laut tetap memberikan hasil yang melimpah. Kapal-kapal nelayan kemudian mengiringi ancak yang membawa sesaji menuju area pelarungan, menciptakan pemandangan yang kuat secara simbolis dan penuh nilai spiritual.
Setelah prosesi selesai, masyarakat melanjutkannya dengan acara manganan, yaitu makan bersama dan berebut makanan dari sesaji. Tradisi manganan dipercaya membawa berkah dan menjadi bagian yang paling meriah dalam Baritan. Warga dari berbagai kalangan ikut serta, dari anak-anak hingga para tetua desa. Suasana TPI berubah menjadi ruang berkumpul yang ramai, penuh tawa, saling berbagi makanan, dan percakapan ringan. Manganan memperlihatkan bahwa Baritan bukan hanya ritual religious, tetapi juga ritual sosial yang mempertahankan keakraban masyarakat pesisir.
Baritan bagi masyarakat Asemdoyong dan Sugihwaras Adalah identitas budaya yang terus dijaga. Tradisi ini menunjukkan hubungan mendalam antara manusia dan laut sebagai ruang kehidupan. Melalui Baritan, nilai syukur, gotong royong, pelestarian tradisi luhur, serta keharmonisan sosial tetap hidup dari generasi ke generasi. Selama Baritan dilaksanakan, masyarakat pesisir Pemalang memiliki cara bersama untuk merayakan kehidupan, menghormati alam, dan menjaga keberlangsungan budaya yang telah tumbuh sejak lama.
Biodata Penulis:
Aisyah Labibah saat ini aktif sebagai mahasiswa di Universitas Sebelas Maret. Penulis bisa disapa di Instagram @syahlabeeb