Aceh masih belum baik-baik saja.

Basapa: Dinamika Masyarakat dalam Aspek Spiritual, Adat dan Ekonomi

Yuk ikuti jejak Basapa di Ulakan, tradisi Safar yang menghadirkan nilai spiritual, solidaritas sosial, dan denyut ekonomi masyarakat.

Setiap bulan Safar dalam kalender Hijriah, Ulakan di Pariaman, menjadi pusat keramaian. Jalanan yang biasanya sepi dipadati peziarah yang datang dari Aceh, Medan hingga Kalimantan. Mereka datang untuk mengikuti tradisi Basapa, ziarah massal ke makam Syekh Burhanuddin. Tradisi ini bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan jembatan spiritual dan sosial yang sekaligus menghidupkan ekonomi lokal. Sebagai mahasiswa Sastra Indonesia, saya tertarik meneliti bagaimana tradisi ini bertahan di tengah arus modernisasi.

Basapa

Sebagai mahasiswa yang tengah meneliti, saya berkesempatan mengamati dan melakukan wawancara kepada warga setempat. Meskipun tidak menyaksikan secara langsung keramaian dan suasana Basapa yang biasanya terjadi di bulan Safar, cerita mereka membuka mata tentang kompleksitas Basapa. Kata seorang warga Bernama Siti Aisyah, 74 tahun, yang telah ikut sejak kecil. “Ini bukan hanya tentang ziarah, tetapi juga membangun jiwa kemanusiaan dan juga ajaran untuk saling berbagi.” Ibu Siti Aisyah menceritakan bagaimana ia pertama kali ikut Basapa bersama keluarga saat berusia 10 tahun. “Ayah saya bilang, ini warisan turun-temurun. Kami kana bawa bekal dari rumah, masak bersama di tenda-tenda. Rasanya seperti pesta bersama keluarga besar.”

Basapa memiliki tingkatan, Basapa Gadang dilaksanakan 10 hari timbul bulan Safar dan menarik hingga 2.000 orang, serta Basapa Ketek seminggu kemudian. Di Sungai Sariak, ada Basapa Ungku Saliah yang unik dengan pemotongan kerbau oleh peziarah sendiri, sebuah ritual yang menunjukan komitmen pribadi setiap peziarah terhadap sedekah. Kegiatan utama Basapa meliputi melihat pusara, dzikir sepanjang malam, dan shalat semalam suntuk. Syekh Burhanuddin, ulama besar abad ke-17 yang menyebarkan ajaran Syattariyah, menjadi yang pusat perhatian. Dari keterangan yang Ibu Siti Aisyah berikan Syekh Burhanuddin berasal dari Padang Panjang, setelah berusia enam tahun dibawa oleh Ibunya ke Sintuak, saat dewasa Syekh Burhanuddin mengaji di tiram, lalu pergi ke Aceh untuk mengaji kepada Rauf. Setelah dari Aceh Syekh Burhanuddin kembali ke Pariaman tepatnya di Ulakan dan menyebarkan ajaran agama Islam kepada masyarakat sekitar.

Tradisi ini melibatkan berbagai pihak, seperti jamaah Syattariyah, ulama, tokoh adat seperti Datuk, Khatib, dan Labai, serta pedagang lokal. Peziarah akan membawa bekal beras dan sembako, yang dimasak bersama atau dibagikan berupa bentuk sedekah dan rasa syukur. Tenda-tenda besar yang didirikan saat prosesi Basapa berlangsung di sekitar makam, menciptakan suasana seperti pesta besar. Setiap orang akan memiliki tugasnya masing-masing dan terintegrasi dalam harmoni.

Secara ekonomi, Basapa menjadi suatu berkah. Warga membuka warung dadakan menjual makanan, pakaian dan oleh-oleh. “Bulan Safar merupakan waktu yang ditunggu para warga untuk tambah pendapatan,” kata seorang pedagang, Ali 52 tahun. Ia menceritakan bagaimana keluarganya menyiapkan stok jauh-jauh hari. Selain itu pedagang keliling dari luar daerah juga datang menciptakan pasar yang sangat meriah di jalur menuju makam. Berdasarkan estimasi warga, pendapatan bisa meningkat 30-50% dari hari biasanya.

Basapa juga dapat dilihat dalam kajian Folklor, sebagai folklor semi lisan. Dalam Basapa terdapat unsur lisannya seperti zikir, doa-doa, shalawat dan unsur nonlisannya berupa prosesi ziarah ke makam, dan arak-arakan. Menurut ahli folklor Indonesia James Danandjaja dalam bukunya “Folklore Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng dan lain-lain”, folklore semi-lisan seperti Basapa adalah bentuk tradisi yang menggabungkan elemen verbal (seperti zikir dan doa-doa) dengan performa fisik (seperti prosesi ziarah dan pawai), yang berfungsi sebagai sarana pemertahanan identitas budaya dan solidaritas sosial. Danandjaja menjelaskan bahwa unsur lisan dalam folklor ini, seperti shalawat, membantu memperkuat ikatan emosional antar peserta, sementara unsur non-lisan seperti arak-arakan memperlihatkan ekspresi kolektif masyarakat.

Basapa bukan hanya keagamaan, tapi adat. Tata cara dijaga merujuk pada ajaran lama, tetapi dapat mengikuti perkembangan zaman. Tokoh seperti Datuk, Khatib, Tuanku, Labai mengikuti seluruh prosesi dan peziarah akan datang dalam rombongan besar, bawa bekal, naik truk ataupun bus. Meski jarak jauh, mereka akan tetap datang. Ini menunjukan pengaruh Syekh Burhanuddin yang sangat luas tidak hanya di pulau Sumatera.

Dari wawancara dan observasi, saya simpulkan bahwa Basapa hidup karena keyakinan dan kebersamaan. Di era modern, tradisi Basapa ini tetap relevan, menjadi jembatan spiritual dan ekonomi masyarakat. Basapa adalah warisan yang harus dijaga untuk generasi mendatang. Ia akan terus berkembang, bukan hanya sebagai tradisi, tetapi juga sebagai inspirasi nasional.

Situasi Basapa di lapangan juga memperlihatkan dinamika sosial yang menarik. Pada hari-hari pelaksanaan, suasana Ulakan berubah drastis. Sejak pagi, suara mesin kendaraan bercampur dengan lantunan selawat dari pengeras suara masjid. Anak-anak berlarian di sekitar tenda, sementara orang tua sibuk menyiapkan makanan bersama. Aroma gulai, nasi, dan kopi hitam menyatu dengan udara, menciptakan suasana yang khas. Situasi ini juga menciptakan ruang perjumpaan lintas usia, daerah, bahkan kelas sosial. Peziarah yang baru pertama kali datang akan disambut layaknya keluarga.

Di tengah keramaian tersebut, tampak pula praktik nilai adat Minangkabau yang hidup. Prinsip dunsanak (kekerabatan) dan gotong royong tercermin jelas. Warga sekitar dengan sukarela meminjamkan halaman rumah, kamar mandi, hingga peralatan masak untuk peziarah. Tidak jarang terjadi percakapan yang panjang antar orang yang sebelumnya tidak saling mengenal, namun kemudian merasa terikat oleh tujuan spiritual yang sama. Situasi ini menunjukkan bahwa Basapa tidak hanya mengaktifkan ruang religius, tetapi juga ruang sosial yang cair dan hangat.

Menariknya, generasi muda juga mulai mengambil peran. Meski sering dianggap kurang tertarik pada tradisi, dalam Basapa mereka terlibat sebagai panitia, pengatur lalu lintas, hingga pengelola media sosial surau atau kelompok jamaah. Beberapa pemuda mendokumentasikan prosesi Basapa dan membagikannya melalui platform digital. Hal ini menandakan adanya adaptasi tradisi ke ruang baru tanpa menghilangkan makna dasarnya. Situasi ini memperlihatkan bahwa modernisasi tidak selalu menjadi ancaman, melainkan bisa menjadi sarana keberlanjutan tradisi.

Namun, situasi Basapa juga menghadapi tantangan. Lonjakan peziarah memicu persoalan kebersihan, kepadatan, dan keamanan. Sampah sisa makanan dan plastik sering kali menumpuk jika tidak dikelola dengan baik. Beberapa warga mengakui bahwa perlu ada pengaturan yang lebih terstruktur agar Basapa tetap nyaman dan lestari. Di sisi lain, keterlibatan pemerintah daerah memang sudah ada tetapi tampaknya masih belum maksimal, terutama dalam penyediaan fasilitas umum dan pengelolaan arus pengunjung.

Meski demikian, semangat masyarakat menjadi kunci utama keberlangsungan Basapa. Situasi yang terjadi setiap Safar memperlihatkan bahwa tradisi ini bukan sekadar peristiwa tahunan, tetapi ruang untuk saling mengenal dan bercengkrama. Basapa hadir sebagai praktik budaya yang lentur, berakar kuat pada nilai spiritual dan adat, namun terbuka pada perubahan sosial. Dalam situasi inilah Basapa menemukan kekuatannya, sebagai tradisi yang tidak kaku, tetapi terus bergerak bersama masyarakat dan khalayak.

Hasbi Witir

Biodata Penulis:

Hasbi Witir saat ini aktif sebagai mahasiswa, Sastra Indonesia, di Universitas Andalas.

© Sepenuhnya. All rights reserved.