Oleh Nabila
Kandang sapi terletak tepat di samping rumah kami. Lokasinya tidak terlalu jauh, tetapi cukup dekat sehingga baunya selalu menyusup ke dalam rumah. Di sana, sapi-sapi itu berdiri, makan, dan menjadi bagian tak terpisahkan dari rutinitas harian keluarga kami.
Bagi kami, sapi bukan sekadar hewan ternak. Ia merupakan hal yang tak bisa terpisahkan dari kehidupan yang dijalani secara bertahap, hari demi hari. Bapak telah memelihara sapi sejak saya masih kecil, sehingga sapi selalu hadir di sekitar rumah. Saya tumbuh ditemani suara khas sapi "moo” dan rutinitas pemberian pakan. Dari kandang itulah, saya mulai memahami makna tanggung jawab merawat sesuatu.
Lebih dari Sekadar Pakan
Banyak orang mengira memelihara sapi adalah tugas sederhana, cukup memberi makan dan minum, lalu menunggu saat penjualan. Padahal, sapi memerlukan perhatian yang jauh lebih intensif daripada yang tampak dari luar.
Pakan harus diberikan dalam jumlah mencukupi dengan jadwal yang teratur, sementara kondisi kesehatan tubuhnya terus dipantau. Bapak tidak pernah benar-benar libur dari urusan sapi, baik saat hujan deras maupun panas terik. Ketika sapi sakit, perawatannya menjadi lebih serius, termasuk memanggil dokter hewan. Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa investasi tidak selalu berbentuk uang, kadang berupa waktu dan tenaga yang dikeluarkan secara konsisten.
Suara dan Bau yang Menyertai
Rumah kami selalu terdengar suara khas sap, lenguhan yang terdengar sejak pagi hingga malam. Suara itu kadang keras, tiba-tiba, dan sering kali mengganggu. Ia menjadi latar belakang kehidupan yang sulit dihindari. Belum lagi bau kandang, yang tidak pernah benar-benar hilang menempel di udara, pakaian, bahkan ingatan. Dari sapi, kami belajar bahwa hal-hal berharga tidak selalu nyaman, ada aspek-aspeknya yang harus diterima meskipun tidak menyenangkan.
Cara Hidup di Desa
Di desa kami, sapi berfungsi sebagai bentuk simpanan jangka panjang. Banyak warga membelinya sebagai investasi, merawatnya selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun dengan penuh kesabaran. Sapi-sapi itu dipersiapkan untuk momen tertentu. Menjelang Idul Adha, suasana desa berubah, orang-orang mulai menawarkan sapi mereka, harga melonjak, permintaan membanjir, dan kandang-kandang menjadi ramai. Sapi bukan sekadar hewan, melainkan hasil dari proses panjang. Cara desa bertahan hidup sering kali sesederhana itu.
Idul Adha yang Unik
Idul Adha selalu terasa berbeda di rumah kami. Bukan hanya sebagai momen ibadah, tetapi juga puncak dari penantian panjang. Sapi yang dirawat lama akhirnya dijual, sehingga uang mengalir ke keluarga. Anak-anak dari keluarga peternak sapi sering kali lebih bersemangat saat hari raya ini, karena uang saku mereka lebih banyak dibandingkan saat Idul Fitri yang terasa biasa saja. Hari raya kurban menjadi momen "kaya" bagi anak desa, di mana kekayaan berasal dari kandang, bukan sekadar amplop THR. Namun, terkadang kami merasa sedih harus berpisah dengan sapi yang telah dirawat lama, bahkan tak tega untuk memakan dagingnya.
Pelajaran yang Bertahan Lama
Memelihara sapi mengajarkan kami banyak hal, tentang kesabaran menunggu tanpa tergesa-gesa, merawat sesuatu tanpa jaminan hasil cepat, serta menerima suara dan bau sebagai bagian dari kehidupan. Sapi berdiri diam di kandangnya, tetapi maknanya tumbuh secara perlahan. Sapi mengingatkan bahwa nilai sesuatu tidak selalu datang secara instan ada proses panjang yang sering kali luput dari perhatian. Di rumah kami, sapi bukan hanya investasi finansial, melainkan pelajaran hidup yang berjalan pelan, tetapi meninggalkan jejak mendalam.
Biodata Penulis:
Nabila saat ini aktif sebagai mahasiswa, Pendidikan Ekonomi, di UNS. Penulis bisa disapa di Instagram @laa.blla