Oleh Jenny Tiara Kamal
Kadang aku mikir, hidup itu sebenernya nggak selalu berat, tapi sering kali dibuat berat sama ekspektasi. Ekspektasi dari orang lain, ekspektasi dari lingkungan, bahkan ekspektasi yang tanpa sadar kita pasang ke diri sendiri. Kita dituntut buat tampil “oke”, buat kelihatan kuat, buat kelihatan berhasil, padahal di dalam kepala sering kali lagi berisik banget. Capek, bingung, ngerasa kurang, tapi tetap harus jalan. Dan lucunya, di dunia yang katanya makin terbuka ini, justru makin gampang orang saling nge-judge. Sedikit beda dikit, langsung jadi bahan omongan. Sedikit nggak sesuai standar, langsung dianggap aneh.
Film Wonder tuh rasanya kayak ngaca, tapi kaca yang jujur. Bukan kaca Instagram yang penuh filter, tapi kaca yang nunjukkin realita apa adanya. Ceritanya tentang Auggie Pullman, anak kecil yang hidupnya dari awal udah harus akrab sama perasaan nggak nyaman karena kondisi wajahnya yang berbeda. Dia nggak pernah minta buat terlahir seperti itu, tapi dunia seolah lupa soal itu. Yang orang lihat cuma “beda”-nya, bukan manusianya.
Sejak kecil, Auggie udah kebiasa sama tatapan orang. Tatapan yang bikin dia sadar kalau kehadirannya selalu diperhatiin. Kadang tatapan penasaran, kadang tatapan kasihan, kadang tatapan yang bikin dada sesak walaupun nggak ada kata-kata yang keluar. Dari kecil aja dia udah belajar satu hal pahit: jadi berbeda itu sering kali bikin seseorang harus berjuang lebih keras, bahkan cuma buat diterima secara normal.
Waktu Auggie akhirnya masuk sekolah, itu bukan sekadar langkah kecil. Itu lompatan besar ke dunia yang selama ini dia hindari. Sekolah yang buat anak lain mungkin tempat seru, buat Auggie justru jadi arena penuh ketegangan. Setiap hari datang ke sekolah rasanya kayak bawa beban sendiri. Bukan cuma tas di punggung, tapi juga rasa takut di kepala. Takut dijauhi. Takut ditertawakan. Takut dianggap aneh. Dan yang paling menyakitkan, takut kalau semua ketakutan itu ternyata benar.
Di sinilah kelihatan jelas gimana lingkungan bisa pelan-pelan ngebentuk konsep diri seseorang. Awalnya mungkin Auggie masih punya rasa percaya diri, tapi ketika respons yang dia terima lebih banyak penolakan, perlahan rasa itu terkikis. Tatapan orang lain berubah jadi suara di kepalanya sendiri. Suara yang bilang kalau dia nggak cukup, kalau dia beda, kalau mungkin dunia memang nggak nyiapin tempat yang nyaman buat dia. Dan tanpa sadar, dia mulai menyesuaikan diri bukan buat berkembang, tapi buat bertahan.
Dia jadi anak yang super hati-hati. Nggak mau ribut. Nggak mau menonjol. Nggak mau kelihatan terlalu “ada”. Karena buat Auggie, jadi kelihatan itu sering kali artinya siap disakiti. Dan ini tuh sedih, tapi juga relate. Karena banyak dari kita juga pernah ada di posisi kayak gitu. Entah karena penampilan, latar belakang, kemampuan akademik, ekonomi, atau kepribadian. Kita belajar buat menyembunyikan bagian tertentu dari diri sendiri demi diterima.
Untungnya, Auggie punya rumah yang benar-benar jadi tempat pulang. Di rumah, dia nggak harus menjelaskan siapa dirinya. Nggak perlu membuktikan apa-apa. Dia boleh capek, boleh kesel, boleh marah, dan tetap diterima. Keluarganya nggak menuntut dia buat jadi “lebih normal” atau “lebih kuat”. Mereka nerima Auggie apa adanya. Dan penerimaan kayak gini tuh bukan hal kecil. Buat kesehatan mental, ini kayak fondasi. Tanpa fondasi itu, seseorang mungkin bisa bertahan, tapi rapuh.
Masalahnya, dunia di luar rumah nggak sehangat itu. Begitu Auggie balik ke sekolah, realita tetap keras. Ada teman yang tulus, ada yang setengah-setengah, dan ada yang terang-terangan nyakitin. Yang bikin ceritanya terasa nyata, kebanyakan orang yang nyakitin Auggie nggak selalu berniat jahat. Banyak yang cuma ikut-ikutan, nggak peka, atau ngerasa apa yang mereka lakukan itu biasa aja. Candaan receh, komentar nggak sensitif, atau sikap menjauh yang kelihatannya sepele, tapi kalau terjadi terus-menerus, bisa ninggalin luka yang dalam.
Budaya “ah cuma bercanda” itu sering banget kita temuin di kehidupan sehari-hari. Padahal, bercanda tanpa empati itu bukan bercanda, tapi nyakitin. Dan yang kena dampaknya sering kali malah disuruh maklum. Disuruh sabar. Disuruh kuat. Seolah-olah perasaan mereka nggak penting. Auggie ngalamin itu berkali-kali. Dan tiap kejadian kecil itu nambah satu lapisan luka.
Tapi film ini nggak berhenti di penderitaan. Pelan-pelan, Auggie mulai ketemu orang-orang yang bikin dia ngerasa aman. Orang-orang yang mau duduk di sebelahnya. Mau ngobrol tanpa niat menghakimi. Mau mengenal dia bukan karena rasa kasihan, tapi karena ketertarikan yang tulus. Dari momen-momen kecil inilah Auggie mulai belajar bahwa dunia nggak sepenuhnya jahat. Bahwa masih ada ruang buat dia tumbuh.
Proses ini nggak instan. Auggie nggak tiba-tiba jadi super percaya diri atau kebal sama omongan orang. Dia tetap sakit hati. Tetap kecewa. Tetap pengin nyerah di beberapa titik. Tapi justru di situ ceritanya terasa manusiawi. Karena tumbuh itu nggak pernah lurus. Selalu ada jatuh bangun. Selalu ada hari di mana kita ngerasa kuat, dan hari di mana kita pengin ngilang aja.
Kalau cerita Auggie ditarik ke kehidupan remaja dan anak muda sekarang, rasanya malah makin relevan. Kita hidup di era media sosial, di mana semua orang kelihatan punya hidup yang rapi. Semua orang kelihatan bahagia, produktif, dan sukses. Padahal yang kita lihat cuma potongan terbaik dari hidup mereka. Tapi tetap aja, kita ngebandingin. Dan dari perbandingan itu, muncul rasa nggak cukup. Ngerasa hidup sendiri kok berantakan. Ngerasa diri sendiri kok tertinggal.
Banyak anak muda akhirnya kelelahan secara mental. Bukan karena mereka lemah, tapi karena terlalu sering merasa harus mengejar standar yang nggak realistis. Standar cantik, standar sukses, standar bahagia. Dan ironisnya, semakin dikejar, semakin jauh rasanya. Di titik ini, pesan Wonder jadi kerasa kuat banget: hidup bukan soal kelihatan sempurna, tapi soal berdamai dengan diri sendiri.
Dari sudut pandang bimbingan dan konseling, film ini sebenarnya kaya banget makna. Lingkungan sekolah dan keluarga punya peran besar dalam membentuk kepribadian dan kesehatan mental seseorang. Ketika lingkungan aman dan penuh penerimaan, individu lebih berani jadi diri sendiri. Lebih jujur sama perasaannya. Lebih siap berkembang. Tapi ketika lingkungan penuh penilaian, orang justru makin nutup diri dan merasa sendirian.
Kalau direnungin lebih jauh, hampir semua orang pernah jadi “Auggie” dalam versi masing-masing. Pernah ngerasa beda. Pernah ngerasa nggak cukup. Pernah ngerasa harus berubah demi diterima. Dan di sisi lain, tanpa sadar, kita juga pernah jadi bagian dari lingkungan yang bikin orang lain ngerasa kayak gitu. Entah lewat candaan, komentar, atau sikap diam saat melihat ketidakadilan.
Film ini ngajak kita buat berhenti sebentar dan mikir. Tentang cara kita memperlakukan orang lain. Tentang seberapa sering kita menilai tanpa benar-benar mengenal. Tentang seberapa jarang kita benar-benar mendengarkan. Karena kadang, yang dibutuhkan seseorang cuma satu hal sederhana: diterima.
Pada akhirnya, Wonder bukan cerita tentang jadi kuat, bukan juga tentang jadi hebat di mata orang lain. Ini cerita tentang keberanian buat tetap jadi diri sendiri di dunia yang sering kali nggak ramah. Tentang belajar menerima diri apa adanya, sambil berharap lingkungan juga belajar untuk lebih manusiawi. Dunia mungkin nggak langsung berubah. Tapi perubahan kecil selalu bisa dimulai dari sikap kita. Dari empati yang sederhana. Dari keputusan buat nggak ikut-ikutan menghakimi.
Karena di balik setiap orang yang terlihat “baik-baik aja”, mungkin ada Auggie lain yang lagi berjuang diam-diam. Dan kadang, satu sikap hangat aja udah cukup buat bikin seseorang ngerasa, “Oh, ternyata aku masih punya tempat di dunia ini.”
Daftar Pustaka:
- Rogers, C. R. (1995). On becoming a person: A therapist's view of psychotherapy. Houghton Mifflin Harcourt.
- Rogers, C. R. (1995). A way of being. Houghton Mifflin Harcourt.
- Dibaj, F. (2018). August Pullman’s Self-Identity As Disabled Person In Stephen Chbosky’s Wonder Movie.
- Palmer, S. (2018). Why Wonder Is a Powerful Film About Empathy and Acceptance. Psychology Today.
- Santrock, J. W. (2019). Life-Span Development. New York: McGraw-Hill Education.
Biodata Penulis:
Jenny Tiara Kamal saat ini aktif sebagai mahasiswa, Bimbingan dan Konseling, di Universitas Sebelas Maret.