Catatan: Lagu The Fate of Ophelia tersedia di semua platform streaming sebagai bagian dari album The Life of a Showgirl.
Dua bulan pasca perilisan album ke-12 yang mengejutkan, The Life of a Showgirl, Taylor Swift masih mendominasi tangga lagu global. Namun, bukan hanya irama synth-pop karya Max Martin yang membuat penggemar terpaku, melainkan lirik cerdas dalam single utamanya, "The Fate of Ophelia".
Dalam lagu ini, Swift kembali menggunakan referensi sastra klasik, kali ini drama Hamlet karya William Shakespeare, namun dengan plot twist yang mengejutkan: ia menolak akhir yang tragis.
Dari Sungai ke Stadion: Menulis Ulang Takdir Ophelia
Bagi penikmat sastra, karakter Ophelia dalam Hamlet dikenal sebagai sosok tragis yang menjadi gila karena cinta dan manipulasi, hingga akhirnya tenggelam di sungai. Dalam diskografi Swift sebelumnya, citra "tenggelam" dan "kegilaan" sering muncul (seperti dalam Cardigan, Clean, atau Mad Woman). Namun, di The Fate of Ophelia, Swift secara eksplisit menyatakan bahwa ia telah diselamatkan dari nasib buruk tersebut.
Lirik pada chorus yang kini viral di TikTok menjadi inti dari narasi ini:
"Late one night, you dug me out of my grave and / Saved my heart from the fate of Ophelia."
Para kritikus musik memuji cara Swift membandingkan isolasi dan kesedihan masa lalunya dengan "menara" dan "kuburan", sebelum akhirnya sosok sang kekasih datang untuk "menggali"-nya keluar. Jika Ophelia diabaikan oleh Hamlet dan dikendalikan oleh ayahnya hingga hancur, narator dalam lagu Swift justru menemukan seseorang yang honing his powers (mengasah kekuatannya) untuk menyelamatkannya.
Kode Cinta untuk Travis Kelce?
Sulit untuk tidak mengaitkan lagu ini dengan hubungan Swift dan bintang NFL, Travis Kelce. Lirik lagu ini penuh dengan metafora yang tidak terlalu halus mengenai kesetiaan dan "tim".
Penggalan lirik "Pledge allegiance to your hands, your team, your vibes" dan "Keep it one hundred on the land, the sea, the sky" dianggap penggemar sebagai referensi langsung pada dukungan publik yang saling mereka berikan. Swift seolah menegaskan bahwa berbeda dengan kisah cintanya yang lalu yang ia sebut sebagai "cold bed full of scorpions" (ranjang dingin penuh kalajengking), hubungan kali ini menawarkan keamanan dan stabilitas yang mencegahnya "tenggelam dalam melankolia".
Kembalinya Sentuhan Emas Max Martin
Secara musikal, The Fate of Ophelia menandai kembalinya kerja sama Swift dengan duo produser legendaris Max Martin dan Shellback. Berbeda dengan nuansa folk akustik di era Evermore atau synth melankolis Midnights, lagu ini menyajikan beat upbeat dengan groove new wave yang mengingatkan pada era 1989.
Keputusan ini dinilai jenius oleh para pengamat industri. Dengan lirik yang cukup berat (membahas kematian dan kegilaan), produksi musik yang energik dan danceable memberikan kontras yang menarik. Sebuah perayaan bahwa masa-masa "penyair tersiksa" (tortured poets) telah usai, digantikan oleh era "gadis panggung" (showgirl) yang gemerlap dan bahagia.
Dominasi Tangga Lagu
Sejak dirilis pada Oktober 2025, The Fate of Ophelia telah memecahkan rekor sebagai lagu ke-14 Swift yang debut di posisi Top 10 Pop Airplay. Video musiknya, yang menampilkan visual Swift hampir tenggelam namun kemudian ditarik ke atas permukaan air dengan bibir merah menyala, telah ditonton ratusan juta kali, mempertegas pesan bahwa kali ini, sang protagonis selamat.
Lagu ini bukan sekadar syair cinta, ini adalah pernyataan sintas (survivor). Swift memberi tahu dunia bahwa ia hampir saja menjadi Ophelia, gadis yang hancur oleh narasi orang lain, tetapi takdir berkata lain.
Penulis:
- Afreza Feba Duantara
- Muhammad Zakiy Faturrahman
- Anggit Satriyo Pangestu