Bukan Sekadar Menyuruh Anak Diam: Pendekatan Polya dalam Mengatasi Masalah Perilaku Anak Usia Dini

Jangan buru-buru melarang anak. Yuk pelajari cara memahami tingkah laku anak usia dini dan menyikapinya dengan tepat melalui metode Polya.

Oleh Aprilia Wulandini

Di ruang kelas tempat anak-anak berada pasti terdengar suara berisik, yang tidak bisa diam, berebut mainan, dan tangisan kencang. Semua itu kejadian biasa, dan tentu saja ada sebab di balik tingkah laku mereka. Kalaupun suasana begini terjadi di sekolah PAUD, kebanyakan orang mungkin menganggapnya hal yang biasa saja atau normal walau itu pastinya mengganggu orang-orang yang ada di sekitarnya. Sering kali orang tua si anak yang sedang menunggu anaknya sekolah itu akan menanggapi perilaku mereka dengan “jangan lari-lari nanti jatuh”, “balikin mainan temannya dek, nanti kita beli pulangnya ya” atau bahkan dengan bentuk ancaman seperti “jangan nangis nanti dimarahin ibu guru loh”. Semua jenis larangan, ancaman, dan janji palsu seperti itu jelas bisa berdampak pada anak. Kalau terus-menerus begini, anak jadi ragu mau melakukan banyak hal, padahal itu bagian dari proses mereka tumbuh dan berkembang.

Bukan Sekadar Menyuruh Anak Diam

Yang lebih memprihatinkan, jika hal ini terjadi di luar sekolah, karena reaksi orang dewasa di sekitar sering kali lebih tegas dan tidak mengizinkan perilaku itu. Biasanya, saat orang dewasa lagi santai di rumah lalu ada anak kecil main gaduh, mereka akan menegur langsung dengan “bisa diem tidak sih, brisik!” Cara-cara seperti ini mungkin dianggap cara instan dan mudah untuk membuat anak langsung diam. Walaupun cara tersebut bisa membuat si anak langsung diam dan tenang tapi hal itu hanya terjadi sesaat saja. Atau bahkan bisa membuat trauma anak, bisa saja si anak akan takut untuk bercerita atau melakukan kegiatan sosial karena teguran-teguran itu. Dan kebanyakan cara ini hanya mengatasi masalah di luarnya saja tanpa menyentuh penyebab utama dari perkembangan sikap anak usia dini. Setelah saya mengerti sedikit tentang dasar anak usia dini, saya semakin sadar bahwa apa yang anak lakukan itu bukannya tanpa sebab. Perilaku mereka itu muncul karena memang sedang berada di fase pertumbuhannya itu. Di masa ini anak sedang sibuk mencari tahu siapa dirinya, bagaimana mengatur emosinya, dan mulai mengerti hubungan sosial di sekelilingnya. Jadi, kelakuan yang dianggap susah diatur atau bermasalah itu sebenarnya adalah bagian dari proses belajar anak. Kita sebagai guru dan orang tua perlu tidak sekadar menganggap itu hal sepele, tapi harus bisa menyikapi masalah tingkah laku anak dengan cara yang teratur dan penuh pemikiran yang matang.

Dalam situasi begini, cara mencari solusi jadi amat penting. Salah satu cara yang bisa dipakai adalah metode pemecahan masalah menurut Polya. Cara pandang ini memberikan jalan pikir yang teratur dan efektif, sehingga proses belajar-mengajar tidak hanya sekadar menanggapi, tapi betul-betul mengupas akar persoalan perilaku.

Tingkah laku anak jelas bukan muncul begitu saja atau tiba-tiba. Setiap apa yang mereka lakukan pasti ada dasarnya, entah itu dorongan fisik, perasaan, atau kebutuhan sosial. Anak biasanya belum bisa mengontrol perasaannya dan sering bertindak tanpa pikir panjang. Contohnya kalau ada anak lari-lari di kelas, itu belum tentu dia sengaja melanggar tata tertib, tapi mungkin saja dia sedang ingin bergerak karena bosan. Lalu anak yang mudah menangis mungkin dia belum bisa mengungkapkan rasa kecewanya dengan kata-kata. Oleh karena itu, bagaimana kita sebagai guru dan orang tua ini bereaksi terhadap tingkah laku si kecil sangat berpengaruh besar pada perkembangan anak. Jika kita sebagai orang dewasa memilih cara yang keras dan memaksa, mungkin anak akan menurut sebentar, namun itu tidak mengajarkan etika atau hal seperti apa yang seharusnya mereka lakukan. Dari pada langsung menyuruh anak diam, kita sebaiknya mencoba mengerti dulu alasan di balik perilaku anak agar kita dapat memastikan anak mendapat bantuan yang benar untuk belajar mengelola diri sendiri.

Langkah awal dalam pendekatan Polya adalah memahami masalah dengan menggali sumber perilaku anak. Untuk anak usia dini, mengerti masalah berarti memperhatikan semua tingkah laku mereka, bukan cuma menilai hasilnya saja sebelum bertindak. Kita juga wajib mencatat kapan aksi itu muncul, terjadi di situasi apa, dan bagaimana reaksi orang sekitar terhadap anak itu.

Misalnya jika seorang anak sering mengusik temannya saat bermain, kita jangan langsung melabeli dengan kata “bandel” atau “nakal”. Lebih baik, guru berupaya mengerti apa yang dirasakan anak itu, apakah mereka jenuh, merasa tersisih, atau kesulitan ikut kegiatan. Pengertian seperti ini penting agar guru tidak salah memilih jalan keluar, misalnya membedakan mana perilaku yang berkaitan dengan pertumbuhan anak dengan mana yang butuh arahan orang dewasa. Karena saat anak berebut mainan itu sangat wajar, anak usia dini itu rasa ingin tahunya sangat tinggi.

Setelah persoalan dipahami, langkah selanjutnya adalah merencanakan pemecahan masalah. Di sesi ini, kita akan menganalisis berbagai kesulitan dan mulai memikirkan cara yang cocok dengan ciri si anak ini. Penyusunan strategi ini tidak boleh asal-asalan, melainkan mesti memperhatikan teori tumbuh kembang, kebutuhan anak, dan kondisi lingkungan belajar si anak dengan teliti.

Untuk mengatasi permasalahan ini, kita bisa mengubah suasana belajar, teknik mengajar, serta cara kita bergaul dengan anak. Saat anak mulai menunjukkan kalau mereka tidak nyaman, misalnya, bosan karena hanya duduk diam dan menyusun balok, sering kali mereka akan melakukan apa saja supaya diperhatikan, seperti bangkit dari kursi lalu berlarian atau ikut campur dalam proyek balok temannya dan anak kebanyakan akan menangis. Sebelum hal-hal ini terjadi kita bisa merancang kembali metode pembelajarannya. Dengan melibatkan anak secara aktif mungkin sedikit membantu. Sebagai contoh, saat mengajar menyusun balok, kita bisa meminta anak untuk mempresentasikan hasil karyanya dan apresiasi seperti “wah, balok buatan kamu bagus banget keren sekali, nih sebenarnya Keysia bikin apa sih coba cerita ke temen-temen Keysia bikin apa”.

Langkah ketiga dalam metode Polya adalah melaksanakan rencana untuk menyelesaikan masalah. Di bagian ini, kita mulai praktikkan cara yang sudah kita susun dalam kegiatan harian. Penerapan ini harus rutin sebab anak usia dini mereka masih belajar lewat sebuah pembiasaan atau pengulangan. Saat menjalankan rencana, kita juga harus jadi contoh bagi mereka. Kita tahu betul anak banyak belajar dari mencontoh. Jika kita menunjukkan sikap sabar, tenang, dan menghargai mereka, sudah pasti mereka akan meniru sikap itu dalam berinteraksi dengan orang lain apalagi saat prosesi belajar. 

Di samping itu, dukungan positif adalah hal sangat penting dalam tahapan ini. Memberi apresiasi atas tingkah laku baik anak dapat meningkatkan rasa percaya dirinya, membuat anak tidak sungkan melakukan hal-hal baru. Sering kali, anak yang kurang percaya diri cenderung menangis saat disuruh melakukan hal baru. Pujian-pujian bisa memotivasi anak untuk mengulang perilaku yang baik dan mendapatkan apresiasi itu. Cara ini sejalan dengan pandangan pendidik yang menguatkan pembentukan sikap lewat pengalaman menyenangkan, bukan dengan menimbulkan rasa takut. 

Bagian akhir dari cara ini adalah mengevaluasi dan merefleksikan hasil upaya penyelesaian masalah. Proses merenung bagi kita sangat berarti untuk bahan kegiatan kita. Kita harus mempertimbangkan apakah cara yang dipakai sudah memberi dampak positif pada anak atau masih perlu diubah. Evaluasi dan refleksi tidak cuma seputar perubahan sikap anak, tapi juga menolong kita untuk terus belajar dan maju karena tidak semua strategi yang dicoba bakal berhasil pada setiap anak, dan mungkin perlu cara yang berbeda untuk memecahkan masalah ini. Dengan tahap ini kita bisa memperbaiki cara kita yang sudah kita gunakan sekaligus semakin mengerti keputusan anak.

Metode Polya menekankan bahwa mencari solusi adalah rangkaian kegiatan yang tidak pernah usai. Jika langkah atau jawaban awal gagal, kita bisa kembali memahami persoalan dan mencoba cara lain. Rangkaian ini memperlihatkan bahwa kita adalah proses belajar yang saling mendukung, baik untuk anak maupun kita.

Isu tingkah laku pada anak usia dini adalah kendala yang melekatkan dalam dunia pengajaran. Akan tetapi, bagaimana kita menyikapi kendala ini sangat berdampak pada pertumbuhan anak. Meminta anak untuk diam mungkin memberi ketenangan sesaat, tapi belum tentu membantu anak dalam waktu lama mengelola dirinya.

Cara mengatasi masalah ala Polya ini bukan hanya tentang mengendalikan sikap, melainkan membimbing anak saat belajar menjadi seseorang yang lebih siap secara sosial serta mental dan menolong kita untuk berpikir teratur saat mencari jalan keluar atas kesulitan yang ada. Jawaban yang digunakan bukan sekadar perbaikan sesaat, melainkan dirancang dengan sasaran pasti untuk mendukung tumbuh kembang anak agar bersikap baik untuk selanjutnya, bukan hanya saat ini.

Daftar Pustaka:

  • Astutiani, R., Isnarto, & Hidayah, I. (2019). Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika dalam Menyelesaikan Soal Cerita Berdasarkan Langkah Polya. Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana UNNES, 2019,288-294. https://proceeding.unnes.ac.id/index.php/snpasca/article/view/284

Biodata Penulis:

Aprilia Wulandini saat ini aktif sebagai mahasiswa, Pendidikan Islam Anak Usia Dini, di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.

© Sepenuhnya. All rights reserved.