Oleh Inas Dian Ferrissa Nabilah
Jakarta tidak pernah benar-benar tidur. Lampu-lampu gedung tetap menyala bahkan setelah tengah malam. Jalanan masih ramai, ojek online hilir mudik, dan warung kopi tetap buka 24 jam. Di kota ini, kecepatan menjadi ukuran keberhasilan. Semua orang terlihat tergesa-gesa, bahkan saat sekadar menyeberang jalan. Seolah waktu adalah musuh yang harus dikalahkan setiap hari.
Seorang teman yang tinggal di Jakarta pernah berkata, “Kalau di Jakarta jam 11 malam mau tidur tuh rasanya ketinggalan sama yang lain.” Kalimat itu terdengar sepele, tapi menyimpan kelelahan yang panjang. Ia bercerita, setiap malam terdengar suara mesin jahit dari rumah tetangganya. Siang bekerja di kantor, malam menjahit baju sampai pagi. Semua bergerak cepat, semua berlari, semua ingin “jadi sesuatu.” Tapi di tengah kecepatan itu, banyak yang diam-diam tumbang.
Fenomena burnout di kalangan gen z kini bukan rahasia lagi. Data dari Journal of Occupational Health Psychology (2023) menunjukkan, lebih dari 40 persen pekerja muda di kota besar mengalami kelelahan kronis akibat tekanan kerja dan ritme hidup yang cepat. Di Jakarta, kelelahan itu sering dianggap hal biasa. Nongkrong sambil curhat soal stres kerja malah jadi humor, bukan tanda bahaya.
Namun, di sisi lain Pulau Jawa, ada kota yang seakan punya ritme berbeda: Solo. Di kota ini, kehidupan berjalan lebih perlahan, lebih manusiawi. Lalu lintas tak sepadat Jakarta, suara klakson jarang terdengar. Pagi-pagi, orang masih bisa jogging di Manahan atau sekadar beli bubur di warung pinggir jalan. Sore hari, warga duduk di teras sambil menyeruput teh hangat. Tak ada dorongan untuk terburu-buru.
Solo memeluk waktu dengan lembut. Bukan berarti kota ini tertinggal, tapi ia tahu cara menikmati jeda. Orang Solo hidup santai, ramah, dan penuh kesabaran. Bagi banyak gen z yang pindah ke kota ini, suasananya menjadi ruang pemulihan dari tekanan hidup metropolis. “Kalau di Jakarta, aku capek ngatur napas. Di Solo, aku baru sadar bisa tarik napas pelan,” kata Bintang, pekerja kreatif asal Depok yang kini bekerja remote dari Solo.
Fenomena ini menarik. Banyak anak muda urban kini memilih kota-kota dengan ritme lambat seperti Solo, Yogyakarta, atau Banyuwangi. Mereka mencari kualitas hidup, bukan sekadar karier. Istilahnya: slow living. Bukan malas, tapi sadar bahwa kecepatan tak selalu berarti kemajuan. Hidup yang baik bukan hanya tentang produktivitas, tapi juga keseimbangan.
Slow living bukan tren musiman, tapi reaksi terhadap kelelahan kolektif. Setelah pandemi, banyak orang muda menyadari bahwa waktu, kesehatan mental, dan kebahagiaan pribadi lebih berharga dari lembur tanpa henti. Solo menawarkan ekosistem yang mendukung pola pikir ini. Harga hidup lebih terjangkau, komunitas kreatif tumbuh, dan akses kerja jarak jauh makin terbuka.
Di kafe-kafe kecil sekitar Loji Wetan atau Kampung Batik Laweyan, banyak anak muda bekerja dengan laptop sambil menyeruput kopi tubruk. Mereka tetap produktif, tapi tidak dikejar deadline secepat di Jakarta. Ritme kerjanya seperti musik keroncong—tenang, stabil, tapi tetap berisi. Ada waktu untuk bekerja, ada waktu untuk berjalan kaki sore-sore.
Keseimbangan ini mulai menjadi kesadaran baru di kalangan generasi muda. Mereka tak ingin hidup hanya untuk bekerja, tapi bekerja agar bisa hidup. Di media sosial, tagar seperti #WorkLifeBalance atau #SlowLivingSolo semakin sering muncul. Mereka bukan sekadar slogan, tapi bentuk perlawanan kecil terhadap budaya “grind” yang menekan.
Solo, dalam banyak hal, menjadi laboratorium kecil bagi gaya hidup ini. Anak muda datang bukan hanya untuk berwisata, tapi untuk menata ulang ritme hidupnya. Di kota ini, mereka belajar bahwa tidak apa-apa berjalan pelan, tidak apa-apa istirahat, dan tidak apa-apa menolak terburu-buru. Justru dalam jeda itulah, kebahagiaan tumbuh.
Kita hidup di masa di mana kecepatan sering disamakan dengan kemajuan. Tapi kecepatan tanpa arah hanya melahirkan kelelahan. Solo mengajarkan hal sederhana yang sering terlupakan: bahagia tidak harus cepat, cukup tepat. Mungkin dari kota inilah, generasi muda Indonesia belajar bahwa kebahagiaan sejati tidak ditemukan di ujung kelelahan, tapi di tengah langkah-langkah kecil yang tenang.
Dari burnout menuju bliss, perjalanan itu ternyata bisa dimulai dari sesuatu yang sesederhana: memperlambat langkah di Kota Solo.
Biodata Penulis:
Inas Dian Ferrissa Nabilah saat ini aktif sebagai mahasiswa di Universitas Sebelas Maret.