Oleh Anindhita Nur Mufidah
Cabuk adalah salah satu makanan khas Wonogiri yang jarang dikenal orang luar daerah. Banyak warga Wonogiri sendiri mengaku tidak semua desa memiliki penjual cabuk. Makanan ini sering muncul di acara hajatan, selamatan, atau kumpulan keluarga besar. Dalam keseharian cabuk dikenal sebagai makanan lama dan anak muda jarang mencarinya. Hal itu menunjukkan bahwa cabuk mulai tenggelam oleh makanan populer lain seperti bakso atau mie ayam.
| Sumber: https://kabarwonogiri.com/cabuk-kuliner-legendaris-wonogiri/ |
Padahal cabuk punya karakter rasa yang kuat dan unik. Makanan ini menempati ruang penting dalam tradisi kuliner desa. Hidangan ini sering muncul sebagai lauk pendamping sega bancakan dan gudangan pecel. Di banyak keluarga, cabuk dianggap sebagai masakan sederhana yang mencerminkan kesahajaan kampung. Popularitasnya mungkin tidak sebesar bakso dan mie ayam Wonogiri, tetapi jejaknya masih bertahan di beberapa dapur rumah. Hal ini membuat cabuk layak dikenalkan kembali kepada publik yang lebih luas.
Asal Muasal Cabuk
Cabuk memiliki sejarah yang cukup panjang dalam tradisi kuliner Wonogiri. Banyak tetua desa bercerita bahwa makanan ini berasal dari budaya bertani di wilayah perbukitan. Bahan bakunya mudah ditemukan di sekitar rumah, sehingga cabuk sering menjadi pilihan saat keluarga butuh lauk cepat. Zaman dulu cabuk biasa dibuat ketika panen padi, hal itu menunjukkan bahwa cabuk tumbuh dari kebutuhan praktis masyarakat agraris. Tradisi inilah yang membuatnya bertahan sampai sekarang.
Asal-usul cabuk juga berkaitan dengan kebiasaan memasak sederhana. Wonogiri adalah daerah kering yang tidak selalu memiliki bahan makanan melimpah. Keluarga desa sering mengombinasikan kacang, kelapa, dan rempah untuk membuat lauk yang tahan lama. Cabuk menjadi solusi murah namun tetap bergizi. Proses pembuatannya bisa dilakukan cepat tanpa peralatan rumit. Karena itulah cabuk menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat desa. Meski tidak banyak dicatat dalam tulisan resmi, jejaknya kuat dalam cerita lisan keluarga.
Bahan dan Tata Cara Pembuatan
Bahan cabuk sebenarnya sangat sederhana. Sausnya terdiri dari kacang tanah sangrai, wijen, kelapa parut, dan sedikit gula merah. Bumbu tambahan seperti bawang putih, garam, dan kencur menambah kedalaman rasa. Bahan-bahan itu ditumbuk dalam cobek sehingga aromanya semakin tajam. Teksturnya agak kasar tetapi lembut saat dipadukan dengan nasi. Komposisi ini menciptakan rasa gurih yang menempel lama di lidah. Kesederhanaan bahan inilah yang membuat cabuk mudah dibuat siapa pun.
Cara membuat cabuk juga menarik karena memakai teknik tradisional. Bahan-bahan ditumbuk manual sampai halus. Proses ini dianggap penting karena memengaruhi rasa akhir. “Kalau blender, rasanya beda. Kurang hidup,” ujar seorang ibu penjual cabuk di Wonogiri. Setelah bumbu halus, campuran cabuk dicairkan dengan sedikit air panas. Kuah pekat ini kemudian disiramkan ke daun singkong, daun pepaya, atau tempe kukus. Cabuk siap disajikan tanpa proses pemasakan tambahan. Teknik sederhana ini membuat karakter cabuk tetap otentik.
Mengenal Lebih Dalam
Cita rasa cabuk terbilang unik bagi sebagian besar orang. Perpaduan kacang, wijen, dan kelapa membuat rasa gurihnya lebih kompleks. Ada sedikit sensasi smokey dari kacang sangrai. Kencur memberi aroma segar yang khas makanan pedesaan. Tidak ada bumbu yang terlalu dominan sehingga cabuk terasa seimbang. Makanan ini cocok untuk penikmat rasa sederhana namun dalam. Banyak warga desa mengatakan bahwa cabuk adalah “rasa rumah” yang sulit digantikan makanan modern. Rasa ini membuat cabuk punya nilai emosional bagi banyak keluarga.
Cabuk juga memiliki variasi penyajian yang berbeda di setiap kecamatan. Ada yang menambahkan daun jeruk atau sedikit cabe rawit. Ada juga versi yang lebih cair dan dipakai sebagai kuah campuran sayur. Variasi ini menunjukkan bahwa cabuk mampu beradaptasi tanpa kehilangan identitasnya. Meski jarang dipromosikan, keberadaan cabuk tetap hidup dalam kebiasaan makan sehari-hari. Inilah yang membuat cabuk layak disejajarkan dengan makanan khas Wonogiri lainnya.
Pada akhirnya, cabuk adalah bagian penting dari kekayaan kuliner Wonogiri. Makanan ini mencerminkan kreativitas masyarakat desa dalam mengolah bahan sederhana. Cabuk menawarkan rasa yang otentik dan berbeda dari sajian lain. Keberadaannya adalah bukti bahwa kuliner tidak harus rumit untuk meninggalkan kesan. Cabuk patut dikenal kembali sebagai identitas rasa Wonogiri. Makanan ini layak mendapat ruang lebih luas di meja makan dan ingatan kolektif kita.