Bukan Sekadar Pindah Tempat, Tapi Pindah Cara Pandang: Cerita Makhluk Wonogiri Pindah Ke Solo

Bagaimana rasanya anak desa menapaki dunia kampus di kota? Yuk simak kisah perubahan cara pandang dari Wonogiri ke Solo.

Oleh Avira Flora Astia Zuliana

Masih menjadi kesan indah pertama kali menginjakkan kaki di Solo, itu terjadi saat mengikuti ujian seleksi perguruan tinggi. Kali pertama datang langsung di sambut dengan hirup pikuk Solo yang berbeda jauh dengan tempat asalku yaitu Wonogiri. Jalan ramai dipenuhi kendaraan. Semua orang terburu-buru seperti dikejar ketakutan.

Kehidupan di desaku begitu sederhana. Pemandangan indah memukau dipagi hari menyegarkan mata. Sementara di kota, semua berjalan cepat. Di antara gedung dan lalu lintas padat, semua orang berlomba-lomba mengejar waktu.

Cerita Makhluk Wonogiri Pindah Ke Solo

Perjalanan ini bukan sekadar pindah tempat. Ini adalah perjalanan menemukan cara pandang baru tentang hidup, pendidikan, dan budaya baru bagiku. Kuliah bukan hanya soal mengejar gelar, tapi juga tentang memahami arti manusia yang terus belajar. 

Antara Wonogiri dan Solo

Aku orang yang dari TK sampai SMA berada tetap di Wonogiri. Setelah masuk kuliah, saya pindah ke Solo. Perpindahan ini menjadi awal perubahan cara pandang dan budaya yang banyak bedanya. 

Berada di Wonogiri dengan kehidupan tenang tanpa banyak huru hara. Pindah ke Solo dengan berbagai kebisingan kota, banyak klakson, banyak polusi, dan lebih banyak huru-hara. Pertama kali pindah langsung kaget dengan udara panas yang mengalirkan keringat.

Belajar Menemukan Diri di Dunia Kampus 

Hari-hari pertama di kampus menjadi ujian besar. Teman-teman terasa sangat cepat memahami materi. Gaya bicara dengan bahasa yang tinggi. Terkadang aku merasa enggan untuk ikut mengobrol. 

Sering ketika dosen bertanya, “Apa pendapatmu?” sementara aku hanya diam, rasanya sangat binggung bagaimana aku menungkapkan pendapat. Muncul ketakutan bagaimana jika pendapatku salah. Ternyata ini lah yang menghambatku untuk berkembang.

Sampai, suatu ketika aku menemukan materi yang ku suka dan merasa nyaman saat mengikuti mata kuliah tersebut. Dari situ mulai muncul kembali rasa ingin tau, dan menyadari bahwa aku ada disini datang dengan alasan yang pasti. Hanya butuh sebuah pemantik untuk menghidupkan api yang hilang. 

Perubahan Cara Pandang

Perjalanan ini baru dimulai, dan perlahan-lahan membuka pikiranku tentang berbagai pengetahuan baru yang baru kusadari setelah berada di sini. Awalnya aku mengira keberhasilan sesorang akan terukur dengan pasti dari nilai yang didapat. Tapi sekarang aku mulai belajar bahwa sebuah keberhasilan bukan semata tentang nilai tinggi. Tetapi lebih penting keberanian, kejujuran, dan niat untuk belajar. 

“Orang berilmu bukan tentang siapa yang paling banyak tahu, tapi yang mau berbagi ilmu yang dimiliki”. Kalimat ini menjadi pengingat. Ilmu tak seharusnya berhenti di kampus. Ilmu itu harus hidup dalam tindakan nyata, tentang kepedulian terhadap sesama.

Lingkungan di kampus membuatku lebih peka terdapat kesenjangan. Di sini sebuah keberhasilan pribadi belum lengkap tanpa kontribusi bagi orang lain. Ada keinginan untuk dapat berguna untuk sesama.

Menemukan Diri

Perjalanan dari desa ke bangku kuliah adalah perjalanan menemukan jati diri. Di sini belajar melihat dunia dengan mata yang lebih luas. Pendidikan bukan sekadar tangga sosial, tetapi juga jendela memahami kehidupan. 

Ki Hajar Dewantara pernah berkata “Pendidikan menuntuk segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.”

Kalimat ini mengingatkanku bahwa pendidikan bukan untuk meninggalkan desa, tapi untuk kembali membawa perubahan. Untuk semua anak desa jangan takut untuk bermimpi tinggi. Jangan biarkan jarak mematahkan semangat.

Biodata Penulis:

Avira Flora Astia Zuliana saat ini aktif sebagai mahasiswa di Universitas Sebelas Maret.

© Sepenuhnya. All rights reserved.