Colomadu, Karanganyar yang Rasa Kota Solo

Yuk jelajahi Colomadu—daerah unik yang memadukan sejarah, budaya, dan modernitas. Dari De Tjolomadoe yang ikonik hingga kuliner dan CFD yang meriah.

Colomadu adalah daerah yang cukup unik. Ada yang menganggap Colomadu di Solo, nyatanya secara administratif masuknya Karanganyar. Bagaimana tidak bingung? Daerahnya sendiri saja dipisahkan oleh Kota Solo. Bayangkan, rumah kamu di daerah Karanganyar ingin berkunjung ke Colomadu harus lewat Solo dulu. Seperti mau main tetapi harus meminta izin orang tua, padahal rumahnya sebelahan.

Colomadu, Karanganyar yang Rasa Kota Solo

Pengalaman yang saya rasakan sebagai asli domisili Colomadu adalah sering mendengar orang-orang bilang, “Loh, Colomadu itu Karanganyar, ya? Aku kira masih daerah Solo” saya hanya bisa tersenyum dan mengatakan “Iya, Colomadu itu memang Karanganyar terpisah...”

Colomadu dulu bernama Malangjiwan, menjadi bagian dari kekuasaan Mangkunegaran. Setelah merdeka, Mangkunegaran menyerahkan wilayah ke pemerintah Indonesia dan berubah nama menjadi Colomadu yang terinspirasi dari pabrik gula Colomadu.

Pabrik gula Colomadu sudah tidak beroperasi sejak tahun 1988, bekas pabrik gula Colomadu saat ini sudah dikembangkan menjadi tempat wisata yang bernama De Tjolomadoe. Bangunan pabrik gula yang tua, tetapi sekarang menjadi ikonik Colomadu. Dibangun pada tahun 1861 oleh Mangkunegara IV, yang terletak di jl. Adi Sucipto No.1, Paulan Wetan, Malangjiwan, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Dulu waktu kecil, saya taunya itu tempat yang angker, bangunan tua yang terlihat penuh dengan misteri dan mitos-mitos dari warga sekitar. Sekarang De Tjolomadoe sudah menjadi objek wisata yang keren. Banyak orang luar daerah yang berkunjung untuk melihat museum pabrik gula Colomadu. Ada juga yang menonton konser. Karena De Tjolomadoe sekarang juga menjadi tempat untuk menyelenggarakan konser artis-artis terkenal. 

Hadirnya De Tjolomadoe, memberikan ruang baru bagi masyarakat untuk berwisata di Colomadu. Kalau kamu berjalan-jalan sore di kawasan sekitar De Tjolomadoe, kamu akan menemukan banyak spot foto yang instagramable dengan latar arsitektur kolonial yang megah. Lampu-lampu kuning yang mulai menyala menjelang malam membuat suasananya terasa romantis dan hangat. Tak jarang juga terdengar suara musik dari kafe atau konser kecil di halaman gedung. Colomadu seakan menjadi simbol transformasi dari pabrik tua yang dulu sunyi, sekarang menjadi pusat kreativitas dan ekonomi lokal. 

Sebagai daerah penyangga Kota Surakarta, Colomadu berkembang sangat pesat perekonomiannya sebagai daerah wisata, kuliner, dan perhotelan. Didukung oleh lokasinya yang sangat strategis karena dekat dengan bandara Adi Sumarmo, berbatasan langsung dengan wilayah Kartasura dan Boyolali. Menjadikan Colomadu sebagai tempat berkembangnya beberapa pusat bisnis. Sekarang banyak berdiri pusat-pusat kuliner di sekitar De Tjolomadoe. Ada juga sarana hiburan, olahraga, dan setiap minggu diselenggarakan Car Free Day (CFD) disepanjang jalan Adi Sucipto. 

Setiap minggu pagi, jalan yang biasanya padat kendaraan tiba-tiba menjadi ruang terbuka bagi warga untuk berolahraga, bersantai, atau sekadar menikmati udara pagi tanpa polusi. Mulai dari pukul enam pagi, ratusan orang berjalan kaki, jogging, atau bersepeda sambil bercengkerama dengan teman dan keluarga. Suasana terasa hidup dan penuh energi.

Itulah sekilas tentang Colomadu masa kini, perpaduan antara sejarah, budaya, dan modernitas yang hidup berdampingan dengan damai. Kalau datang sekali, rasanya ingin kembali lagi.

Kalian akan menyesal jika sudah ke Solo tapi belum singgah di Colomadu. 

Biodata Penulis:

Devina Dita Prabawati saat ini aktif sebagai mahasiswa di Universitas Sebelas Maret.

© Sepenuhnya. All rights reserved.