Culture Shock Orang Blitar Saat Kondangan ke Solo

Hajatan di Solo bukan sekadar pesta, tapi ruang latihan kesantunan. Yuk simak pengalaman orang luar yang pelan-pelan memahami ritmenya.

Oleh Nuriyatin Fighya

Saya bukan orang Blitar. Saya hanya ikut datang ke sebuah hajatan di Solo. Teman saya berasal dari Blitar dan tampak gelisah sejak awal. Kegelisahan itu terlihat sejak kami memasuki lokasi acara. Suaranya mendadak mengecil dan langkahnya melambat. Ini seperti sedang membaca situasi baru.

Di Blitar, menurut ceritanya, kondangan berlangsung lebih cair. Tamu langsung bersalaman dengan pengantin. Setelah itu, mereka bebas bergerak dan berbincang. Di Solo, alurnya terasa berbeda dan lebih tertata. Tamu diarahkan duduk terlebih dahulu. Ada petugas yang memastikan urutan berjalan rapi.

Culture Shock Orang Blitar Saat Kondangan ke Solo

Perbedaan paling mencolok muncul saat waktu makan. Teman saya refleks mencari meja prasmanan. Kebiasaan itu rupanya tidak berlaku di sini. Makanan disajikan dalam porsi kecil dan tertata. Lauk diletakkan rapi di atas piring. Ia sempat berbisik, porsinya terasa seperti hidangan pembuka.

Suasana acara juga terasa jauh lebih tenang. Musik mengalun pelan tanpa teriakan pembawa acara. Obrolan tamu berlangsung lirih dan tertib. Teman saya terlihat berusaha menyesuaikan diri. Ia duduk lebih tegak dari biasanya. Tangannya diletakkan rapi di pangkuan.

Di Blitar, katanya, hajatan sering menjadi ajang bertemu banyak orang. Percakapan bisa terjadi lintas meja. Di Solo, interaksi terasa lebih terkontrol. Teman saya mengaku takut salah bicara. Bahasa Jawa halus lebih sering terdengar. Ia memilih tersenyum daripada mengambil risiko berbicara. Pilihan untuk diam rupanya menjadi strategi aman. Diam dianggap bentuk sopan santun. Tidak semua orang nyaman dengan strategi ini.

Dari pengamatan itu, hajatan terlihat bukan sekadar pesta. Ini menjadi ruang latihan unggah-ungguh sosial. Setiap gerak memiliki makna tersirat. Cara duduk, cara makan, dan cara berbicara diperhatikan. Semua mengikuti pola yang relatif seragam. Penyimpangan kecil mudah terasa mencolok.

Budaya Solo kerap dikaitkan dengan tradisi Jawa Mataraman. Ketertiban dan kesantunan dijaga sebagai simbol kehormatan. Nilai ini hidup dalam acara keluarga. Dalam kajian budaya Jawa, unggah-ungguh berfungsi menjaga harmoni sosial. Prinsip ini mencegah konflik terbuka. Hajatan menjadi medium praktik nilai tersebut.

Sebagai orang luar, teman saya merasa kikuk. Ia merasa harus terus mengamati. Setiap langkah diambil dengan penuh pertimbangan. Namun, rasa kikuk itu perlahan berubah. Ia mulai memahami pola yang bekerja. Perasaan asing bergeser menjadi rasa ingin tahu.

Kondangan di Solo akhirnya menjadi pengalaman belajar. Culture shock tidak selalu buruk. Ini membuka cara pandang terhadap keberagaman budaya.

Biodata Penulis:

Nuriyatin Fighya saat ini aktif sebagai mahasiswa dan bisa disapa di Instagram @n.fghyaa

© Sepenuhnya. All rights reserved.