Oleh Avira Flora Astia Zuliana
Ada satu hal yang belakangan ini terasa semakin langka untuk saya temukan di kota yaitu tenang. Bukan tenang dalam arti sunyi tanpa suara, tapi tenang yang benar-benar membuat kepala berhenti ribut. Tenang yang tidak disela notifikasi, tidak ditabrak klakson, dan tidak diganggu perasaan harus selalu cepat. Sampai suatu hari, saya duduk dengan secangkir kopi di Girimanik, Wonogiri, dan baru sadar barangkali tenang memang tidak berada di pusat kota.
Girimanik berada di ketinggian sekitar 1.200 mdpl. Angkanya mungkin terdengar biasa bagi pencinta pendakian, tapi bagi saya yang sehari-hari lebih sering berurusan dengan aspal dan jadwal, ketinggian ini sudah cukup untuk mengubah cara bernapas. Udara di sini dingin dengan cara yang sopan. Tidak menusuk, tidak juga memaksa, tapi cukup membuat napas terasa lebih panjang dari biasanya.
Di ketinggian seperti ini, kopi tidak lagi sekadar minuman. Kopi berubah fungsi menjadi jeda. Jeda dari rutinitas yang itu-itu saja, dari notifikasi yang tidak pernah benar-benar penting, dari pikiran yang ruwetnya sering datang tanpa diundang. Menyeruput kopi di Girimanik rasanya seperti mengizinkan diri sendiri untuk pelan, sesuatu yang di kota sering dianggap kemewahan.
Mengenal Kopi Lokal
Kedai kopi yang saya singgahi tidak besar dan tidak mencolok. Letaknya persis di sebelah kiri pintu masuk kawasan wisata Air Terjun Girimanik. Kalau datang dengan terburu-buru, tempat ini bisa saja terlewat begitu saja. Jalan menuju ke sana menanjak, cukup membuat pengunjung dari kota sedikit deg-degan, tapi justru di situlah sensasinya semakin naik, semakin terasa bahwa hidup memang tidak selalu harus ngebut.
Berbeda dengan banyak kedai kopi di tengah kota yang berlomba-lomba menawarkan lampu remang-remang dan pemandangan jalanan malam, kedai kopi Girimanik memilih jalur yang lain. Mereka tidak menjual keramaian. Yang ditawarkan adalah alam apa adanya hutan, lembah, dan angin yang tidak dibikin-bikin. Duduk di sini rasanya bukan sedang nongkrong, melainkan seperti bertamu ke teras alam yang sengaja dibiarkan terbuka.
Yang membuat kopi di sini terasa lebih jujur adalah asal-usulnya. Bukan kopi impor dengan nama yang kadang lebih rumit dari masalah hidup, tapi kopi dari petani lokal Girimanik sendiri. Kopi yang tumbuh di tanah yang sama dengan tempat kita duduk sekarang. Rasanya mungkin tidak sok eksotis, tapi justru di situlah letak kekuatannya yang sederhana, apa adanya, dan tidak pura-pura.
Inisiatif Pemuda dan Produk Lokal
Menariknya, kedai kopi ini lahir dari inisiatif pemuda lokal. Bukan investor besar, bukan pula konsep waralaba yang penuh istilah bisnis. Hanya keinginan sederhana untuk mengenalkan produk sendiri, dari tanah sendiri, dengan caranya sendiri. Dari situ, kopi tidak lagi sekadar barang dagangan, tapi medium perkenalan antara pengunjung dan Girimanik yang selama ini lebih dikenal lewat air terjunnya.
Tentu, tidak semua orang minum kopi, dan kedai ini tampaknya paham betul soal itu. Ada matcha, cokelat, sampai strawberry milkshake. Ada camilan dan mie instan untuk menemani obrolan yang mengalir tanpa harus punya tujuan. Pilihannya memang tidak banyak, tapi terasa cukup seperti hidup yang sebenarnya juga tidak menuntut terlalu banyak hal untuk bisa dinikmati.
Menikmati Alam dengan Cara Pelan
Wonogiri selama ini sering diposisikan sebagai daerah persinggahan. Dilewati dalam perjalanan, jarang benar-benar disinggahi. Padahal, seperti kopi Girimanik ini, Wonogiri menyimpan rasa yang tidak langsung terasa di seruput pertama. Butuh waktu, butuh pelan, dan butuh kemauan untuk berhenti sejenak.
Mungkin benar, ketenangan tidak selalu bisa dicari dengan sengaja. Kadang, dia menunggu di ketinggian, di balik tanjakan, di secangkir kopi yang diminum tanpa terburu-buru. Seperti Solo yang kadang terasa melelahkan, dan daerah sekitarnya justru memberi ruang bernapas sebuah pola yang sering muncul dalam cerita-cerita di artikel tentang pulang, tentang jeda, dan tentang rasa.
Di Girimanik, saya belajar satu hal sederhana berhenti sejenak itu bukan kemunduran. Justru cara paling masuk akal untuk tetap waras di tengah dunia yang terlalu sering memaksa kita berlari. Dan secangkir kopi, di ketinggian 1.200 mdpl, kadang sudah lebih dari cukup untuk mengingatkan itu.
Biodata Penulis:
Avira Flora Astia Zuliana saat ini aktif sebagai mahasiswa di Universitas Sebelas Maret.