Oleh Nuriyatin Fighya
Setiap awal bulan, saya dan teman-teman kuliah selalu memulai dengan niat yang sama: hidup hemat. Kalimatnya terdengar meyakinkan, diucapkan dengan nada serius, dan biasanya diakhiri anggukan penuh tekad. Kami sepakat buat ngurangin jajan, bawa bekal dari rumah, dan nggak gampang tergoda promo. Tapi seperti kebanyakan janji hidup, niat hemat ini jarang bertahan lama.
Biasanya bertahan sampai besok.
Hari ini hemat, besok self-reward. Begitu polanya. Hari ini bilang, “Kita hemat ya bulan ini.” Besoknya sudah ada kalimat lanjutan, “Nggak apa-apa lah, itung-itung self-reward.” Self-reward yang dimaksud bisa bermacam-macam: es kopi susu, ayam geprek level pedas, atau sekadar jajan kecil karena capek kuliah. Padahal, capeknya juga masih standar mahasiswa.
Kami ini Gen Z yang secara teori paham literasi keuangan. Tahu bedanya kebutuhan dan keinginan. Pernah nonton konten tips mengatur uang. Bahkan pernah bikin catatan pengeluaran. Masalahnya bukan di pengetahuan, tapi di konsistensi. Godaan terlalu banyak, sementara tekad kami sering kalah oleh rasa lapar dan ajakan nongkrong.
Contohnya begini. Pagi-pagi sudah niat baik bawa bekal dari rumah. Nasi, lauk, lengkap. Rasanya sudah seperti mahasiswa teladan. Tapi siang harinya ada kerja kelompok. Tempatnya di luar. Temannya pesan minum. Satu orang pesan camilan. Lalu muncul kalimat sakti, “Sekalian aja lah.” Bekal akhirnya tetap dimakan, tapi jajan juga tetap jalan. Hitung-hitung self-reward.
Kerja kelompok alias kerkom memang sering jadi alasan paling sah untuk jajan. Alasannya produktif. Alasannya akademis. Padahal, seringnya yang dibahas malah hal-hal di luar materi. Tapi uang tetap keluar, dan dompet tetap berkurang. Semua terasa wajar karena dilakukan rame-rame.
Yang bikin niat hemat makin berat adalah budaya self-reward itu sendiri. Setiap hal kecil rasanya pantas dirayakan. Habis kelas pagi, self-reward. Selesai presentasi, self-reward. Bertahan hidup sampai sore, self-reward. Lama-lama, self-reward bukan lagi hadiah, tapi kebiasaan. Kalau tidak jajan, malah terasa seperti hidup kurang lengkap.
Ironisnya, pengeluaran ini jarang terasa besar di awal. Sepuluh ribu di sini, lima belas ribu di sana. Angka kecil yang terlihat ramah. Tapi di akhir bulan, angka-angka itu berkumpul dan berubah jadi penyesalan kolektif. Kami duduk bareng sambil mengeluh, “Kok duit cepet habis, ya?” Padahal jawabannya ada di riwayat transaksi.
Niat hemat Gen Z sering kalah bukan karena kami boros ekstrem, tapi karena terlalu sering menoleransi pengeluaran kecil. Semuanya selalu punya alasan: capek, butuh hiburan, keburu laper, atau sekadar nggak enakan sama teman. Hemat jadi niat, jajan jadi kenyataan.
Pada akhirnya, kami tetap mengulang pola yang sama. Awal bulan berjanji hemat, tengah bulan mulai longgar, akhir bulan mengeluh bersama. Lalu di bulan berikutnya, siklus itu terulang lagi dengan optimisme yang sama. Seolah-olah kali ini akan berbeda.
Mungkin begitulah cara Gen Z belajar mengelola uang: lewat kegagalan kecil yang diulang-ulang. Kami belum benar-benar hemat, tapi setidaknya sadar bahwa niat saja tidak cukup. Dan sampai hari ini, kami masih berusaha. Pelan-pelan. Sambil sesekali jajan lagi. Hitung-hitung self-reward.
Biodata Penulis:
Nuriyatin Fighya saat ini aktif sebagai mahasiswa dan bisa disapa di Instagram @n.fghyaa