Hidden Gem Solo, Taman Buku Alun-Alun Utara yang Tetap Setia pada Literasi

Yuk kunjungi Taman Buku Alun-Alun Utara Surakarta! Temukan buku lawas, suasana hangat, dan pengalaman membaca yang menenangkan di tengah kota.

Oleh Khansa Almasatul Jannah

Di tengah ramai Solo, ada ruang kecil yang menenangkan. Namanya Taman Buku Alun-Alun Utara Surakarta. Tempat ini berdiri sejak lama dan terus bertahan. Banyak orang tidak sadar bahwa hidden gem ini masih hidup.

Dari luar, taman baca ini tampak sangat sederhana. Namun daya tariknya tidak bisa diremehkan begitu saja. Ada aura hangat yang langsung terasa saat masuk. Mungkin karena tempat ini tidak tersentuh hiruk pikuk digital.

Taman Buku Alun-Alun Utara

Hal paling unik dari taman baca ini adalah para penjualnya. Sebagian besar sudah sepuh, tetapi semangatnya luar biasa. Mereka tetap menjaga lapak meski usia tak muda lagi. Melihat itu saja sudah membuat hati adem.

Mereka tidak hanya menjual buku, tetapi juga merawat budaya membaca. Setiap halaman diperiksa perlahan, seakan buku memiliki nyawa. Mereka menata rak dengan kesabaran yang jarang saya lihat. Sikap itu membuat saya semakin menghormati tempat ini.

Saya sudah beberapa kali berkunjung ke taman baca tersebut. Dulu saya selalu pergi ke Gramedia untuk mencari buku. Namun setelah mengenal tempat ini, kebiasaan saya berubah. Saya menemukan pengalaman yang tidak saya dapatkan di toko modern.

Suatu hari saya datang dengan teman saya. Kami masuk tanpa ekspektasi besar. Tetapi begitu melihat isi rak, kami langsung terpukau. Banyak buku tua menumpuk dengan rapi seperti harta karun.

Buku-buku lawas itu sangat menarik. Beberapa judul bahkan sulit ditemukan di toko besar. Ada novel klasik, buku sejarah kuno, dan majalah lama. Semua tersusun seadanya, tetapi sangat berharga bagi pemburu literasi. Selain buku, ada pula kaset-kaset jadul di sudut lapak. Kaset tahun 80-an dan 90-an masih terbungkus plastik tipis. 

Penjual di sana terkenal sangat ramah. Mereka tidak pernah memaksa pembeli untuk membeli. Mereka bahkan sering berkata, “Dilihat dulu saja, Mbak.” Sikap itu membuat pengunjung merasa nyaman dan tidak canggung.

Jika kita mencari buku tertentu, para penjual akan ikut membantu. Mereka langsung membongkar tumpukan buku tanpa keluhan. Pernah saya mencari novel tertentu. Penjualnya langsung mencarikan dengan telaten selama beberapa menit.

Yang lebih menarik, mereka memperbolehkan kita “keep” buku. Mereka menyimpannya beberapa hari tanpa biaya. Saya merasa seperti pelanggan tetap di warung langganan. Sikap itu langka ditemukan di era toko modern yang serba digital.

Saya dan teman juga suka berfoto di tempat itu. Tempatnya kecil, tetapi sangat estetik. Rak kayunya sederhana tetapi penuh karakter. Tumpukan buku tua memberi nuansa vintage yang hangat.

Suasana taman juga mendukung aktivitas itu. Pohon besar menaungi beberapa sudut lapak. Cahaya matahari menembus dedaunan dengan lembut. Foto sederhana pun terlihat bagus dan bernilai kenangan.

Ada satu momen yang sangat membekas di hati saya. Saat itu saya melihat seorang kakek sedang membaca di bangku taman di bawah pohon rindang. Ia memegang buku lusuh dengan sangat hati-hati. Matanya fokus pada setiap kalimat di halaman.

Pemandangan itu terasa menenangkan sekaligus menyentuh. Di era ketika gawai menguasai waktu kita, ada sosok yang tetap setia pada buku fisik. Saya merasa beruntung bisa melihat momen sederhana itu. Rasanya seperti melihat potongan masa lalu yang masih bertahan.

Pengalaman-pengalaman kecil seperti itu membuat saya selalu kembali. Taman baca ini tidak menawarkan kemewahan fasilitas. Tidak ada pendingin ruangan atau rak modern. Tetapi justru itu yang membuat tempat ini istimewa.

Ruang literasi ini seperti museum kecil yang hidup. Ia menyimpan ingatan, kebiasaan, dan warisan membaca. Ia menunjukkan bahwa literasi tidak selalu memerlukan ruang canggih. Kadang ia hanya butuh meja tua dan orang-orang yang setia menjaga.

Taman Buku

Di tengah gempuran toko digital, taman baca ini terus bertahan. Banyak orang masih datang untuk mencari bacaan lama. Ada yang mencari buku sekolah. Ada yang mencari novel klasik. Ada pula yang sekadar ingin berbincang dengan penjual.

Tempat ini penting bagi ekosistem literasi kota. Ia menghubungkan generasi tua dan muda melalui buku fisik. Ia menyediakan alternatif bagi mereka yang bosan dengan belanja digital. Ia menjaga ritme membaca yang lebih pelan dan manusiawi.

Sebagai pecinta buku, taman baca ini adalah rumah kecil bagi saya. Tempat ini mengingatkan saya bahwa membaca bukan soal tren. Membaca adalah soal kedekatan dengan teks dan suasana. Dan taman baca ini memberikan suasana itu dengan utuh.

Ruang literasi tradisional seperti ini layak dijaga. Ia adalah bagian dari identitas Surakarta yang tenang dan berbudaya. Ia adalah bukti bahwa hal-hal kecil masih punya makna besar. Dan ia adalah pengingat bahwa buku fisik belum sepenuhnya ditinggalkan.

Semoga Taman Buku Alun-Alun Utara Surakarta terus bertahan. Semoga generasi baru tetap mau mengunjunginya. Karena dari ruang sederhana itu, kita bisa menemukan banyak cerita. Dan dari buku-buku tuanya, kita bisa menjelajah dunia lagi dan lagi.

Biodata Penulis:

Khansa Almasatul Jannah saat ini aktif sebagai mahasiswa di Universitas Sebelas Maret.

© Sepenuhnya. All rights reserved.