Oleh Bunga Amelia
Artikel ini membahas dua folklor utama yang berkembang di Ulakan, Pariaman. Terkait wafatnya Syekh Burhanuddin, salah satu ulama paling berpengaruh di Minangkabau. Cerita tentang hilangnya jenazah dan terdengarnya shalawat dari udara bukan hanya dianggap sebagai kisah mistik, tetapi juga sebagai penanda legitimasi spiritual dan bentuk penghormatan masyarakat terhadap figur yang dihormati. Dengan pendekatan analisis folklor, artikel ini mencoba melihat bagaimana narasi tersebut berfungsi dalam kehidupan sosial, keagamaan masyarakat Ulakan.
Folklor pemakaman sering berisi cerita yang melampaui batas logika sehari-hari. Dalam banyak masyarakat, kisah-kisah ini muncul bukan tanpa alasan, tetapi sebagai cara untuk menegaskan posisi seseorang sebagai tokoh penting. Hal inilah yang juga ditemukan pada kisah wafatnya Syekh Burhanuddin Ulakan, ulama yang sangat dihormati sebagai tokoh penyebar agama islam diminang kabau dan tokoh sentral yang mempopulerkan serta menyebarluaskan filosofi "Adat Basandi Sarak, Sarak Basandi Kitabullah" (Adat bersendi Syariat, Syariat bersendi Kitabullah) di Minangkabau.
Dalam proses pengumpulan data dari narasumber di Ulakan, muncul dua narasi yang paling kuat bertahan dalam ingatan seluruh masyarakat. Kedua narasi tersebut kemudian dijadikan fokus analisis untuk melihat bagaimana folklor berfungsi sebagai media peneguhan spiritual dan simbol penghormatan.
Narasi folklor yang pertama yaitu Hilangnya jenazah dan Suara Shalawat dari Arah Langit. Narasi pertama menyebutkan, bahwa ketika Syekh Burhanuddin wafat, masyarakat yang hendak memakamkan beliau mendapati jenazah tiba-tiba hilang. Menurut cerita, pada momen itu terdengar suara shalawat yang berasal dari udara, seolah-olah alam ikut memberikan penghormatan kepada sang ulama. Sholawat itu berhenti di tempat beliau dahulunya menanam pohon yang beliau bawa dari aceh. Pada saat itulah sahabat beliau Idris, teringat bahwa dahulu syekh burhanuddin meninggalkan wasiat kepadanya, bahwa dia ingin dimakamkan di tempat tersebut.
Kisah ini, jika dilihat dari perspektif folklor, berfungsi sebagai penanda kesucian. Hilangnya jenazah dalam cerita keagamaan biasanya merujuk pada figur yang dianggap waliyullah atau orang yang memiliki kedekatan spiritual tinggi dengan Tuhan. Tradisi lisan Minangkabau pun kerap memakai unsur mistik seperti ini untuk menegaskan bahwa seorang tokoh tidak sekadar dihormati, tetapi secara spiritual diakui dan dimuliakan.
Dalam narasi kedua yang lebih lengkap, Syekh Buhanuddin Wafat pada 10 Safar 1111 H, disaat beliau wafat dalam perjalanan menuju makam shalawat bersaut-sautan dari orang banyak, ketika telah sampai di pemakaman orang-orang berhenti bersholawat namun sholawat tetap terdengar di udara dan tidak tau asalnya dari mana. Pada saat itu, sahabat beliau Idris teringat pada wasiat yang ditinggalkan oleh syekh burhanuddin, bahwa iya ingin dimakamkan di Ulakan. Maka dibawalah jenazah Syekh Burhanuddin ke Ulakan dan dimakamkan di sana.
Pemindahan jenazah tersebut memperkuat pesan bahwa seorang ulama memiliki kendali spiritual bahkan setelah wafat, karena wasiat itu dijadikan pedoman hingga kini.
Makam syekh burhanuddin yang sebelumnya tidak ditutup, melainkan dibiarkan begitu saja. Masyarakat membiarkannya dan memberi nama makam tersebut dengan nama Makam Sibohong, asal nama Sibohong berasal dari nama pohon yang ada di dekat makam tersebut dahulunya.
Kedua narasi tersebut memuat elemen yang sama yaitu, Unsur mistik hilangnya jenazah dan suara shalawat dari udara menjadi simbol intervensi supranatural. Bagi masyarakat, hal ini menempatkan Syekh Burhanuddin pada posisi spiritual yang sangat tinggi. Legitimasi spiritual,
Kisah-kisah ini memperkuat otoritas tarekat Syattariyah dan para penerusnya. Folklor seperti ini membuat masyarakat semakin yakin bahwa Syekh Burhanuddin adalah ulama yang diberi “karamah”. Penghormatan mendalam, Cerita pemakaman dengan fenomena luar biasa menjadi bentuk penghormatan kolektif. Di Minangkabau, penghormatan terhadap ulama sering diformulasikan dalam narasi yang menonjolkan keajaiban atau kemuliaan spiritual. Pembentukan identitas lokal, Folklor ini juga berfungsi sebagai penanda identitas masyarakat Ulakan. Tradisi Basapa dan praktik ziarah memperlihatkan bagaimana folklor berperan mempertahankan fungsi ritual hingga kini.
Folklor pemakaman Syekh Burhanuddin tidak hanya hadir sebagai cerita mistik, tetapi sebagai instrumen budaya yang mengikat masyarakat dalam keyakinan, penghormatan, dan memori sejarah. Cerita tentang hilangnya jenazah dan suara shalawat dari udara bukan semata-mata legenda, tetapi bagian dari cara masyarakat Ulakan memaknai kesucian seorang ulama besar. Melalui folklor ini, legitimasi spiritual Syekh Burhanuddin terus hidup dan diwariskan lintas generasi.
Biodata Penulis:
Bunga Amelia saat ini aktif sebagai Mahasiswa Sastra Indonesia, FIB Unand.