Aceh masih belum baik-baik saja.

Jejak Tradisi di Tanah Ulakan: Menelusuri Prosesi Pasca-Pemakaman Masyarakat Pariaman

Yuk selami tradisi unik Ulakan, dari ritual potong asam hingga doa 100 hari, yang mengajarkan kebersamaan dan penghormatan pada yang telah tiada.

Oleh Siti Rafiqa

Perjalanan saya kali ini membawa langkah kaki menuju Ulakan, sebuah daerah di Padang Pariaman yang kental dengan nuansa religius dan tradisi yang masih terjaga kuat. Kedatangan saya ke sini bukan sekadar untuk berkunjung, melainkan untuk mendengar langsung penuturan masyarakat setempat mengenai bagaimana mereka memperlakukan sebuah perpisahan melalui prosesi pasca-pemakaman. Di Ulakan, kematian tidak hanya dipandang sebagai akhir hidup, tetapi sebagai awal dari serangkaian upacara panjang yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.

Jejak Tradisi di Tanah Ulakan

Berdasarkan hasil perbincangan saya dengan warga di sana, prosesi setelah jenazah masuk ke liang lahat adalah masa di mana keluarga dan masyarakat bergotong royong membantu si mayat melalui doa, sekaligus membantu keluarga yang ditinggalkan agar kuat menjalani duka.

Salah satu hal yang paling unik dan mendalam yang saya temukan di Ulakan adalah adanya ritual khusus untuk memutus ikatan batin antara jenazah dengan orang-orang terdekatnya. Masyarakat percaya bahwa pikiran dan rasa rindu yang terlalu dalam dari anak cucu bisa memengaruhi ketenangan si mayit, atau dalam bahasa setempat, si mayit bisa merayu keluarga yang ditinggalkan.

Untuk mencegah hal tersebut, dilakukanlah ritual potong asam. Caranya adalah dengan membawa tiga buah potongan asam ke makam, potongan asam tersebut diletakkan di atas tanah kuburan, tepat di bagian yang sejajar dengan dada jenazah. Setelah dibiarkan selama dua hingga tiga hari, asam tersebut diambil kembali bersama segenggam tanah kuburan. Tanah dan asam ini kemudian dimasukkan ke dalam bak mandi untuk digunakan mandi bersama oleh keluarga yang ditinggalkan. Ritual ini dipercaya mampu menghilangkan pengaruh atau bayang-bayang si mayat sehingga keluarga bisa kembali beraktivitas dengan tenang.

Di daerah Ulakan, Pariaman, rangkaian kegiatan pasca-kematian merupakan sebuah perjalanan panjang doa dan kebersamaan yang terus mengalir dari malam pertama hingga hari keseratus. Setelah jenazah dikuburkan, suasana di rumah duka tetap hidup dengan adanya pengajian bersama masyarakat dan orang-orang siak yang dilaksanakan setiap malam. Ketika memasuki malam ketiga, yang dikenal dengan istilah meniga hari, pengajian terus berlanjut dan biasanya pada momen inilah masyarakat yang datang melayat mulai membawa sedekah berupa beras ke rumah duka. Tanggung jawab pelaksanaan acara ini sering kali dibagi di antara anak-anak si jenazah secara bergantian agar beban pengerjaannya tidak tertumpu pada satu orang saja.

Memasuki hari ketujuh, rutinitas doa dan pengajian ini tetap dipertahankan sebagai bagian dari rangkaian penghormatan kepada almarhum. Tradisi ini terus bergulir hingga mencapai peringatan empat puluh hari atau maampek puluah hari, di mana selain mengadakan doa bersama, keluarga juga biasanya mulai melakukan prosesi managa’an batu atau mendirikan batu nisan di makam. Seluruh kegiatan ini dilakukan dengan niat tulus agar perjalanan si jenazah di alam kubur menjadi lebih ringan dan tidak terbebani.

Puncak sekaligus penutup dari seluruh rangkaian tradisi di Ulakan adalah peringatan seratus hari yang disebut maratuih hari. Pada hari ini, suasana rumah duka berubah menjadi lebih ramai menyerupai pesta kecil-kecilan. Sejak pagi, para menantu sibuk menyiapkan hidangan, sementara warga sekitar saling memanggil untuk mengingatkan adanya acara mendoa tersebut. Puncak acara berlangsung pada sore hari, di mana setelah prosesi doa selesai, seluruh masyarakat diundang untuk melakukan makan bajamba atau makan bersama di halaman rumah dengan hidangan yang telah dimasak secara gotong royong. Acara seratus hari ini menjadi garis akhir dari seluruh prosesi adat dan agama dalam mengiringi kepulangan seseorang di Ulakan.

Di balik kelembutan doa yang dipanjatkan, terdapat aturan adat yang sangat tegas. Selama saya mewawancarai warga, terungkap bahwa jika ada anak yang dianggap melakukan pelanggaran adat seperti kawin lari, maka ia tidak diperbolehkan masuk ke dalam rumah duka saat orang tuanya meninggal. Anak tersebut harus terlebih dahulu menimbang salah atau membayar denda kepada perangkat nagari dan korong sebelum bisa menginjakkan kaki di rumah untuk melihat jenazah.

Dalam setiap prosesi ini, ada satu sosok yang memegang peranan kunci, yaitu Labai. Warga menjelaskan kepada saya bahwa Labai adalah orang siak atau ahli agama yang mengerti seluk-beluk perawatan jenazah. Labai memiliki tugas yang sangat spesifik dan tidak bisa digantikan oleh warga biasa.

"Labai itulah yang harus turun tangan, tidak bisa digantikan oleh orang biasa, karena Labai itu sudah tertentu untuk membersihkan mayat." 

Tugas Labai dimulai dari memandikan jenazah, di mana mereka memeluk mayat saat dimandikan di atas pangkuan anak-anak si jenazah. Setelah penguburan pun, Labai tetap hadir untuk memimpin doa di atas kuburan, memimpin doa di rumah duka setiap sore, hingga memimpin jalannya pengajian 100 hari. Di Ulakan, keberadaan Labai perempuan diperuntukkan bagi jenazah perempuan, dan begitu pula sebaliknya.

Mengenai lokasi pemakaman, warga menuturkan bahwa di daerah Ulakan masih terdapat tradisi memiliki kuburan kaum yang terletak di sekitar lingkungan rumah warga. Hal yang luar biasa dari gotong royong di sini adalah proses penggalian liang lahat yang dilakukan oleh masyarakat tanpa memungut bayaran atau upah. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya rasa kebersamaan dalam membantu keluarga yang sedang berduka, memastikan bahwa setiap prosesi berjalan lancar tanpa menambah beban biaya bagi mereka yang ditinggalkan.

Kunjungan saya ke Ulakan Pariaman membuka mata bahwa tradisi pasca-pemakaman di sini adalah perpaduan harmonis antara rasa hormat kepada leluhur dan ketaatan pada ajaran agama. Melalui sosok Labai yang telaten, ritual potong asam yang simbolis, hingga makan bajamba yang mempererat persaudaraan, masyarakat Ulakan menjaga agar setiap perpisahan diakhiri dengan rasa ikhlas dan doa yang tak putus-putus. Kematian di Ulakan bukanlah tentang kesedihan yang berlarut, melainkan tentang bagaimana merawat ingatan dan mengirimkan doa terbaik melalui kebersamaan.

Biodata Penulis:

Siti Rafiqa saat ini aktif sebagai mahasiswi di Universitas Andalas.

© Sepenuhnya. All rights reserved.