Oleh Indah Tri Wahyuningrum
Dalam puisi-puisi cinta, orang justru menemukan luka yang menganga begitu lebar dan dalam, kehilangan yang tidak pernah mendapati obat penawarnya, juga keikhlasan yang tidak kunjung menemukan titik sebenarnya – apakah benar adanya keikhlasan itu atau hanya keterpaksaan belaka? Tak ada yang tahu jawaban pastinya. Menjadi dewasa sama artinya kita tumbuh untuk memahami, bahwa ujung dari kasih sayang bukan hanya perihal kepemilikan, tapi juga keikhlasan. Seiring berjalannya waktu, kita juga mampu memahami bahwa cinta yang sebenarnya tidak hadir dalam bentuk sederhana seperti hati yang sempurna, tapi justru suatu bentuk ketidakberaturan yang begitu rumit seperti benang jahit yang menggulung hingga usang. Saat menghadapi berbagai keraguan soal bentuk kasih sayang, serentetan pertanyaan lainnya juga ikut bermunculan, mulai dari seperti apa bentuk keikhlasan itu? Bagaimana manusia pada akhirnya juga belajar untuk menerima kehilangan yang pada kenyataannya tidak pernah ada dalam pikiran maupun perasaan mereka? Lalu bukankah cinta seharusnya mampu membawa pada kebahagiaan bukannya kesedihan? Dan begitu seterusnya hingga mereka mendapatkan jawaban yang memuaskan.
Erich Fromm (Mustika & Isnaini, 2021) memaparkan bahwa cinta adalah seni kehidupan, suatu kesadaran manusia terkait rasa cinta kepada sesamanya, kepada alam, dan Tuhannya. Saat membicarakan tentang kebahagiaan dalam cinta, kita perlu mengingat bahwa pada dasarnya jatuh cinta hanyalah sebatas mencicipi wilayah ilahi. Tidak ada kebahagiaan total dalam jatuh cinta, dan sekalipun kebahagiaan itu muncul begitu luar biasa, ia hanya bersifat parsial dan tidak memiliki kepastiannya. Schopenhauer (Gunawan, 2018) mengatakan bahwa jatuh cinta hadir seperti wabah dalam diri manusia dan kadang juga dapat mengalami hal-hal tragis. Pengalaman jatuh cinta mungkin mampu membawa manusia pada kebahagiaan, persatuan, hingga durasi yang tak terbatas, tapi mengingat bahwa cinta ialah kebahagiaan yang tidak pasti, maka bukan suatu hal yang aneh apabila pada akhirnya hakikat cinta mengingkari hal-hal yang demikian. Hal inilah yang kemudian dihadirkan dalam puisi pada umumnya.
Pada dasarnya puisi lahir dari lapisan tabir makna, suatu ekspresi tidak langsung yang ingin disampaikan penulis kepada pembacanya. Sebagaimana pendapat dari Tirtawirya (Pitaloka & Sundari, 2020) yang menyatakan bahwa puisi ialah ungkapan yang sifatnya samar dan implisit, maknanya tersirat, dan setiap kata condong pada makna konotatif. Puisi juga dapat dimaknai sebagai bentuk karya sastra yang menggunakan keindahan kata dan kekayaan makna sebagai media penyampaian dan pembentukan imajinasi (Setiawan & Andayani, 2019). Puisi memiliki sifat yang prismatis, yang artinya puisi mempunyai keterbukaan terhadap pemaknaan (Mustika & Isnaini, 2021), sehingga puisi dapat ditafsirkan dan dimaknai secara beragam. Karena tersusun dari lapisan makna, puisi hanya mampu dipahami jika pembaca memiliki daya kritis dan kepekaan dalam membaca puisi (Irfan & Riza, 2023). Maka ketika menghadapi puisi, hal pertama yang muncul dalam pikiran ialah kesukaran. Selain mampu membaca dengan peka dan kritis, salah satu cara ampuh lainnya untuk membuka tabir makna dalam puisi ialah dengan analisis semiotika. (Pradopo, 2010) menyatakan bahwa analisis semiotik diperlukan untuk mengkaji puisi sebab puisi tersusun dari tanda-tanda yang bermakna. Salah satu pendekatan semiotika yang cocok digunakan untuk mengkaji puisi ialah semiotika Michael Riffaterre.
Dalam teorinya, Riffaterre menyebutkan bahwa puisi selalu akan berubah oleh konsep estetik dan mengalami suatu evolusi selera dengan disesuaikan oleh perkembangan zaman. Terlepas dari hal tersebut, ada satu hal yang selalu konsisten dalam tubuh puisi, yaitu ketaklangsungan ekspresi. Bagi Riffaterre ketaklangsungan ekspresi dalam puisi disebabkan oleh tiga hal, yakni penggantian arti (displacing of meaning), pembelokan arti (distorting of meaning), dan penciptaan arti (creating of meaning). Selain ketiga hal tersebut, Riffaterre juga memaparkan dua konsep pembacaan untuk mampu membuka tabir makna dalam puisi, yakni pembacaan heuristik dan pembacaan hermeneutis. Pembacaan heuristik berada pada tahap mimesis yang didasarkan pada sistem dan konvensi bahasa, umumnya berupa interpretasi tahap pertama. Sedangkan pembacaan hermeneutis merupakan pembacaan yang didasarkan pada konvensi sastra untuk mengemukakan makna dari hasil pembacaan pertama (Hasibuan, 2021). Kemudian Riffaterre juga memaparkan bahwa dalam analisis semiotika puisi juga memperhatikan aspek matriks yang berupa kata kunci dari serangkaian teks, kemudian model yang merupakan kata atau kalimat yang menjadi aktualisasi dari matriks, dan varian yang berupa perluasan dari model.
Kembali mengenai persoalan cinta, dua puisi karya Helvy Tiana Rosa dalam buku kumpulan puisi yang berjudul Jantung yang Berdetak dalam Batu (Rosa, 2025), bagi saya secara apik mengangkat tema ini tanpa terasa klise. Dua puisi yang dimaksud di sini ialah puisi dengan judul Kita yang Tak Sempat menjadi Senja dan Puisi yang Kehilangan Kamu, keduanya mencoba menggambarkan persoalan cinta yang kompleks, bukan hanya soal kehilangan semata, tapi juga keikhlasan dan hal-hal lain yang melingkupinya. Untuk mendapatkan kedalaman maknanya, tentu semiotika Riffaterre dapat mengambil peran di sini.
Kita yang Tak Sempat Menjadi Senja (halaman 116)
Kau pernah duduk di sini,membiarkan senja melarutkan percakapan,membiarkan waktu berjalan tanpa tergesa.Tapi kini, senja datang dan pergi,tanpa menyapa atau bertanya,apakah kita masih mengingatnya.Aku masih melangkah di jalan yang sama,melewati bangku yang tak lagi menunggumu.Angin menyapu namamu dari jendela,membawanya ke tempat yang tak kutahu.Mungkin begini cara rindu bekerja:datang tanpa suara, hilang tanpa alasan.Malam ini, aku tak menunggu siapa-siapa.Aku hanya duduk di tepi waktu,membiarkan kehilangan mengendap di dasar gelas.tak perlu lagi bertanya ke mana kau pergi,sebab beberapa hal memang diciptakanuntuk tak pernah kembali.
Puisi yang Kehilangan Kamu (halaman 30-31)
Aku berhenti menulismu.Bukan karena cinta ini selesai,tapi karena puisi-puisiku mulai protes:“Kenapa kami terus-menerus bekerjaUntuk seseorang yang bahkan tidak membaca?”Aku pernah mencintaimuSeperti peta mencintai pelancong yang tersesat;menawarkan jalantapi kau selalu memilih berbelokke arah yang lain.Tapi kata-kata itu menganggur,duduk melipat tangan di sudut meja,menghitung waktu sambil menguap.Mereka tak ingin bekerja lagi,terutama untukmu,Dan jika kau kembali,kau akan menemukan puisi-puisi inisudah pindah profesi:menjadi debu di atas rak,atau mungkin,menjadi angin yang hanya lewatdi jendela yang tak pernah kaututup.
Ketaklangsungan Ekspresi Duka, Luka, dan Kehilangan
Untuk menghadirkan ketaklangsungan ekspresi dalam kedua puisi, Helvy Tiana Rosa tentu membutuhkan bantuan dari majas untuk melakukan penggantian arti. Kedua puisi yang ditulisnya secara garis besar memanfaatkan personifikasi dan metafora untuk mampu menghidupkan nyawa sekaligus menyampaikan pesan. Pada puisi dengan judul Kita yang Tak Sempat Menjadi Senja, diksi senja menjadi poin penting di sana. Penyair memberikan nyawa seolah senja merupakan hal yang memiliki sifat manusia sebagaimana dalam baris berikut:
Kau pernah duduk di sini,membiarkan senja melarutkan percakapan,
Juga pada baris berikut:
Tapi kini, senja datang dan pergi,tanpa menyapa atau bertanya,apakah kita masih mengingatnya.
Penggunaan majas personifikasi yang dilekatkan pada senja membuatnya seolah-olah hidup dan menjadi saksi dari perjalanan kisah cinta dua manusia. Di sisi lain, senja juga menjadi representasi bagaimana semesta tidak pernah benar-benar peduli pada nasib buruk yang menimpa manusia. Lain halnya dengan puisi pertama yang menitikberatkan pada senja, puisi kedua dengan judul Puisi yang Kehilangan Kamu menitikberatkan pada kehadiran puisi. Majas personifikasi dilekatkan pada diksi puisi sehingga menjadikan puisi seolah-olah seperti sesuatu yang hidup, sebagaimana dalam baris berikut:
tapi karena puisi-puisiku mulai protes:“Kenapa kami terus-menerus bekerjaUntuk seseorang yang bahkan tidak membaca?”
Juga pada baris berikut:
Dan jika kau kembali,kau akan menemukan puisi-puisi inisudah pindah profesi:
Kedua penggalan dari puisi tersebut menunjukkan bagaimana puisi seolah bekerja dan melakukan protes. “Puisi” juga menjadi wadah untuk menyampaikan suatu perubahan yang terjadi pada diri penulisnya seiring berjalannya waktu. Selain personifikasi, metafora juga hadir dalam kedua puisi melalui baris berikut:
membiarkan kehilangan mengendap di dasar gelas. (Puisi Kita yang Tak Sempat Menjadi Senja)
Dan pada baris berikut:
angin yang hanya lewatdi jendela (Puisi Puisi yang Kehilangan Kamu)
Pada puisi pertama, metafora hadir untuk menggambarkan bagaimana kehilangan tidak akan pernah benar-benar berlalu dan akan terus mengendap. Dengan membiarkan hal tersebut terjadi, penyair seolah sedangkan menyampaikan bahwa meskipun duka tidak benar-benar hilang, tapi penerimaan masih dapat dilakukan secara perlahan. Sedangkan pada puisi kedua, metafora hadir untuk menunjukkan bagaimana suatu hal pada akhirnya hanya menjadi sesuatu yang tidak berharga, hal tersebut sekaligus menunjukkan bahwa hal-hal yang pernah terjadi tidak akan lagi menetap dan akan terus pergi dari kehidupan kita. Kedua baris tersebut pada dasarnya sama-sama menunjukkan suatu penerimaan dengan cara membiarkan hal tersebut, entah ia akan benar-benar hilang atau menetap.
Selain dengan penggantian arti melalui bantuan majas, kedua puisi juga menerapkan prinsip penyimpangan arti. Puisi pertama melakukan penyimpangan arti melalui bari “duduk di tepi waktu” yang mana sebenarnya waktu tidak pernah memiliki tepinya, tapi baris tersebut secara tersirat menunjukkan bahwa tokoh Aku berada dalam situasi tenang yang jauh dari hiruk pikuk. Lalu pada puisi kedua, penyimpangan arti terjadi pada baris “puisi-puisi mulai protes”, dalam baris tersebut puisi seolah menjadi “demonstran yang menuntut haknya”, hal ini sekaligus menunjukkan bagaimana mental penulis mengalami kelelahan ketika harus menunggu orang yang dicintainya.
Tak hanya terbatas pada penggantian dan penyimpangan arti, penulis juga melakukan penciptaan arti melalui penggunaan diksi “peta”. Peta yang secara umum diketahui sebagai penunjuk jalan atau alat navigasi memberikan makna lebih dalam bahwa cinta mampu menjadi penunjuk arah untuk menemukan hati sebagai tempat pelabuhannya. Namun, hal tersebut kemudian digagalkan dengan patah hati yang digambarkan melalui “pelancong yang sengaja berbelok”, sehingga cinta menjadi suatu kegagalan.
Pembacaan Heuristik dan Hermeneutik dalam Puisi
Puisi dengan judul Kita yang Tak Sempat Menjadi Senja dan Puisi yang Kehilangan Kamu sama-sama menggambarkan tentang keputusan untuk mengikhlaskan cinta yang telah hilang dan berlalu. Keduanya menampilkan bagaimana cinta menghadapi kegagalan dan kisah tragis hingga berada pada titik untuk berhenti mencintai. Secara sederhana, mungkin hanya terlihat seperti persoalan cinta yang tak terbalas atau hanya tentang kehilangan seseorang, suatu premis umum yang terjadi dalam kisah cinta yang tak berakhir bahagia. Kedangkalan pemaknaan ini menjadi suatu kegagalan dalam pembacaan heuristik yang kemudian menjadi jalan bagi pembacaan hermeneutik yang retroaktif dan interpretatif.
Puisi Kita yang Tak Sempat Menjadi Senja menjadi suatu narasi terkait perpisahan dengan masa lalu, suatu kesadaran terhadap keikhlasan akibat kepergian sebagaimana yang ditampilkan dalam bait terakhir.
membiarkan kehilangan mengendap di dasar gelas.tak perlu lagi bertanya ke mana kau pergi,sebab beberapa hal memang diciptakanuntuk tak pernah kembali
Penggalan ini menunjukkan bahwa tokoh “Aku” telah mencapai tahap penerimaan terhadap kehilangan yang ia alami. Meskipun pada kenyataannya ia tetap menyusuri kenangan masa lalunya, tapi ia tidak lagi penasaran, bertanya, atau menunggu apapun, sebab ia sadar bahwa beberapa hal memang diciptakan untuk tidak pernah kembali.
Narasi besar yang diambil oleh puisi kedua dengan judul Puisi yang Kehilangan Kamu juga seputar perpisahan dengan masa lalu. Namun, yang menjadi perbedaannya ialah peletakan kesadaran untuk berhenti dan mengikhlaskan telah digambarkan sedari bait awal puisi.
Aku berhenti menulismu.Bukan karena cinta ini selesai,tapi karena puisi-puisiku mulai protes:“Kenapa kami terus-menerus bekerjaUntuk seseorang yang bahkan tidak membaca?”
Hal ini menunjukkan bahwa tokoh Aku dalam puisi kedua telah memiliki tekad bulat untuk menyelesaikan masa lalunya dan tidak lagi menyusuri kenangannya yang telah lewat. Pada puisi kedua, tokoh Aku juga telah mengambil keputusan untuk benar-benar berhenti menghidupi perasaannya sendiri, ia tak akan lagi menuliskan apapun perihal perasaannya, sebab sebenarnya hal itu tidak akan pernah sampai kepada tujuannya. Dari sini dapat diketahui bahwa puisi hanya menjadi wadah untuk ekspresi dari perasaannya yang sukar tersampaikan, sekaligus menjadi sesuatu yang ia simpan rapat-rapat. Ia juga percaya bahwa seiring berjalannya waktu, meskipun tekad bulatnya untuk berhenti dimulai dari keterpaksaan, ia juga menyadari bahwa seiring berjalannya waktu, perasaannya akan benar-benar hilang, sebagaimana pada bait terakhir.
Dan jika kau kembali,kau akan menemukan puisi-puisi inisudah pindah profesi:menjadi debu di atas rak,atau mungkin,menjadi angin yang hanya lewatdi jendela yang tak pernah kaututup.
Apabila dibaca lebih lanjut, meskipun secara sepintas terlihat bahwa kedua puisi berfokus pada keikhlasan terhadap cinta yang telah hilang dan tak berbalas, sebenarnya cinta lainnya mulai hadir dari sana, yaitu kepulangan terhadap diri sendiri. Bagaimana tokoh Aku dalam kedua puisi mencapai titik untuk melepaskan apa yang menyakiti hati mereka, menunjukkan bahwa mereka pada akhirnya mulai memilih diri mereka sendiri sebagai tempat pulangnya masing-masing. Bahwasanya berhenti menunggu hal-hal yang tidak pasti adalah bentuk tertinggi untuk mencintai diri sendiri. Kehilangan orang yang dicintai tentu menjadi luka dan duka tersendiri bagi mereka yang mencintai, tapi saat mereka yang mencintai pada akhirnya memutuskan untuk berhenti dan kembali, mereka akan menemukan wajah diri sendiri sebagai rumah paling aman.
Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan, mayoritas kedua puisi karya Helvy Tiana Rosa tersebut menggunakan metafora dan personifikasi untuk menyampaikan ketaklangsungan ekspresinya. Sebagai penyair, Helvy berhasil menghasilkan puisi dengan warna yang berbeda dari satu premis yang sama. Perihal jatuh cinta tidak pernah sedangkal yang dikira, karena pada akhirnya cinta mampu menjadi jalan untuk pulang menuju diri sendiri.
Sumber:
- Gunawan, L. A. S. (2018). Problematika Jatuh Cinta Sebuah Tinjauan Filosofis. Logos Jurnal Filsafat-Teologi, 15(2).
- Hasibuan, S. (2021). Puisi “Hanin” Karya Faruq Juwaidah dalam Antologi Lau Annana Lam Naftariq (Analisis Semiotika Riffaterre). Diwan, 7(1).
- Irfan, M., & Riza, Y. (2023). Semiotika Michael Riffaterre Dalam Puisi Zahaba al-Mudawi Wa al-Mudawa Karya Abu Atahiyah. Ajamiy Jurnal Bahasa Dan Sastra Arab, 12(2).
- Mustika, I., & Isnaini, H. (2021). Konsep Cinta Pada Puisi Karya Sapardi Djoko Damono: Analisis Semiotika Carles Sanders Pierce. Al-Azhar Indonesia Seri Humaniora, 6(1).
- Pitaloka, A., & Sundari, A. (2020). Seni Mengenal Puisi. Guepedia.
- Pradopo, R. D. (2010). Pengkajian Puisi. Gadjah Mada University Press.
- Rosa, H. T. (2025). Jantung yang Berdetak dalam Batu. Bukunesia.
- Setiawan, K. E. P., & Andayani. (2019). Strategi Ampuh Memahami Makna Puisi (Teori Semiotika Michael Riffaterre dan Penerapannya). Eduvision.
Biodata Penulis:
Indah Tri Wahyuningrum saat ini aktif sebagai Mahasiswa Sastra Indonesia di Universitas Negeri Jakarta.