Oleh Annisaa’ Nur Rahmawati
Keputusan untuk ngekos sering dianggap sebagai langkah paling rasional bagi mahasiswa baru. Apalagi jika jarak rumah ke kampus tidak bisa dibilang dekat. Dalam bayanganku , ngekos adalah solusi paling masuk akal karena lebih hemat tenaga, lebih efisien waktu, dan tentu saja tidak perlu menghabiskan tiga jam setiap hari hanya untuk perjalanan pulang-pergi. Dengan jarak rumah sekitar satu setengah jam dari kampus, pilihan itu terasa tidak perlu diperdebatkan lagi. Maka aku pun ngekos.
Namun, realita sering kali tidak sejalan dengan logika. Alih-alih merasa lebih efisien, aku justru menjadi mahasiswa yang lebih sering pulang ke rumah. Dalam satu minggu, aku bisa dua kali pulang. Padahal, tujuan awal ngekos adalah supaya tidak bolak-balik. Di titik itu, aku mulai bertanya pada diri sendiri: apa ada yang salah dengan keputusan ini?
Ngekos: Keputusan yang Terlihat Paling Masuk Akal
Sebagai mahasiswa baru, aku memutuskan untuk ngekos karena jarak rumah ke kampus cukup jauh. Perjalanan pulang-pergi setiap hari bisa memakan waktu hingga tiga jam, yang tentu berisiko menguras tenaga dan membuat lelah bahkan sebelum kuliah dimulai. Aku merasa perjalanan panjang itu akan mengganggu fokus dan membuat aktivitas perkuliahan terasa lebih berat.
Selain soal jarak, ngekos aku anggap sebagai pilihan yang lebih efisien. Tinggal dekat kampus berarti waktu lebih fleksibel, tidak tergantung transportasi, dan bisa lebih fokus menjalani kuliah. Dengan pertimbangan itu, ngekos terasa seperti keputusan yang paling masuk akal dan dewasa, setidaknya menurut keyakinanku di awal.
Realita di Kos: Dekat Kampus, Jauh dari Rasa Nyaman
Hari-hari awal ngekos sebenarnya berjalan biasa saja, bahkan cenderung terasa ringan. Aku bisa berangkat kuliah dengan waktu tempuh yang singkat, tanpa harus bangun terlalu pagi atau memikirkan kemacetan di jalan. Tidak ada lagi rasa kantuk berlebihan akibat perjalanan panjang, dan secara teori, semua yang aku bayangkan tentang efisiensi ngekos terasa berjalan sesuai rencana.
Namun, ada satu hal yang luput dari perhitungan sejak awal, yaitu rasa ingin pulang. Kos yang aku bayangkan sebagai tempat istirahat justru terasa asing. Kadang sunyi, kadang ramai, tetapi tetap saja menyisakan rasa sepi. Tidak ada suara rumah, tidak ada rutinitas yang sering dilakuin dan tidak ada perasaan benar-benar pulang, meskipun secara fisik aku sedang berada di tempat tinggal sendiri.
Pulang yang Terasa Lebih Menenangkan
Akhirnya, aku mulai semakin sering pulang ke rumah. Awalnya, kepulangan itu selalu dibungkus alasan sederhana seperti mengambil barang, bertemu keluarga, atau sekadar menghabiskan akhir pekan. Namun, seiring waktu, alasan-alasan tersebut berubah menjadi kebutuhan emosional. Dalam satu minggu, saya bisa pulang dua kali, bukan karena ada keperluan mendesak, melainkan karena keinginan untuk berada di rumah terasa jauh lebih kuat dibanding logika efisiensi yang dulu aku pikirkan.
Rumah selalu terasa memanggil dengan cara yang tidak bisa dijelaskan. Ada rasa aman dan nyaman yang sulit digantikan, makanan rumah yang rasanya berbeda dari makanan beli, serta kehadiran keluarga meski tanpa banyak percakapan. Ritme hidup yang lebih familiar membuat segalanya terasa lebih ringan. Di rumah, lelah seolah lebih cepat hilang, sementara di kos, rasa lelah justru sering terasa berlipat.
Efisiensi Versi Siapa?
Di titik ini, aku mulai mempertanyakan kembali makna efisiensi yang selama ini aku pahami. Selama ini, efisiensi sering diukur dari jarak tempuh, penghematan waktu, dan tenaga fisik yang dikeluarkan. Padahal, ada aspek lain yang kerap luput dari perhitungan, yaitu kondisi mental. Secara waktu, ngekos memang terasa lebih efisien karena segalanya menjadi lebih dekat dan praktis.
Namun, secara perasaan, efisiensi itu tidak selalu terasa nyata. Waktu tempuh memang lebih singkat, tetapi pikiran justru sering penuh. Jadwal menjadi lebih fleksibel, tetapi hati terasa kosong. Tinggal dekat kampus, namun rasa tenang tidak selalu ikut mendekat. Pada akhirnya, aku sadar bahwa efisiensi bukan hanya soal hitungan jam, melainkan juga tentang bagaimana seseorang merasa dalam menjalani hari-harinya.
Mahasiswa Baru dan Proses Adaptasi
Sering pulang bukan berarti aku gagal menjalani kehidupan ngekos. Bisa jadi, kebiasaan itu merupakan bagian dari proses adaptasi sebagai mahasiswa baru. Perpindahan dari rumah ke kos bukan sekadar pindah tempat tinggal, melainkan perubahan besar dalam pola hidup, kebiasaan, dan ritme sehari-hari. Wajar jika tubuh dan pikiran membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang benar-benar baru.
Dari pengalaman ini, aku menyadari bahwa adaptasi tidak selalu berjalan cepat bagi setiap orang. Ada yang langsung betah ngekos, ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama. Rindu rumah pun merupakan hal yang wajar, terutama di masa transisi awal kuliah. Mandiri tidak selalu berarti harus sepenuhnya jauh dari rumah, dan keinginan untuk pulang bukanlah tanda kelemahan, melainkan bagian dari proses belajar berdamai dengan perubahan.
Antara Ideal dan Nyata
Di atas kertas, ngekos memang terlihat ideal dan penuh perhitungan yang masuk akal. Namun, kehidupan tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ada jarak antara apa yang dibayangkan sejak awal dan apa yang benar-benar dirasakan saat menjalaninya. Realita sering kali menghadirkan pengalaman yang tidak sepenuhnya bisa dijelaskan dengan logika.
Aku sempat merasa bersalah karena terlalu sering pulang, seolah keputusan ngekos menjadi sia-sia. Namun, perlahan saya menyadari bahwa setiap orang memiliki cara sendiri untuk bertahan dan menyesuaikan diri. Selama kuliah tetap berjalan, tanggung jawab tetap dijalankan, dan kesehatan mental tetap terjaga, maka tidak ada keputusan yang benar-benar salah.
Pelan-Pelan Belajar Betah
Aku masih ngekos sampai sekarang dan masih cukup sering pulang ke rumah. Namun, perlahan aku mulai belajar betah tanpa memaksakan diri. Aku mencoba menerima bahwa proses beradaptasi memang membutuhkan waktu, dan tidak semua hal harus langsung berjalan sesuai harapan. Dengan menerima kondisi itu, saya merasa sedikit lebih ringan dalam menjalani hari-hari di kos.
Aku mulai melakukan hal-hal kecil agar kos terasa lebih nyaman, seperti menata kamar agar lebih personal dan membangun rutinitas sederhana. Di saat yang sama, aku juga mengizinkan diri sendiri untuk pulang tanpa rasa bersalah. Dari situ aku belajar bahwa rasa betah tidak datang secara tiba-tiba, melainkan tumbuh pelan-pelan seiring proses yang dijalani.
***
Katanya ngekos biar lebih efisien, nyatanya aku lebih sering pulang. Tapi dari situ aku belajar bahwa hidup tidak selalu harus efisien menurut standar orang lain. Kadang, yang paling penting adalah merasa cukup, merasa tenang, dan merasa bisa menjalani hari dengan lebih baik.
Mungkin suatu saat nanti aku benar-benar betah ngekos. Atau mungkin tidak. Yang jelas, aku sedang berada di fase belajar memahami diri sendiri antara logika dan rasa, antara ideal dan nyata.