Oleh Nuriyatin Fighya
Orang Solo selalu dikenal halus, kalem, dan sopan hampir di semua situasi. Sementara orang Boyolali punya karakter lebih lugas, ceplas-ceplos, dan spontan. Dua wilayah ini sebenarnya berdampingan saja, tapi soal gaya hidup, pola komunikasi, dan kebiasaan sehari-hari, kadang beda tipis tapi terasa jauh.
Sebagai orang Boyolali, beberapa hal dari warga Solo sering bikin kita mikir, “Lho kok gitu?” atau malah “Iki ngapaaa to?”
Berikut lima kebiasaan orang Solo yang paling sering bikin warga Boyolali geleng-geleng.
1. Terlalu Halus, Sampai Kita Bingung Maksudnya Apa
Orang Solo dikenal paling jago menyampaikan ketidaksukaan dengan bahasa halus tingkat dewa. Mereka bisa menolak sesuatu tanpa bilang “tidak”. Bahkan nada suaranya sama persis seperti ketika mereka menyetujui sesuatu.
Orang Boyolali yang notabene lebih blak-blakan sering kerepotan di titik ini.
Ketika orang Solo bilang, “Nggih, mawon, mboten nopo-nopo,” itu bisa berarti tiga hal yang berbeda:
- benar-benar nggak apa-apa,
- sebenarnya keberatan,
- sebenarnya sangat keberatan, tapi males ribut.
Di Boyolali, kalau keberatan ya bilang keberatan. Kalau enggak cocok ya dibilang enggak cocok. Hidup jadi jelas. Tapi di Solo? Kita kadang butuh translator khusus untuk memahami maksud sebenarnya.
2. Makan Harus Pelan dan Tertib, Kayak Ada Aturannya
Warga Solo punya etiket makan yang cukup rapi. Ngaduk sambal kebanyakan dianggap kurang sopan. Bersuara saat makan dianggap kurang elok. Bahkan cara pegang sendok pun diperhatikan.
Di Boyolali? Yang penting enak. Sambal mau tumpah juga tidak masalah, yang penting nasi tetap masuk.
Saat pertama kali makan di Solo, orang Boyolali bisa tiba-tiba jadi kikuk karena merasa semua gerakan diamati. Apalagi kalau makan soto dekat Pasar Gede atau Dawet Telasih Balapan—kok rasanya kita jadi sangat sadar diri, ya?
3. Jalan Pelan Banget
Ini mungkin kebiasaan yang paling sering bikin warga Boyolali mengelus dada. Bukan karena salah, tapi karena ritme hidupnya benar-benar beda.
Orang Solo itu kalau naik motor santai banget. Kadang pelan seperti lagi wisata keliling kota. Di Boyolali, apalagi daerah Kecamatan Mojosongo, Teras, dan Ampel, ritme berkendara lebih cepat dan tegas. Orang Solo yang pelan ini bikin orang Boyolali—yang dari tadi sudah siap nyalip—jadi mendadak sabar meski dalam hati komplain.
Belum lagi kebiasaan “sein kanan jalan lurus”, yang entah kenapa cukup sering ditemui. Kita sampai bingung, “Iki arep belok opo mung pengin tanda eksistensi wae?”
4. Tersenyum ke Semua Orang, Termasuk Orang Asing
Orang Solo terkenal murah senyum. Kadang terlalu murah senyum.
Mereka bisa senyum ke siapa pun: ke tetangga, ke tamu, ke tukang parkir, bahkan ke orang yang sedang memarahi mereka.
Orang Boyolali yang lebih ekspresif biasanya menganggap senyum sebanyak itu hanya dipakai di momen tertentu. Tapi di Solo, senyum jadi semacam aturan default.
Akibatnya, kalau orang Boyolali lagi bete terus main ke Solo, mereka kelihatan paling judes sejagad.
5. Pamitnya Panjaaaang, Kayak Kredit Motor 36 Bulan
Momen pamit orang Solo itu legenda.
Pamit lima menit? Tidak mungkin. Minimal lima belas menit. Itu pun baru bagian pembuka.
Dialognya bisa begini:
“Nggeh, mawon, kula pamit rumiyin.”
“Lho, sebentar mawon. Mampir sek, ngombe rumiyin.”
“Nggih, nggih… menawi mekaten…”
Dan petualangan itu berlanjut selama beberapa menit lagi.
Orang Boyolali biasanya praktis. Mau pulang ya pulang. Mau pamit ya pamit. Tidak pakai adegan tambahan. Kadang sampai kita bingung: “Iki pamit apa skripsi kok panjang banget?”
Akhirnya Kita Paham: Beda Bukan Berarti Salah
Meski beberapa kebiasaan orang Solo bikin warga Boyolali kebingungan, pada akhirnya justru di situlah letak uniknya. Orang Solo halus, sabar, dan rapi. Sementara orang Boyolali to the point, energik, dan spontan. Dua karakter ini kalau digabung justru jadi kombinasi yang asyik.
Buat orang Boyolali yang sering bolak-balik Solo buat kuliah, kerja, atau nongkrong, pengalaman menghadapi kebiasaan-kebiasaan ini jadi cerita tersendiri. Kadang bikin senyum, kadang bikin pusing, tapi selalu bisa jadi bahan obrolan seru.
Dan di situlah keberagaman kecil yang menyenangkan: dua kota tetangga yang mirip tapi beda, sering berinteraksi tapi tetap punya ciri khas masing-masing.
Biodata Penulis:
Nuriyatin Fighya saat ini aktif sebagai mahasiswa dan bisa disapa di Instagram @n.fghyaa