Oleh Luklu'il Maknuni
Masa remaja merupakan periode yang penuh dengan perubahan, baik secara emosional, sosial, maupun psikologis. Pada fase ini, tidak sedikit remaja yang mengalami kesulitan ketika harus berbicara atau mengungkapkan pendapat di depan orang lain. Kondisi tersebut dikenal sebagai verbal anxiety, yaitu kecemasan yang muncul saat individu dihadapkan pada situasi komunikasi verbal. Dampaknya cukup serius, mulai dari menurunnya kepercayaan diri hingga kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial. Gambaran tersebut dapat dilihat pada tokoh Bima dalam film Dua Garis Biru (2019). Bima ditampilkan sebagai remaja yang cenderung pendiam, ragu-ragu, dan sering menghindari percakapan, terutama ketika berada dalam situasi yang menekan. Tekanan tersebut datang dari berbagai arah, seperti keluarga, sekolah, dan lingkungan sosialnya setelah kehamilan Dara terungkap. Sikap diam Bima bukan sekadar pilihan, tetapi mencerminkan kondisi psikologis yang tidak stabil.
Untuk memahami kondisi tersebut, pendekatan humanistik Carl Rogers digunakan sebagai dasar analisis. Konsep incongruence, conditions of worth, dan unconditional positive regard membantu menjelaskan bagaimana kecemasan verbal dan rendahnya kepercayaan diri dapat terbentuk. Analisis dilakukan melalui telaah naratif dan pengamatan terhadap adegan, dialog, ekspresi, serta bahasa tubuh tokoh Bima sepanjang film. Kajian ini dianggap penting karena sebagian besar penelitian sebelumnya lebih menekankan aspek moral, pendidikan seks, atau pesan sosial dalam film Dua Garis Biru. Sementara itu, pembahasan mengenai kecemasan verbal tokoh utama melalui perspektif humanistik masih relatif jarang dilakukan. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sudut pandang baru, khususnya dalam konteks psikologi perkembangan dan bimbingan konseling remaja.
Incongruence sebagai Akar Kecemasan Verbal
Menurut Rogers, incongruence terjadi ketika pengalaman nyata individu tidak selaras dengan konsep diri yang ia miliki atau yang diharapkan oleh lingkungan. Kondisi ini tampak jelas pada diri Bima. Sebagai remaja, Bima mengalami pengalaman yang bersifat impulsif dan penuh kesalahan. Namun, di saat yang sama, ia dihadapkan pada tuntutan untuk menjadi anak yang patuh, taat norma, dan tidak mencoreng nama keluarga. Ketidaksesuaian tersebut menimbulkan konflik batin yang cukup kuat. Bima terlihat kesulitan menyampaikan pikiran dan perasaannya, bahkan dalam situasi yang menuntut kejelasan. Ia lebih sering memilih diam atau memberikan jawaban singkat. Dari sudut pandang humanistik, perilaku ini bukan sekadar sifat pemalu, melainkan respons terhadap kecemasan yang muncul akibat ketidakmampuan menerima diri sendiri secara utuh. Dalam beberapa adegan awal film, terlihat bahwa Bima belum siap menghadapi kenyataan tentang dirinya. Selama real self dan ideal self belum terintegrasi, kemampuan untuk berbicara secara terbuka pun menjadi terhambat.
Conditions of Worth dan Minimnya Penerimaan
Selain incongruence, tekanan conditions of worth juga sangat memengaruhi kondisi psikologis Bima. Sejak awal, nilai diri Bima tampak bergantung pada penilaian orang tua dan masyarakat. Ketika kehamilan Dara diketahui, respons lingkungan lebih banyak diwarnai oleh kemarahan, rasa malu, dan kekhawatiran terhadap pandangan sosial. Dalam situasi tersebut, Bima hampir tidak mendapatkan unconditional positive regard. Ia jarang diberi ruang untuk menyampaikan perasaan atau dipahami sebagai remaja yang sedang mengalami krisis. Sebaliknya, ia lebih sering diposisikan sebagai sumber masalah. Kondisi ini memperkuat konsep diri negatif dan membuat Bima semakin enggan berbicara. Kurangnya penerimaan tanpa syarat ini sejalan dengan pandangan Rogers bahwa individu akan kesulitan berkembang secara sehat apabila terus-menerus merasa dinilai dan disyaratkan. Dalam kasus Bima, tekanan tersebut justru memperparah kecemasan verbal yang dialaminya.
Perkembangan Self-Confidence Tokoh Bima
Meskipun demikian, film Dua Garis Biru juga menunjukkan adanya proses perkembangan dalam diri Bima. Perlahan, ia mulai berani mengambil peran dan tanggung jawab sebagai seorang ayah. Keputusan untuk tetap terlibat dalam kehidupan anaknya menjadi titik awal perubahan sikap. Pada tahap ini, Bima tidak langsung menjadi sosok yang fasih berbicara. Namun, ia mulai mengekspresikan dirinya melalui tindakan nyata. Keterlibatannya dalam merawat anak dan mengambil keputusan penting menunjukkan adanya penerimaan diri yang semakin kuat. Di bagian akhir film, Bima tampak lebih tegas dan yakin ketika menyampaikan sikapnya, termasuk saat mendukung keputusan Dara untuk melanjutkan pendidikan. Perubahan ini mencerminkan peningkatan kepercayaan diri serta proses aktualisasi diri, sebagaimana dijelaskan Rogers mengenai individu yang bergerak menuju kondisi fully functioning. Bima tidak menjadi sempurna, tetapi menjadi lebih autentik dalam menjalani perannya.
Implikasi bagi Pemahaman Remaja
Kisah Bima memberikan gambaran bahwa kecemasan verbal pada remaja tidak muncul secara tiba-tiba. Faktor lingkungan, terutama minimnya penerimaan tanpa syarat, memiliki peran besar dalam membentuk kondisi psikologis remaja. Ketika remaja merasa terus dinilai dan disalahkan, mereka cenderung memilih diam sebagai bentuk perlindungan diri. Dalam konteks bimbingan dan konseling, pendekatan person-centered menjadi sangat relevan. Konselor perlu menghadirkan relasi yang hangat, empatik, dan bebas dari penghakiman agar remaja merasa aman untuk mengekspresikan diri. Selain itu, film Dua Garis Biru dapat dimanfaatkan sebagai media refleksi bagi orang tua dan pendidik untuk memahami pentingnya sikap menerima dalam mendampingi remaja.
Kesimpulan
Berdasarkan analisis dengan pendekatan humanistik Carl Rogers, kecemasan verbal dan rendahnya kepercayaan diri tokoh Bima berakar pada ketidaksesuaian antara pengalaman diri dan tuntutan lingkungan. Incongruence yang dialami Bima semakin diperparah oleh conditions of worth serta minimnya unconditional positive regard dari orang-orang terdekatnya. Perkembangan Bima sepanjang film menunjukkan bahwa penerimaan diri dan dukungan lingkungan memiliki peran penting dalam membangun kepercayaan diri remaja. Film Dua Garis Biru tidak hanya menyajikan cerita, tetapi juga merefleksikan realitas psikologis yang banyak dialami remaja di Indonesia. Oleh karena itu, film ini dapat menjadi bahan pembelajaran bagi orang tua, pendidik, dan konselor dalam mendampingi remaja dengan pendekatan yang lebih empatik dan manusiawi.
Referensi:
- Abdullah, Y. (2021). Pesan moral dalam film Dua Garis Biru. (Skripsi). Universitas Islam Negeri Sumatera Utara.
- Cahyani, C. D. (2023). Dampak sosial terhadap kesehatan mental pada film Dua Garis Biru. Jurnal Nosipakabelo, 4(2), 88–98.
- Kinasih, R. K., & Rusdi, F. (2019). Konstruksi Konsep Diri Sepasang Remaja dalam Film Dua Garis Biru. Koneksi, 3(2), 447-452.
- Ledi, T. (2021). Analisis nilai-nilai karakter dalam film Dua Garis Biru dan relevansinya bagi generasi muda sebagai upaya penguatan karakter bangsa. (Skripsi). Universitas Lampung.
- Ilahi, A. F., & Juandi, W. (2025). PRIBADI SEHAT DI ERA DIGITAL: ANALISIS HUMANISTIK CARL ROGERS DALAM REALITAS KEHIDUPAN KONTEMPORER. Konseling At-Tawazun: Jurnal Kajian Bimbingan dan Konseling Islam, 4(2), 46-54.
- Rahayu, F. S. (2020). Kehamilan Remaja di Luar Pernikahan Berdasarkan Sudut Pandang Teori Holisme dan Humanistik Abraham Maslow. Prophetic: Professional, Empathy, Islamic Counseling Journal, 3(2), 211-220.
- Rogers, C. R. (1959). A theory of therapy, personality, and interpersonal relationships: As developed in the client-centered framework (Vol. 3, No. 1, pp. 184-256). New York: McGraw-Hill.
- Marwa, A., & Kamalia, N. (2020). Representasi Pendidikan karakter di Film Dua garis Biru Berdasarkan Perspektif Thomas Lickona. KoPeN: Konferensi Pendidikan Nasional, 2(1), 32-41.
- Sari , A. W. (2022). Gambaran kepribadian tokoh utama dalam film Dua Garis Biru: Kajian psikoanalisis Sigmund Freud. Jurnal Sastra dan Bahasa, 3(1), 45–56.
- Sutisna, R., Rusmana, N., & Supriatna, M. (2022). Analisis Karakteristik Kepribadian Mahasiswa dengan Teori Kepribadian Humanistik Carl R. Rogers: The Fully Functioning Person. Jurnal Bikotetik (Bimbingan Dan Konseling: Teori Dan Praktik), 6(2), 68-78.