Oleh M. Rizqi Zidan
Beberapa tahun terakhir, kita sering dengar komentar seperti “anak muda sekarang kurang berani ambil risiko”, “maunya yang aman-aman saja”, atau “cuma mau jadi PNS”. Tapi apakah benar masalahnya ada pada mentalitas generasi muda?
Kalau melihat data dan kondisi ekonomi terkini, jawabannya tidak sesederhana itu. Kenyataannya, banyak anak muda memilih pekerjaan yang stabil justru karena mereka sangat realistis melihat kondisi pasar kerja sekarang.
1. Banyak Pencari Kerja, Tapi Peluang Layak Nggak Sebanyak Itu
Kementerian Ketenagakerjaan mencatat bahwa lebih dari 1,07 juta orang masuk ke pasar kerja setiap tahun, sedangkan penyerapan kerja formal tidak berkembang sebanding (Antara News, 2025). Ini termasuk lulusan SMA, SMK, diploma, hingga sarjana. Tapi penyerapan kerja formal tidak tumbuh setara.
Perusahaan juga makin selektif. Banyak lowongan justru meminta pengalaman 1–2 tahun, padahal yang melamar adalah fresh graduate. Jakarta Post (2025) bahkan menulis bahwa perusahaan-perusahaan cenderung ragu merekrut lulusan baru karena ingin “mengurangi risiko”.
Jadi bukan anak muda yang nggak mau kerja tapi memang peluang kerja layak tidak tumbuh secepat jumlah pencari kerja.
2. Perlambatan Ekonomi dan Otomasi: Penyebab Struktural yang pantang untuk Dibahas
Menurut analisis ekonomi dari IPB University (2025), dua faktor utama membuat pencari kerja semakin kesulitan mendapatkan pekerjaan layak :
- Pertumbuhan ekonomi melambat akibat menurunnya konsumsi domestik dan ketidakstabilan sektor industri.
- Otomasi dan digitalisasi membuat banyak pekerjaan rutin diambil alih mesin, sementara SDM Indonesia belum mengimbangi dengan literasi digital memadai.
Dampaknya, meskipun industri berkembang, penyerapan tenaga kerja tidak meningkat.
3. Pendidikan dan Kebutuhan Industri: Kenapa Nggak “Nyambung”?
UMS (2025) menemukan fakta menarik: banyak pengangguran terdidik disebabkan oleh keterampilan yang tidak relevan dengan industri. Gelar pendidikan tinggi tidak otomatis membuat seseorang siap kerja.
Masalah yang sering muncul:
- Kurang pengalaman lapangan, rata-rata fresh graduate mencari kerja seadanya, bahkan banyak yang diantaranya tidak relevan dengan jurusan yang mereka ambil.
- Minim soft skills, tidak sedikit fresh graduate yang tidak mengasah soft skill mereka, sehingga menghambat mereka dalam pekerjaan mereka
- Kurang kompetensi digital, banyak juga fresh graduate yang tidak melek teknologi,
- Kurang pelatihan praktis, banyak juga fresh graduate yang harus dituntut mendapatkan pekerjaan dalam waktu cepat setelah lulus perkuliahan maupun sekolah, sehingga mereka tidak dapat memepersiapkan lebih matang skill mereka pada pekerjaan.
Akhirnya banyak lulusan masuk sektor informal bukan karena pilihan, tapi karena itu satu-satunya pintu yang terbuka. Laporan FairWork (2025) menyebut lebih dari 60% pekerja muda berada di sektor informal.
4. Kebijakan Ketenagakerjaan Masih “Setengah-Setengah”
Ekonom UGM (2025) menyebut program pemerintah dalam isu tenaga kerja masih bersifat patchwork/ tambal sulam. Ada banyak program pelatihan, tapi:
- tidak terhubung dengan kebutuhan industri,
- tidak punya jalur penyaluran kerja,
- dan tidak mengatasi akarnya: kurangnya lapangan kerja berkualitas.
Karena tidak ada strategi jangka panjang, masalah yang sama terus berulang.
Jadi, Wajar Kalau Anak Muda Lebih Pilih Pekerjaan Aman
Ini bagian yang sering disalahpahami. Ketika anak muda memilih jalur aman misalnya PNS, BUMN, atau pekerjaan kontrak panjang itu bukan tanda kurang ambisi. Itu tanda bahwa mereka memahami risiko ekonomi dengan sangat baik.
Di tengah biaya hidup yang meningkat, harga rumah yang makin tidak terjangkau, dan peluang kerja yang tidak stabil, memilih pekerjaan aman adalah langkah rasional.
Keamanan bukan sifat pemalas. Keamanan adalah kebutuhan dasar.
Banyak pekerjaan swasta hari ini:
- kontraknya pendek,
- rawan PHK,
- jam kerjanya berat,
- tapi gajinya tidak selalu setara dengan biayanya.
Tidak heran kalau “zona aman” jadi pilihan logis.
Akar Masalahnya Ada di Struktur, Bukan di Mentalitas
Menyalahkan anak muda hanya akan mengaburkan persoalan sebenarnya. Masalah utamanya adalah struktur pasar kerja. Dari banyaknya pekerjaan yang ada, hanya beberapa saja yang memang berkualitas, diperparah dengan hukum perlindungan ketenaga kerjaan yang lemah. Diperparah dengan banyaknya Pendidikan yang tidak sinkron dengan yang dibutuhkan oleh industry, dan masih banyak lagi yang harus dibenahi.
Dalam situasi seperti ini, generasi muda memilih jalur aman bukan karena takut. Mereka hanya bermain cerdas dalam sistem yang belum memberi mereka cukup ruang.
Ke Depan, Apa yang Bisa Diperbaiki?
Kalau kita ingin generasi muda lebih berani bereksplorasi, maka sistemnya harus mendukung mereka. Itu berarti:
- Pendidikan vokasi yang benar-benar relevan
- Kemitraan nyata kampus–industri
- Perlindungan sosial untuk pekerja informal
- Insentif bagi perusahaan merekrut fresh graduate
- Penciptaan sektor industri baru yang menyerap tenaga kerja
Jika fondasinya kuat, anak muda justru bisa lebih bebas memilih jalur yang ingin mereka tempuh — bukan hanya yang paling aman.
Referensi:
- Antara News. (2025). Indonesia faces 1.07M job seekers every year. https://en.antaranews.com/news/382701/indonesia-faces-107m-jobseekers-every-year-ministry
- The Jakarta Post. (2025). Govt urges businesses to hire fresh graduates amid stubborn jobless rate. https://www.thejakartapost.com/business/2025/12/02/govt-urges-businesses-to-hire-fresh-graduates-amid-stubborn-jobless-rate.html
- IPB University. (2025). Reasons for increasing difficulty in finding jobs in Indonesia. https://www.ipb.ac.id/news/index/2025/08/ipb-university-economic-expert-reveals-reasons-for-increasing-difficulty-in-finding-jobs-in-indonesia
- UMS. (2025). What Behind Indonesia’s High Unemployment Rate? https://www.ums.ac.id/en/news/global-pulse/what-behind-indonesia-s-high-unemployment-rate
- FairWork Indonesia Report 2025. https://fair.work/wp-content/uploads/sites/17/2025/09/Fairwork-Indonesia-Report-2025_FINAL.pdf
- Universitas Gadjah Mada. (2025). Government Employment Policies Deemed Patchwork Solutions. https://ugm.ac.id/en/news/unemployment-rises-in-indonesia-government-employment-policies-deemed-patchwork-solutions
Bidoata Penulis:
M. Rizqi Zidan saat ini aktif sebagai mahasiswa di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan.