Ketika Jantung Tetap Berdetak di Dalam Batu

Yuk baca ulasan "Jantung yang Berdetak dalam Batu", antologi puisi yang menegaskan bahwa kehidupan dan kata-kata tak pernah padam di tengah kekerasan.

Oleh Abrar Bannin

Jantung yang Berdetak dalam Batu merupakan antologi puisi karya Helvy Tiana Rosa yang diterbitkan oleh Bukunesia pada tahun 2025 dan menampilkan kecenderungan tematik yang kuat tentang ketahanan hidup di tengah tekanan struktural. Judul buku ini sejak awal menghadirkan metafora sentral yang bersifat paradoksal, yakni jantung sebagai simbol kehidupan dan batu sebagai lambang kekerasan, kebekuan, serta kekuasaan yang menindas. Melalui metafora tersebut, antologi ini menegaskan bahwa kehidupan tidak pernah sepenuhnya padam, bahkan ketika berada dalam kondisi yang paling keras dan tidak manusiawi seperti yang digambarkan dalam ulasan penerbit Bukunesia: "Kisah-kisah itulah yang dihimpun oleh Helvy Tiana Rosa... yang tetap bertahan. Perang membuat Palestina tidak lenyap, tidak padam, dan terus berdetak dalam diam." Puisi-puisi di dalamnya tidak berdiri sebagai ungkapan personal semata, melainkan sebagai respons estetik terhadap realitas sosial, sejarah, dan kemanusiaan. buku ini dapat dibaca sebagai proyek sastra yang berusaha merawat denyut makna di tengah situasi yang berpotensi membatukannya. Setiap puisi bekerja sebagai bagian dari jejaring makna yang saling terhubung, bukan sebagai teks yang terpisah-pisah. Kesadaran antologis inilah yang menjadikan buku ini relevan untuk dikaji secara menyeluruh.

Buku Jantung yang Berdetak dalam Batu
Sumber: bukunesiastore.com

Sebagai antologi puisi kontemporer, Jantung yang Berdetak dalam Batu memperlihatkan kecenderungan penggunaan bahasa simbolik dan metaforis yang kuat. Bahasa dalam puisi-puisinya sering kali tidak bergerak secara langsung, melainkan menyimpang dari makna literal untuk membangun lapisan makna yang lebih dalam. Penyimpangan bahasa ini tidak dimaksudkan untuk mempersulit pembaca, tetapi justru untuk mengaktifkan pembacaan reflektif. Puisi-puisi dalam buku ini menolak berfungsi sebagai dokumentasi realitas yang datar. Sebaliknya, realitas diolah menjadi pengalaman simbolik yang mengandung ketegangan antara harapan dan tekanan—sebagaimana dipuji Agus R. Sarjono dalam ulasan Sabili.id: "Kekuatan puisi-puisi Helvy justru terletak pada penggunaan diksi dan majas yang mendalam." Dalam konteks ini, puisi menjadi ruang negosiasi antara kehidupan dan kekuasaan yang membekukan. Ketegangan tersebut menjadi ciri estetik yang konsisten di seluruh antologi.

Tema-tema yang diangkat dalam Jantung yang Berdetak dalam Batu mencakup sejarah perjuangan, pendidikan, kemanusiaan (terutama keprihatinan terhadap Palestina), penderitaan kolektif, serta perlawanan kultural yang bersifat sunyi. Beberapa puisi menghadirkan figur sejarah dan pahlawan nasional sebagai simbol keberanian kolektif, sementara puisi lain bergerak dalam ruang keseharian seperti kelas, kata, dan relasi manusia yang sederhana—termasuk kerinduan pada ibu serta penghormatan terhadap guru. Keragaman tema ini tidak menjadikan antologi kehilangan fokus, karena seluruhnya diikat oleh gagasan tentang ketahanan makna, seperti yang ditegaskan Maman S. Mahayana dalam Milenianews.com: "Puisinya adalah napas kemanusiaan yang tak jatuh pada propaganda. Diksinya sangat terjaga." Keberanian dalam buku ini tidak selalu hadir dalam bentuk heroisme fisik atau peristiwa besar. Nyali justru sering muncul dalam bentuk kesetiaan, ketekunan, dan keberanian merawat kata-kata. Antologi ini memperluas makna perlawanan dari medan sejarah ke ruang kultural sehari-hari. Puisi menjadi medium untuk menjaga agar nilai kemanusiaan tidak sepenuhnya dilenyapkan oleh sistem.

Dalam konteks kajian sastra, Jantung yang Berdetak dalam Batu menarik untuk dianalisis melalui pendekatan semiotika puisi Michael Riffaterre. Puisi-puisi dalam antologi ini menunjukkan ciri ketidaklangsungan ekspresi yang kuat, baik melalui metafora tubuh, personifikasi, maupun penyimpangan logika bahasa. Ketidaklangsungan ini menandakan bahwa makna puisi tidak dapat dipahami hanya melalui pembacaan literal. Pembacaan heuristik sering kali menemui batas ketika berhadapan dengan bahasa yang menyimpang dari konvensi sehari-hari. Pembacaan hermeneutik menjadi penting untuk mengungkap pusat makna yang tersembunyi—seperti yang dikomentari Acep Iwan Saidi dalam pengantar buku (dikutip Milenianews.com): "Helvy merawat diksinya untuk tetap menjadi metafora yang hidup (creative metaphor)." Dalam kerangka Riffaterre, puisi-puisi ini membangun matriks makna yang kemudian diwujudkan dalam berbagai model dan varian. Dengan pendekatan tersebut, antologi ini dapat dibaca sebagai sistem tanda yang koheren dan bermakna secara mendalam.

Semiotika Riffatere

Pendekatan semiotika Michael Riffaterre relevan digunakan untuk mengkaji antologi Jantung yang Berdetak dalam Batu karena puisi-puisi di dalamnya memperlihatkan ketidaklangsungan ekspresi yang kuat. Bahasa puitik yang digunakan tidak bergerak secara lugas, melainkan melalui metafora, personifikasi, dan penyimpangan logika bahasa. Ketidaklangsungan ini menyebabkan makna tidak dapat ditangkap melalui pembacaan permukaan. Banyak larik puisi tampak sederhana secara leksikal, tetapi menyimpan ketegangan makna yang lebih dalam. Hal tersebut menunjukkan bahwa puisi-puisi dalam antologi ini bekerja sebagai sistem tanda. Pendekatan yang menekankan proses pemaknaan bertahap menjadi sangat diperlukan. Teori Riffaterre memungkinkan pembacaan puisi secara lebih terstruktur dan mendalam.

Dalam konteks antologi ini, pembacaan heuristik berfungsi sebagai tahap awal untuk menangkap gambaran literal peristiwa, tokoh, dan situasi yang dihadirkan puisi. Pada tahap ini, pembaca berhadapan dengan figur sejarah, ruang kelas, kata-kata, serta situasi sosial yang tampak realistis. Namun, pembacaan heuristik segera menemui batas ketika bahasa puisi menyimpang dari fungsi referensialnya. Ungkapan-ungkapan seperti tubuh yang terus berjalan, kata-kata yang hidup, atau sejarah yang bernapas tidak dapat dipahami secara logis. Kegagalan pembacaan heuristik ini bukan kelemahan teks, melainkan ciri kepuitisan. Di sinilah puisi menolak dipahami sebagai laporan faktual. Penolakan tersebut mendorong pembaca beralih ke pembacaan hermeneutik.

Melalui pembacaan hermeneutik, puisi-puisi dalam Jantung yang Berdetak dalam Batu mulai menunjukkan kesatuan makna yang koheren. Berbagai citra yang tampak terpisah di tingkat permukaan ternyata mengarah pada pusat makna yang sama. Dalam kerangka Riffaterre, pusat makna tersebut dapat dirumuskan sebagai matriks yang bersifat implisit. Matriks ini tidak hadir secara eksplisit, tetapi terwujud melalui model-model simbolik dalam puisi. Model tersebut kemudian berkembang menjadi varian-varian berupa citraan sejarah, pendidikan, keberanian, dan kata-kata. Seluruh varian itu saling berkaitan dan memperkuat satu sama lain. Antologi ini dapat dipahami sebagai satu kesatuan semiotik, bukan kumpulan puisi yang berdiri sendiri.

Selain struktur internal teks, puisi-puisi dalam antologi ini juga berhubungan erat dengan hipogram yang melatarinya. Hipogram aktual tampak dalam rujukan terhadap sejarah perjuangan, figur pahlawan, sistem pendidikan, dan realitas sosial kontemporer. Sementara itu, hipogram potensial hadir dalam bentuk kegelisahan kolektif, pengalaman ketertindasan, dan kesadaran moral yang tidak selalu dirujuk secara eksplisit. Hubungan dengan hipogram ini memperlihatkan bahwa puisi tidak lahir dari kekosongan makna. Puisi justru berdialog dengan wacana sosial, budaya, dan historis yang lebih luas. Dalam kerangka Riffaterre, hipogram memperkaya makna tanpa menjadikannya bersifat dokumenter. Pemaknaan puisi bergerak antara teks dan konteks secara dinamis.

Nyali yang Nyalakan Negeri

Puisi "Nyali yang Nyalakan Negeri" menghadirkan sejarah perjuangan nasional sebagai pengalaman hidup yang berdenyut. Sejak larik awal, penyair tidak memosisikan sejarah sebagai narasi kaku, melainkan sebagai peristiwa yang terdengar dan dirasakan, seperti pada ungkapan “Aku mendengar langkah itu / Soedirman menembus belantara.” Figur Jenderal Soedirman digambarkan melalui kontradiksi antara tubuh dan jiwa: “Tubuhnya ringkih / tapi tiap napasnya adalah gerakan.” Kontradiksi ini menandai bahwa keberanian tidak bersumber dari kekuatan fisik semata. Bahasa puisi menggeser heroisme dari citra tubuh ideal menuju daya hidup moral. Puisi sejak awal menolak pemahaman kepahlawanan yang simplistik dan menghadirkan sejarah sebagai keteguhan yang terus bergerak dalam keterbatasan.

Pada tahap pembacaan heuristik sebagaimana diterapkan dalam kajian semiotika puisi kontemporer Indonesia (Zahabi et al., 2025) puisi ini tampak sebagai pengisahan tokoh-tokoh besar dalam sejarah Indonesia. Pembaca mengenali nama-nama seperti Soedirman, Bung Hatta, Bung Tomo, dan Agus Salim sebagai pahlawan nasional. Rujukan terhadap perjuangan fisik, diplomasi, dan perlawanan bersenjata mudah ditangkap secara literal. Namun, pembacaan ini segera menemui batas ketika bahasa puisi tidak lagi tunduk pada logika referensial. Ungkapan “memanggul negeri ini, / dengan tulang-tulang yang hampir patah” tidak mungkin dipahami secara harfiah, negeri tidak dapat dipanggul oleh tubuh manusia. Ketidakmungkinan ini menandai adanya ketidaklangsungan ekspresi yang menjadi sinyal utama puisi sebagai sistem tanda.

Dari sini, kegagalan pembacaan heuristik membuka jalan bagi pembacaan hermeneutik yang retroaktif dan interpretatif (Perdani, 2025). Tubuh Soedirman berfungsi sebagai tanda simbolik, bukan sekadar tubuh biologis “napas” dan “gerakan” menjadi metafora keberanian yang terus hidup meskipun dalam kondisi rapuh. Figur Bung Hatta pun digambarkan melalui metafora laut dan bahasa: “mengukir dermaga di atas badai” serta “kemerdekaan adalah layar yang harus dibentangkan.” Metafora-metafora ini memindahkan perjuangan dari medan fisik ke ranah intelektual dan diplomatik, menegaskan bahwa perjuangan adalah kemampuan menavigasi kekacauan global. Puisi memaknai sejarah sebagai praktik keberanian yang beragam dan tidak dapat direduksi pada satu bentuk tindakan saja.

Matriks puisi ini adalah nyali sebagai daya hidup kolektif bangsa yang tidak disebutkan secara eksplisit, tetapi dimaterialkan melalui berbagai model simbolik (Zahabi et al., 2025). Model-model tersebut tampak pada citra tubuh rapuh (Soedirman), pena yang mengukir (Bung Hatta), suara yang membakar (Bung Tomo: “Ia menyalakan kota, / mesiu, besi, api! / Surabaya menjelma bara”), serta tatapan diplomatik yang memahat marwah (Agus Salim: “Ia memahat marwah bangsa, / di wajah dunia yang penuh tipu”). Model-model ini kemudian melahirkan varian-varian keberanian yang berbeda—fisik, intelektual, oratoris, dan moral namun, seluruh varian tetap mengacu pada satu pusat makna yang sama: energi kolektif yang menolak padam.

Selain struktur internal, puisi ini juga bekerja melalui hipogram historis yang kuat (Perdani, 2025). Hipogram aktualnya adalah narasi sejarah perjuangan Indonesia—perang gerilya Soedirman, diplomasi Bung Hatta dan Agus Salim di forum internasional, serta pertempuran 10 November 1945 yang dibakar semangat Bung Tomo. Namun, puisi tidak sekadar mengulang fakta sejarah, melainkan mengolahnya menjadi simbol hidup: “menyuarakan nama yang baru saja lahir: / Indonesia!” Hipogram potensial muncul dalam kesadaran kolektif tentang pengorbanan dan harga kemerdekaan, yang tetap relevan dengan isu nasionalisme masa kini, seperti tantangan menjaga persatuan di tengah polarisasi politik dan globalisasi. Puisi menghubungkan darah, bumi, dan kelahiran generasi baru sebagai satu rangkaian makna abadi, sehingga sejarah tidak dibekukan, melainkan diaktifkan kembali.

Pada bagian penutup, puisi secara eksplisit menghubungkan masa lalu dengan masa kini melalui larik “Aku, kau, kita semua, / dilahirkan dari darah mereka / yang meresap ke dasar bumi” serta “Maka jangan pernah lupakan: / mereka berdiri, / agar kita bisa berlari.” Relasi genealogis ini menegaskan bahwa sejarah bukan milik tokoh besar semata, melainkan warisan kolektif yang memberi ruang gerak bagi generasi sekarang (Zahabi et al., 2025). Dalam konteks antologi Jantung yang Berdetak dalam Batu, puisi ini menjadi simbol jantung yang terus berdetak di tengah kerasnya sejarah—batu tekanan kolonial dan perjuangan tidak mematikan kehidupan, justru memicu denyut nyali yang berkelanjutan. Di sinilah puisi menemukan daya etis dan reflektifnya yang paling kuat.

Guru yang Menanam Kata-Kata

Puisi Guru yang Menanam Kata-Kata menghadirkan bentuk keberanian yang berbeda dari puisi sebelumnya. Jika Nyali yang Nyalakan Negeri menampilkan keberanian dalam ruang sejarah dan perjuangan nasional, puisi ini bergerak dalam ruang pendidikan dan keseharian. Tokoh guru sastra diposisikan sebagai figur yang berjuang di medan yang sunyi dan kurang heroik. Bahasa puisi menampilkan ruang kelas sebagai ruang yang penuh keterbatasan dan kelelahan. Kata-kata yang diajarkan tidak selalu menemukan gema pada para siswa. Namun, kegagalan tersebut tidak memadamkan hasrat tokoh untuk terus berbicara. Puisi ini menempatkan pendidikan sebagai arena perlawanan kultural.

Pada tahap pembacaan heuristik, puisi ini menggambarkan aktivitas seorang guru sastra di dalam kelas. Pembaca menemukan situasi pembelajaran yang stagnan, siswa yang acuh, serta kurikulum yang membatasi. Bahasa yang digunakan relatif dekat dengan realitas sehari-hari pendidikan formal. Namun, pembacaan literal ini segera menemui hambatan ketika kata-kata diperlakukan sebagai tubuh yang berjalan. Ungkapan “kata-kata bukan hanya tinta / tapi tubuh yang terus berjalan” tidak dapat dipahami secara referensial. Kata tidak memiliki tubuh secara biologis. Ketidakmungkinan ini menandai ketidaklangsungan ekspresi dalam puisi.

Kegagalan pembacaan heuristik mengarahkan pembaca pada pembacaan hermeneutik. Dalam pembacaan ini, kata-kata dipahami sebagai entitas hidup yang membawa makna dan nilai. Guru tidak sekadar mengajarkan materi, tetapi menghidupkan pengalaman estetik dan kemanusiaan. Metafora “gelas penuh air yang tak pernah tumpah” mengisyaratkan ketekunan dan kesabaran tokoh. Meski lingkungan kelas tidak merespons, tokoh tetap menjaga keutuhan makna yang ia bawa. Puisi memaknai pengajaran sebagai tindakan menjaga kehidupan bahasa. Keberanian guru terletak pada keteguhan merawat makna.

Dalam kerangka semiotika Riffaterre, matriks puisi ini adalah keyakinan bahwa kata-kata memiliki kehidupan sendiri. Matriks tersebut tidak hadir secara eksplisit, tetapi termanifestasi melalui model-model simbolik seperti tubuh, air, suara, dan peran. Model ini kemudian berkembang menjadi varian-varian berupa puisi, prosa, dan drama yang diajarkan di kelas. Setiap varian memperlihatkan upaya tokoh untuk menghidupkan sastra di tengah sistem yang mekanistik. Namun, varian-varian tersebut berulang kali mengalami kegagalan. Kegagalan ini tidak menghapus matriks, justru menegaskannya. Makna hidup kata-kata tetap bertahan meskipun tidak segera diterima.

Puisi ini juga mengaktifkan hipogram yang berkaitan dengan realitas pendidikan modern. Hipogram aktualnya adalah praktik pendidikan formal yang berorientasi pada ujian, hafalan, dan pilihan ganda. Hal ini tampak dalam larik yang menggambarkan prosa sebagai “jalur singkat menuju pilihan ganda.” Hipogram potensial hadir dalam kegelisahan kultural terhadap hilangnya pengalaman estetik dalam pendidikan. Sastra dipinggirkan menjadi materi, bukan pengalaman hidup. Dengan menghadirkan hipogram ini, puisi bersifat kritis terhadap sistem. Kritik tersebut tidak disampaikan secara retoris, melainkan melalui simbol dan citra.

Pada bagian akhir, puisi memperluas ruang makna dari kelas ke dunia luar. Kata-kata tidak lagi dibatasi oleh kurikulum dan ruang belajar formal. Puisi menggantung di ranting pohon, prosa mengalir di sungai, dan drama melintasi belantara. Citra-citra ini menandai kebebasan makna yang tidak bisa sepenuhnya dikontrol oleh sistem. Tokoh guru menyadari bahwa tidak semua kata langsung menemukan pendengar. Namun, keyakinan bahwa “kata-kata selalu hidup / di tempat-tempat tak terduga” menjadi penegasan etis puisi. Dalam konteks antologi, puisi ini menghadirkan denyut jantung kultural yang sunyi namun berkelanjutan.

Simpulan

Jantung yang Berdetak dalam Batu menegaskan posisi puisi sebagai ruang perlawanan simbolik terhadap berbagai bentuk kekerasan struktural. Melalui metafora jantung dan batu, Helvy Tiana Rosa menghadirkan kehidupan sebagai daya yang terus berdenyut meskipun berada dalam tekanan sejarah, politik, dan sistem sosial yang membatu. Kajian semiotika Michael Riffaterre menunjukkan bahwa makna puisi-puisi dalam antologi ini tidak hadir secara langsung, melainkan melalui ketidaklangsungan ekspresi yang mengharuskan pembacaan bertahap. Puisi Nyali yang Nyalakan Negeri merepresentasikan keberanian historis dan kolektif, sementara Guru yang Menanam Kata-Kata menghadirkan keberanian kultural yang sunyi dan berjangka panjang. Kedua puisi tersebut memperlihatkan bahwa nyali tidak hanya hadir dalam peristiwa besar, tetapi juga dalam kerja keseharian merawat makna. Antologi ini tidak sekadar merekam penderitaan, melainkan mengafirmasi daya hidup manusia. Jantung yang Berdetak dalam Batu akhirnya menjadi simbol ketahanan makna yang terus bergerak, meskipun dunia berusaha membekukannya.

Sumber:

  1. Rosa, H. T. (2025). Jantung yang berdetak dalam batu. 
  2. Perdani, L. F. (2025). Ketidaklangsungan ekspresi dalam antologi puisi berjudul Aku Lelakimu Setia Menunggumu karya Kang Maman [Unpublished raw data or journal article, assumed from IMBAYA context]. (Digunakan sebagai contoh penerapan semiotika Riffaterre pada antologi puisi kontemporer).
  3. Zahabi, A. A., Kadir, H., & Irawati, W. O. (2025). Makna dalam puisi “Menulis Syair Untuk Presiden Episode Pertama dan Episode Kedua” karya Pulo Lasman Simanjuntak: Kajian semiotik Michael Riffaterre. Kopula: Jurnal Bahasa, Sastra dan Pendidikan, 7(2), 646–655.
  4. Ayu, N. (2023). Pembacaan semiotik puisi dengan pendekatan Michael Riffaterre. Jurnal Ilmu Sastra, 18(2), 646–655.

Biodata Penulis:

Abrar Bannin saat ini aktif sebagai Mahasiswa Sastra Indonesia di Universitas Negeri Jakarta.

© Sepenuhnya. All rights reserved.