Ketika OTW Tak Lagi Berarti Berangkat

Yuk berhenti menganggap OTW sebagai basa-basi, dan mulai memaknainya sebagai komitmen menghargai waktu.

Oleh Nahdia Aisyah Rasyanti

“OTW” mungkin jadi salah satu kata paling akrab dalam percakapan sehari-hari. Singkat, praktis, dan terdengar meyakinkan. Begitu kata itu muncul di layar ponsel, rasanya seperti mendapat kepastian bahwa orang yang ditunggu sudah berangkat dan tinggal menghitung menit sampai tiba. Aku pun sering berpikir begitu. Namun, seiring waktu dan pengalaman, aku mulai sadar bahwa OTW tidak selalu berarti perjalanan benar-benar sudah dimulai. Justru, dalam banyak kasus, OTW menjadi awal dari penantian yang cukup panjang.

Ketika OTW Tak Lagi Berarti Berangkat

Fenomena ini terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sudah bersiap, sudah sampai di lokasi, bahkan sudah memesan minuman atau makanan, tapi orang yang bilang OTW belum juga datang. Chat singkat itu seolah berfungsi sebagai janji kecil yang menenangkan, meski kenyataannya sering kali masih jauh dari yang dibayangkan. Dari situlah OTW perlahan kehilangan makna aslinya.

Makna OTW yang Semakin Fleksibel

OTW adalah singkatan dari on the way, yang berarti sedang dalam perjalanan. Namun dalam kenyataannya, makna tersebut semakin melebar. OTW bisa berarti baru bangun tidur, masih mandi, masih memilih pakaian, atau bahkan masih rebahan sambil scroll media sosial. Kata ini tidak lagi menunjuk pada pergerakan fisik, melainkan sekadar niat untuk datang, entah kapan benar-benar terwujud.

Kenapa OTW Palsu Begitu Mudah Terucap

Kebiasaan mengatakan OTW padahal belum siap jarang muncul karena niat buruk. Lebih sering karena dari rasa sungkan. Mengaku belum siap atau akan terlambat terasa lebih berat dibanding mengirim satu kata singkat yang terdengar bertanggung jawab. OTW menjadi jalan tengah yang dianggap paling aman.

Selain itu, banyak orang terlalu optimis dalam memperkirakan waktu. Merasa bisa bersiap dengan cepat, padahal selalu ada hal-hal kecil yang membuat proses menjadi lebih lama. Aku pun pernah berada di posisi itu—meyakinkan diri bahwa semua bisa selesai dalam beberapa menit, lalu akhirnya terlambat. Dari sini, OTW palsu terbentuk dari kombinasi rasa tidak enak dan kesalahan perhitungan waktu, bukan semata-mata karena malas atau tidak peduli.

Dampak Kecil yang Tidak Selalu Sepele

Di balik satu kata OTW, selalu ada orang lain yang menunggu. Menunggu sambil menahan kesal, membuang waktu, dan kadang merasa tidak terlalu dihargai. Aku pernah datang tepat waktu, duduk sendiri cukup lama, sambil berkali-kali melihat jam dan ponsel, berharap ada kabar yang lebih pasti.

Kebiasaan ini memang sering dianggap sepele, tapi perlahan memengaruhi cara kita memandang janji. Ketepatan waktu menjadi relatif, dan menunggu dianggap hal biasa. Padahal, bagi yang menunggu, waktu yang terbuang tetap terasa melelahkan, meski jarang diungkapkan secara langsung.

Belajar Lebih Jujur soal Waktu

OTW seharusnya kembali pada makna awalnya: benar-benar sedang di perjalanan. Jika memang belum siap, mengatakan kondisi sebenarnya justru lebih menghargai daripada memberi harapan setengah-setengah. Kejujuran soal waktu sering membuat suasana lebih ringan dan mengurangi rasa kesal di kemudian hari.

Menghargai waktu orang lain adalah bentuk empati paling sederhana. Bukan soal datang paling cepat, melainkan soal menepati janji dengan jujur. Karena pada akhirnya, satu kata OTW bisa mencerminkan cara kita menghargai waktu—baik waktu sendiri maupun waktu orang lain.

Biodata Penulis:

Nahdia Aisyah Rasyanti saat ini aktif sebagai mahasiswa, Jurusan Pendidikan Ekonomi, di Universitas Sebelas Maret.

© Sepenuhnya. All rights reserved.