Oleh Paizal Fikri
Di era modern sekarang, peran perempuan dalam dunia geopolitik benar-benar sudah tidak bisa lagi dianggap sebelah mata. Jika dahulu panggung politik internasional lebih banyak dipenuhi dan dipimpin oleh laki-laki, kini perempuan mulai muncul sebagai sosok yang mampu memberikan pengaruh besar. Mereka hadir sebagai pemimpin negara, diplomat, negosiator perdamaian, penasihat kebijakan, dan berbagai posisi strategis lain yang berperan dalam menentukan arah dunia. Perubahan ini tentu tidak terjadi begitu saja, ada perjalanan panjang di baliknya yang menunjukkan bahwa perempuan memiliki kapasitas yang sama kuatnya dalam menghadapi persoalan global.
Salah satu aspek yang menjadikan kehadiran perempuan menarik dalam geopolitik adalah gaya kepemimpinan mereka yang sangat berbeda dari kebanyakan laki-laki. Banyak perempuan dikenal lebih kreatif dalam mencari solusi, lebih inovatif dalam menyusun strategi, dan lebih stabil secara emosional saat menghadapi tekanan tinggi. Dalam situasi geopolitik yang sarat konflik dan kepentingan, kemampuan untuk tetap tenang serta berpikir jernih sangatlah penting. Pendekatan kepemimpinan yang lebih lembut namun tegas seperti ini sering kali lebih efektif daripada gaya konfrontatif yang mengedepankan kekuasaan. Dengan cara tersebut, perempuan mampu menyelesaikan persoalan tanpa menciptakan gesekan baru.
Selain itu, perempuan biasanya memiliki sudut pandang yang lebih luas dan lebih sensitif terhadap isu kemanusiaan. Ketika membahas keamanan, misalnya, sebagian besar laki-laki sering mengaitkannya dengan kekuatan militer, pertahanan fisik, atau strategi perang. Namun perempuan cenderung melihat keamanan dari perspektif yang lebih menyeluruh. Bagi mereka, keamanan juga mencakup pendidikan yang baik, layanan kesehatan yang layak, ekonomi yang stabil, serta perlindungan bagi kelompok rentan. Pendekatan ini sejalan dengan konsep human security yang kini semakin dibutuhkan dalam era global yang penuh ketidakpastian.
Menariknya, banyak perempuan yang terjun ke dunia geopolitik berasal dari latar belakang aktivisme, kemanusiaan, dan organisasi masyarakat. Pengalaman mereka menangani isu sosial secara langsung membuat mereka memahami dampak nyata dari konflik dan ketidakstabilan politik. Ketika mereka akhirnya masuk ke panggung global, suara mereka membawa perspektif berbeda yang belum tentu muncul dari pemimpin laki-laki. Mereka tidak hanya hadir sebagai simbol, tetapi sebagai agen perubahan yang mendorong dunia menuju kebijakan yang lebih adil dan manusiawi.
Meskipun demikian, perempuan tetap menghadapi berbagai hambatan besar. Patriarki masih kuat dalam banyak sistem politik, sehingga perempuan sering dianggap kurang cocok untuk memegang jabatan strategis. Stereotip seperti “perempuan terlalu emosional” atau “tidak sanggup mengambil keputusan berat” masih saja muncul, bahkan di negara yang dianggap maju. Selain itu, kurangnya dukungan, keterbatasan akses ke jaringan politik, serta bias gender dalam proses pemilihan pemimpin membuat perjalanan perempuan menjadi lebih sulit dibanding laki-laki.
Namun justru karena hambatan itulah kontribusi perempuan semakin terlihat menonjol. Ketika mereka berhasil menembus batasan tersebut, dunia akhirnya menyadari bahwa perempuan memiliki potensi besar yang selama ini tertutupi. Banyak contoh perempuan yang sukses memimpin negara dalam masa krisis, menyelesaikan konflik melalui jalur diplomasi, atau membawa perubahan signifikan dalam hubungan internasional. Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa keterlibatan perempuan dalam proses perdamaian membuat hasilnya lebih tahan lama dan lebih stabil, karena mereka membawa pendekatan yang lebih memperhatikan kemanusiaan.
Kehadiran perempuan dalam geopolitik juga memberikan keseimbangan baru dalam dinamika global. Dunia tidak bisa selamanya bergerak dengan pola lama yang hanya mengandalkan kekuatan militer dan pendekatan agresif. Tantangan modern seperti perubahan iklim, kesenjangan ekonomi, migrasi, dan konflik kemanusiaan membutuhkan pemikiran baru yang lebih inklusif. Perempuan sering menghadirkan perspektif jangka panjang, penuh empati, dan fokus pada solusi yang berkelanjutan. Inilah alasan mengapa keterlibatan perempuan bukan hanya sekadar pelengkap, tetapi merupakan hal penting untuk menciptakan stabilitas global.
Menurut pandangan saya, semakin banyak perempuan yang terlibat dalam geopolitik, semakin besar peluang dunia menjadi lebih stabil, seimbang, dan damai. Perempuan bukan hanya penambah jumlah dalam struktur politik, tetapi aset penting yang membawa warna baru serta memperkaya proses pengambilan keputusan. Dunia modern memerlukan lebih banyak suara perempuan, lebih banyak pemimpin yang mampu menggabungkan ketegasan dengan empati, serta lebih banyak sudut pandang yang beragam agar keputusan politik yang diambil tidak hanya menguntungkan satu kelompok saja.
Saya berharap ke depan perempuan semakin diberi ruang untuk berperan aktif tanpa harus terhambat oleh stereotip atau bias gender. Bukan karena mereka ingin diperlakukan istimewa, tetapi karena mereka mempunyai kemampuan, kualitas, dan kekuatan yang setara dengan laki-laki. Ketika perempuan diberi kesempatan yang sama, dunia geopolitik akan menjadi lebih lengkap, lebih inklusif, dan lebih manusiawi. Perempuan memiliki potensi besar sebagai penggerak perubahan yang mampu membawa dunia menuju masa depan yang lebih seimbang dan penuh harapan.