Oleh Muti’ah Azzahra
Bagi setiap mahasiswa termasuk aku kisah cinta segitiga tidak harus ada dalam urusan hati saja, tapi bisa dalam urusan yang lebih kompleks: hubungan antara tugas, organisasi, dan kasur kos. Jika kita lihat secara sekilas ini hanya tampak pernyataan yang sederhana, namun jika sudah terlibat akan menimbulkan masalah dalam hati ataupun kepala.
Pagi hariku selalu disambut dengan semangat yang membara dengan melakukan afeksi “hari ini aku akan produktif, tidak bermalas-malasan di kasur saja!” Tapi pada kenyataannya untuk bangkit dari kasur saja da mengambil air wudhu aku sangat malas dan mengatakan “sebentar 5 menit lagi kok”, kasur masih menggoda, dan bantal seolah memberikan pijatan yang nyaman di kepala. Lalu tidak terasa menunda dan akhirnya datang ke kampus hampir saja telat. Tapi, kabar mengejutkan datang dari pesan WhatsApp grup yang isinya “nanti kumpul dulu ya, kita bahas proker untuk acara marketday”, seketika dalam hati langsung menjerit pelan. Baru saja kemarin begadang demi menyelesaikan tugas makalah dan soal yang lain, harus di-double lemburnya demi menyusun rundown acara, rasanya waktu kurang jika hanya 24 jam saja.
Prioritas Selama Menjalani Kehidupan Mahasiswa
Menurutku, tugas, organisasi, dan kasur kos mereka seperti tiga kutub magnet yang saling tarik menarik. Secara tidak langsung tugas menuntut tanggung jawab akademik, organisasi menuntut loyalitas terhadap lingkungan dan profesionalisme, serta kasur kos menuntut hak dasarku sebagai individu: istirahat.
Masalahnya tuntutanku tidak bisa selamanya sesuai dengan rumus yang kubuat dan seimbang. Kalau aku terlalu sibuk terhadap tugas, maka organisasiku terbengkalai, terlalu aktif di organisasi dan lupa waktu untuk mengerjakan tugas nilai kuliahku bisa merosot, dan jika aku terlalu lama di kasur, semuanya akan berantakan.
Dari situ semua aku belajar arti “prioritas”. Memang, menunda mengerjakan tugas sangat menggoda, namun cemas yang membelenggu di tengah malam sangat tidak enak, mengabaikan organisasi juga tidak bagus, karena di sana kita belajar secara sosial bagaimana bertanggung jawab dan kerjasama. Namun, mengabaikan istirahat juga tidak bagus karena bisa membunuh kita secara perlahan, makannya tidak perlu sempurna tapi cukup untuk diri sendiri.
Mahasiswa Sibuk, Badan Menjerit
Terkadang aku sendiri merasa lucu dengan ucapan orang yang mengatakan bahwa sibuk adalah lambang kesuksesan, walaupun dengan 24/7 selalu menomor duakan istirahat, demi tanggung jawab nyata di depan mata. Padahal badan kita sendiri sudah berteriak meminta istirahat yang cukup agar kita tidak sakit dan posisi pikiran juga sudah penuh. Kadang sering lupa bahwa istirahat bukan diluangkan atau sekedar kemewahan, tapi itu semua adalah kebutuhan dan kita sendiri yang harus meluangkan waktu. Bahkan kasur kos bisa menjadi tempat yang sangat mewah saat kita sedang kelelahan.
Tak sedikit juga dari beberapa mahasiswa yang terjebak di dalam perfeksionis lingkungan, ibaratnya semua harus selesai tepat waktu, semua harus sempurna, semua harus ikut tampil, tapi karena itu semua justru mereka kadang seperti kehilangan kendali atas diri sendiri. Membuat jam istirahat berantakan, bahkan hanya bisa tidur 3 jam setiap harinya, yang membuat tubuh tidak semangat, melainkan kelelahan secara fisik maupun emosional dan mempengaruhi aktivitas hari menjadi terasa berat.
Padahal menurutku, menjalani kehidupan sebagai mahasiswa tidak harus sesempurna itu loh. Tidak menghadiri acara rutin rapat di organisasi saat tau kita kelelahan bukan menjadi dosa bagi kita, tidur lebih awal juga bukan tindakan yang salah, karena saat kita bisa tidur dengan cukup saat kita bangun nanti tubuh kita bisa jadi lebih segar dan jernih, dan otak kita bisa menerima masukan atau materi yang disampaikan.
Kalimat Afeksi untuk Menghindari Kelelahan Hidup
Mungkin, kisah cinta ini akan selalu membuat dampak dan tidak pernah berakhir. Ketiganya akan selalu hadir, tetapi jika kita bisa saja membuat skala prioritas yang benar, maka kisah ini tidak selamanya menjadi buruk. Dan satu hal yang pasti: kita bisa mencintai ketiganya dengan lebih sehat, dengan cara mengatur waktu sebaik mungkin.
Dan pada akhirnya kehidupan sebagai mahasiswa ini tidak terlihat dari siapa yang paling sibuk, tapi siapa yang paling bijak mengatur waktu bagi dirinya sendiri. Karena saat kita merasa tertekan, kasur kos kita bukan sebagai musuh, melainkan sebagai sahabat setia yang mengingatkan bahwa produktivitas kita tidak selamanya berotasi pada menjalani semua kegiatan, tapi juga produktivitas beristirahat.
Jadi, aku sebagai mahasiswi pejuang masa depan, menyampaikan satu pesan kepada kita semua: jangan lupa tidur ya! Dunia juga tidak akan menjadi runtuh saat kita memilih untuk mengistirahatkan badan kita. Dan saat kita memiliki waktu istirahat yang cukup, tugas bisa selesai dengan baik, organisasi terasa lebih menyenangkan, dan kasur akan menjadi teman yang menyambutmu kembali dengan hangat.