Oleh Zuni Nurmalita Sari
Sebagai mahasiswa baru semester satu, aku sebenarnya bukan tipe pecinta kopi. Tapi entah sejak kapan, aroma biji kopi di coffee shop belakang kampus mulai terasa seperti panggilan. Semacam magnet tak terlihat yang menarikku secara paksa untuk duduk, membuka laptop, dan berpura-pura produktif tanpa melakukan apa-apa.
Lucunya, aku mahasiswa ekonomi. Aku belajar tentang inflasi, kenaikan harga barang, perubahan daya beli, dan segala teori yang membuatku paham bahwa angka-angka di hidup manusia tidak pernah berdiri sendiri. Namun pemahaman itu tidak otomatis membuatku kebal dari godaan: segelas kopi 30 ribu yang berhasil menemukan jalannya ke meja belajarku.
Setiap minggu, minimal sekali, aku menyempatkan diri mampir ke kafe dengan dalih “biar fokus nugas”. Alasan sebenarnya mungkin karena rasanya ada yang kurang kalau mengerjakan tugas tanpa ditemani aroma kopi yang entah kenapa mendukung produktivitas.
Padahal, kalau dinalar pakai teori ekonomi, pengeluaranku ini jelas tidak rasional. Inflasi sedang tinggi. Harga kebutuhan pokok naik. Ongkos hidup mahasiswa makin terasa mencekik di akhir bulan. Tapi anehnya, kopi 30 ribu tetap laku bahkan semakin laris.
Lalu aku sadar, fenomena ini bukan cuma tentangku. Antrian mahasiswa di coffee shop sering kali lebih panjang daripada antrian konsultasi akademik. Bahkan ada yang rela mengurangi jatah makan siang demi satu cup kopi favoritnya.
Kenapa bisa seperti itu?
Bagi anak kampus, kopi bukan sekadar minuman, tetapi merupakan tempat kita melarikan diri dari penatnya materi kuliah, dari deadline yang tiba-tiba muncul, dari rasa takut tidak cukup baik di semester pertama. Kafe menjadi mini sanctuary, tempat dimana suara mesin espresso dan denting gelas terasa lebih masuk akal daripada grafik ekonomi yang naik turun tanpa ampun.
Inflasi boleh naik, tapi kebutuhan mahasiswa terhadap ruang yaman dan ketenangan juga ikut naik. Dan terkadang ruang nyaman itu dijual dalam bentuk segelas kopi.
Dalam diam, aku menertawakan diriku sendiri. Mahasiswa ekonomi yang paham teori konsumsi rasional, tapi tetap membeli kopi tanpa menghitung cost-benefit secara mendalam. Tapi bukankah itu juga bagian dari menjadi manusia? Kita tidak selalu hidup mengikuti kemana arah grafik membawa kita. Ada kebutuhan emosional yang tidak bisa didefiniskan oleh kurva permintaan.
Kopi 30 ribu mungkin tidak logis secara ekonomi, tapi sangat begitu logis secara psikologi.
Pada akhirnya, aku belajar bahwa inflasi bukan hanya tentang angka yang naik. Setidaknya untuk sekarang, stabilitas itu wujudnya adalah segelas kopi yang kubeli tiap akhir pekan. Mungkin mahal, tapi rasanya cukup untuk membantuku bertahan menjalani semester satu yang penuh kejutan.
Biodata Penulis:
Zuni Nurmalita Sari, lahir pada tanggal 20 Juni 2007 di Pati, saat ini aktif sebagai mahasiswa di Universitas Sebelas Maret.